Home OPINI Iman Katolik masuk Indonesia dengan susah payah

Iman Katolik masuk Indonesia dengan susah payah

0

Sujoko

Pastor Albertus Sujoko MSC

Belajar sejarah masuknya iman Katolik ke Indonesia membuat saya kagum akan para misionaris perintis. Mereka mengalami banyak sekali rintangan dan kesulitan. Namun hasilnya, sekarang kita dapat merasakan perkembangan orang Katolik di Indonesia. Kalau mau berandai-andai, kita bisa bertanya, mengapa iman Kristiani yang sudah lebih dulu lahir di daerah Timur Tengah datang ke Indonesia sangat kemudian daripada Islam? Mengapa juga iman Katolik, yang sama-sama dari Belanda dengan iman Protestan, masuk ke Indonesia setelah Protestan? Semua itu membuat Gereja Katolik menjadi minoritas di Indonesia dibandingkan umat Islam dan umat Protestan. Fakta itu tentu ada latar belakang sejarahnya.

Agama Islam datang langsung dari Timur Tengah ke Indonesia dan sudah mempunyai pengikutnya sebelum pedagang Portugis dan VOC Belanda datang. Memang sebagai data sejarah, iman Kristiani pernah ada di Barus Sumatra Barat di abad ke-7 dan pembaptisan pertama di Ternate oleh pedagang Portugis bernama Gonsalo Veloso tahun 1534. Namun semuanya itu tidak ada kesinambungan. Lain dengan kehadiran Agama Islam yang sejak pertama datang terus dipelihara oleh para pengikutnya.

Orang bilang, iman Katolik itu datang ke Indonesia memutar dulu ke Belanda. Yesus lahir di Betlehem, tanah Yudea, sebagai orang Asia, lalu pergi ke Eropa dan datang ke Indonesia sebagai orang asing. Saya ingat waktu masih kecil di kampungku di Jawa Tengah. Saat itu, kalau ada orang mau masuk Katolik akan ditanya, “Kowe arep dadi Londo?” (Kamu mau jadi orang Belanda?). Mereka hanya tahu bahwa agama Katolik adalah agama orang Belanda.

Menurut buku sejarah yang saya baca, Pastor Jacobus Nelissen Pr, yang datang ke Batavia sebagai prefek apostolik di tahun 1808 dalam usia 50 tahun, hanya sembilan tahun berkarya. Dia meninggal di Batavia karena sakit tanggal 6 Desember 1817. Jabatannya sebagai prefek apostolik diganti oleh Pastor Lambertus Prinsen Pr, yang waktu datang ke Batavia berusia 29 tahun. Saat diangkat menjadi prefek apostolik usianya baru 38 tahun dan berada di Semarang sebagai stasi dari Batavia. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya 1830, Mgr Prinsen mengundurkan diri karena sakit. Kalau dihitung, usianya baru 51 tahun. Sekarang, imam berusia 51 tahun baru ditahbiskan menjadi uskup, sedangkan Mgr Lambertus Prinsen Pr berhenti sebagai uskup (prefek apostolik waktu itu) dalam usia 51 tahun,  karena sakit.

Awalnya yang bisa datang ke Indonesia hanya Pastor Praja (diosesan) Belanda yang mendapatkan surat izin (het radicaal) dari Pemerintah Kolonial. Mereka adalah pastor praja yang berwarganegara Belanda yang mendapat gaji dari pemerintah dan diutus hanya untuk melayani kebutuhan rohani orang Katolik Belanda dan Eropa. Pemerintah Belanda juga berhak menempatkan dan memindahkan klerus. Jadi penempatan klerus tidak menjadi wewenang prefektur apostolik, seperti seharusnya. Apalagi pemerintahan kolonial Belanda yang beragama Protestan memang tidak senang dengan kegiatan misionaris Katolik, sehingga dilakukan banyak pembatasan. Pembatasan itu , antara lain, misionaris Katolik tidak boleh mewartakan Injil di daerah yang sudah Kristen, seperti di Minahasa.

Pemerintah Belanda berpikiran sama dengan penjajah Jepang. Dengan motivasi berbeda, mereka berpikir bahwa pemerintah berhak mengatur pengangkatan dan penempatan uskup dan pastor. Penjajah Jepang memang tidak mengenal agama Katolik, sedangkan Pemerintah Belanda sangat mengenal agama Katolik tapi membencinya.

Fakta ini bisa menjadi pembelajaran yang baik tentang hubungan antara Pemerintah (negara) dan agama. Pemerintah tidak boleh mencampuri agama, dan agama juga tidak boleh mencampuri tugas pemerintah. Sekarang ini orang-orang masih berjuang untuk mendirikan negara agama. Bagi mereka hubungan antara agama dan negara (pemerintahan negara) belum jelas. Terlebih menjelang pilkada, isu agama akan dimanfaatkan sebagai kendaraan politik untuk mencapai kemenangan.

Ketika Pastor Nelissen dan Prinsen datang ke Batavia tahun 1808 mereka menemukan semangat orang Katolik Eropa di Batavia yang acuh tak acuh terhadap agama. Karena sulit menemukan dan mengembangkan iman, maka selama tahun 1808 mereka berdua hanya bisa membaptis 14 orang, yakni satu orang dewasa dari Eropa Timur, delapan anak hasil hubungan gelap, dan lima anak dari orangtua yang status perkawinannya sah. Hal itu menunjukkan betapa parahnya iman di Batavia. Kalau Batavia seperti itu, apalagi daerah lain.

Iman Katolik di Indonesia memang tumbuh dengan susah payah. Kesehatan para perintis cepat rusak karena terlalu banyak kerja, disertai iklim tropis yang sangat panas untuk tubuh Eropa mereka, dan makanan seadanya. Kesulitan mereka bertambah karena jumlah tenaga sangat sedikit, daerah yang sangat luas, dan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda.

Karel Steenbrink menyebutkan “kasus Grooff” ketika menjelaskan kasus Jan de Vries membaptis banyak orang di Minahasa dan menimbulkan kemarahan pada Gubernur Jenderal Mijer, sehingga Uskup Vrancken tidak berani lagi meminta izin tourne bagi imamnya untuk mengunjungi Indonesia Timur termasuk Minahasa. Kasusnya sangat menarik untuk disimak karena masalahnya adalah campur tangan pemerintah Belanda atas kewenangan Gereja Katolik.

Mgr Jacobus Gooff adalah Vikaris Apostolik Batavia yang pertama. Tiga pemimpin sebelumnya disebut prefek apostolik (Nellisen, Prinsen dan Scholten). Mereka sudah tahu aturan main bermisi di Hindia Belanda, yaitu harus mempunyai het radicaal dari pemerintah Belanda, semua misionaris mendapat gaji dari pemerintah, dan pemerintah berhak mengatur penempatan para klerus.

Mgr Grooff Pr sebelumnya adalah uskup di Suriname dan diangkat menjadi vikaris apostolik di Batavia. Ia datang tanggal 21 April 1845 bersama empat pastor pembantunya yang tidak memegang het radicaal. Inilah alasan utama perselisihan Mgr Grooff dengan Gubernur Jendral Jan Jacob Rochusen yang dikenal dengan “skandal Grooff”. Yang lebih parah lagi, Mgr Grooff berfikir seperti di Suriname bahwa uskup mempunyai hak penuh untuk mengatur penempatan para imamnya dan juga bisa menjatuhkan suspensi bila perlu, seperti memang demikian berlaku dalam Gereja Katolik.

Sementara itu pihak gubernur jenderal merasa memegang kekuasaan tertinggi di wilayah jajahan dan bisa mengatur para misionaris juga. Contoh kasus, ketika Mgr Grooff menjatuhkan suspensi kepada seorang imam, gubernur jenderal mau tahu alasan suspensi itu. Uskup menolak memberitahu alasannya karena hal itu adalah hak uskup. Gubernur Jenderal merasa sikap Mgr Grooff itu membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Maka diusirlah Mgr Grooff bersama para imam pembantunya tanggal 3 Februari 1946, selang satu tahun saja dari kedatangannya di Batavia. Mgr Grooff sebenarnya diangkat menjadi Vikaris Batavia tahun 1842, namun baru bisa datang tahun 1845.

Berita pengusiran Mgr Grooff terdengar oleh umat Katolik di Belanda yang sedang mengalami toleransi hidup beragama dari Raja William II. Mereka segera menyiapkan aksi dan melancarkan protes, serta  mengadakan penyambutan besar-besaran terhadap kedatangan Mgr Grooff di Pelabuhan Helder tanggal 11 Juni 1846.

Masalah itu membuat pihak pemerintah kolonial Belanda dan Internuncius untuk Belanda Mgr Ferrieri turun tangan. Mereka berunding untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan mereka lalu disahkan oleh Raja Willem II tanggal 2 Januari 1847 dengan Nota Kesepakatan yang disebut Nota der punten.

Dalam kesepakatan itu disebutkan bahwa (pertama) Vikaris Apostolik bertanggungjawab atas administrasi Gereja (art.8) dan berwenang menempatkan serta memutasikan para misionaris (art.3), (kedua) Jumlah misionaris di Indonesia merupakan urusan Gereja meskipun het radicaal tetap diperlukan (art.11), dan (ketiga) Gubernur Jenderal berhak menilai apakah melalui pekerjaannya para misionaris itu menjaga keamanan dan ketertiban umum atau tidak (art.7).

Para perintis itu harus berjuang melawan kekuasaan pemerintah kolonial Protestan Calvinis Belanda yang anti-Katolik, mengatasi masalah sangat kurangnya tenaga misionaris, berhadapan dengan sikap acuh tak acuh dari orang-orang Katolik warga Belanda dan Eropa lainnya, dan anggapan pemerintah Belanda bahwa para misionaris Katolik itu hanya untuk menyediakan pelayanan rohani bagi orang-orang Eropa yang beragama katolik, bukan untuk mewartakan Injil kepada pribumi, serta larangan bagi misionaris juga untuk mewartakan Injil di daerah yang sudah mendapatkan warta Injil dari Protestan. Selain itu mereka kesulitan finansial, yang harus bergantung pada gaji pemerintah Belanda.

Meski banyak kesulitan dan banyak masalah sejak permulaan masuknya iman Katolik, namun perlahan-lahan iman Katolik terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Kalau kita mengingat perjuangan para perintis untuk membuka kebun anggur Tuhan bagi Gereja Katolik di Indonesia, kita termotivasi untuk melanjutkan karya keselamatan yang mereka rintis itu.*

  • Tulisan ini merupakan tulisan ke-14 dari rangkaian tulisan Pastor Albertus Sujoko MSC berjudul “Jejak Allah dalam Sejarah.”

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Humbert Jacobs SJ, Documenta Malucensia, vol. I (1542 – 1577), Roma, 1974, (758 hlm).

2. Martin Stigter MSC, Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Manado, dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia 3a, hlm. 467 – 497. Penerbit KWI tahun 1974.

3. Kurris SJ, Sejarah  Seputar Katedral Jakarta, Penerbit Obor 1992

4. Karel Steenbrink, Catholics in Indonesia  1808 – 1942, A Documented History, Leiden, Nederland, 2003.

5. Frater Ludolf Bulkmans CMM, Misi Katolik di Keuskupan Manado dan di Maluku Utara pada abad ke 16 dan 17, diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh P. Jacobus Wagey Pr dan disusun dan dilengkapi oleh P. Jan van Paassen MSC, Wisma Transito, Desember 2011.

6. Jan van Paassen, MSC, dan P. Sjaak Wagey Pr, Sejarah Karya MSC di Keuskupan Manado 1920 – 1945, Cahaya Pineleng, 2014.

7. Paulus Widyawan Wishiasta, Monsinyur Willekens SJ, Uskup Perintis Pribumisasi Pendidikan Imam, dan Pelayan Rohani Umat Katolik Indonesia, Obor, 2009.

 

Tidak ada komentar

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Mahjong Ways 2 Menghadirkan Pola Interaksi Visual yang Menarik untuk Dipahami dari Sisi Desain

Mengapa Game Digital dengan Tema Klasik Masih Bisa Menarik Perhatian Generasi Pengguna Baru?

Mahjong Ways Memperlihatkan Bagaimana Unsur Tradisional Dapat Beradaptasi dengan Teknologi Hiburan

Perkembangan Game Mobile Membuat Pengembang Semakin Memperhatikan Detail Pengalaman Bermain

Bagaimana Penggunaan Animasi dalam Game Digital Membantu Menyampaikan Informasi kepada Pengguna?

Mahjong Ways 2 Memiliki Mekanisme Pergantian Simbol yang Membentuk Alur Permainan Berbeda

Game Bertema Asia Memiliki Karakter Visual yang Berkembang Bersama Teknologi Digital Modern

Mengapa Tampilan Game Mobile yang Teratur Dapat Membantu Pengguna Mengenali Berbagai Fitur?

Mahjong Ways Menggunakan Pendekatan Desain yang Menghubungkan Nuansa Klasik dan Visual Modern

Teknologi Smartphone Membawa Perubahan pada Cara Game Digital Menampilkan Efek dan Detail Visual

Mahjong Ways 2 Memiliki Cara Penyajian Fitur yang Menarik Dilihat dari Sudut Pandang Desain Informasi

Mengapa Pengalaman Pertama Saat Membuka Game Mobile Bisa Memengaruhi Kesan Pengguna?

Mahjong Ways dan Penggunaan Tema Mahjong dalam Membentuk Karakter Hiburan Digital Modern

Game Digital Semakin Memperhatikan Detail Kecil yang Sering Luput dari Perhatian Pengguna

Bagaimana Pengembang Game Mobile Menentukan Informasi yang Perlu Ditampilkan di Layar Utama?

Mahjong Ways 2 Memperlihatkan Hubungan antara Mekanisme Permainan dan Respons Visual di Layar

Perkembangan Game Smartphone Membuat Desain Antarmuka Perlu Menyesuaikan Berbagai Cara Penggunaan

Mengapa Konsistensi Tampilan Menjadi Salah Satu Faktor Penting dalam Pengalaman Game Digital?

Mahjong Ways Menghadirkan Interpretasi Modern dari Tema Klasik yang Sudah Lama Dikenal

Game Digital dengan Tampilan Menarik Tetap Membutuhkan Sistem Navigasi yang Mudah Dipahami

Mahjong Ways 2 Memperlihatkan Bagaimana Efek Visual Dapat Mengubah Cara Pengguna Mengikuti Permainan

Mengapa Game Digital dengan Konsep Sederhana Bisa Memiliki Karakter yang Mudah Diingat?

Mahjong Ways Menampilkan Adaptasi Permainan Tradisional dalam Bentuk Hiburan Berbasis Teknologi

Perkembangan Game Mobile Membawa Perubahan pada Cara Informasi Ditampilkan kepada Pengguna

Bagaimana Penggunaan Ruang Kosong dalam Desain Game Membantu Menjaga Kejelasan Tampilan?

Mahjong Ways 2 Memiliki Rangkaian Animasi yang Berkaitan dengan Perubahan Kondisi Permainan

Game Bertema Budaya Asia Menghadirkan Pendekatan Visual yang Berbeda dari Game Modern Lainnya

Mengapa Desain Antarmuka Game Digital Perlu Mempertimbangkan Kebiasaan Pengguna Baru?

Mahjong Ways dan Cara Penggunaan Elemen Dekoratif Membantu Membangun Identitas Permainan

Teknologi Game Smartphone Membuat Pengembang Semakin Memperhatikan Keseimbangan Visual dan Performa

Kasino Online dan Fenomena Pergeseran Hiburan dari Ruang Fisik ke Layar Digital

Mengapa Kecepatan Permainan Kasino Digital Dapat Memengaruhi Pengambilan Keputusan?

Di Balik Kemudahan Kasino Online, Bagaimana Pengguna Memahami Nilai Uang?

Kasino Digital dalam Perbincangan tentang Etika Teknologi dan Tanggung Jawab Platform

Ketika Hiburan Kasino Online Bersinggungan dengan Kesehatan Finansial Masyarakat

Bagaimana Fitur Interaktif Kasino Digital Memengaruhi Perhatian Pengguna?

Menelusuri Perubahan Cara Masyarakat Memandang Kasino Online di Era Informasi

Kasino Online dan Tantangan Mengenali Informasi yang Terlihat Meyakinkan

Mengapa Riwayat Permainan Tidak Bisa Menjamin Hasil Berikutnya di Kasino Digital?

Fenomena Kasino Berbasis Internet dan Pentingnya Kesadaran terhadap Waktu Layar

Mahjong Ways 2 Menunjukkan Bagaimana Desain Permainan Dapat Menyampaikan Informasi Tanpa Banyak Teks

Mengapa Mahjong Ways Memiliki Tampilan yang Terasa Akrab meski Menggunakan Teknologi Game Modern?

Perkembangan Game Mobile Membuat Pengembang Semakin Memperhatikan Waktu Muat dan Kelancaran Aplikasi

Mahjong Ways 2 dan Cara Efek Cascade Membentuk Rangkaian Perubahan yang Terlihat di Layar

Game Digital Bertema Asia Tidak Hanya Mengandalkan Ornamen tetapi Juga Pemilihan Suasana Visual

Bagaimana Desain Game Mobile Membantu Pengguna Mengenali Fitur Baru tanpa Penjelasan Panjang?

Mahjong Ways Menghadirkan Kesan Tradisional melalui Perpaduan Motif, Warna, dan Tata Letak

Mengapa Perubahan Kecil pada Antarmuka Bisa Memengaruhi Kenyamanan Pengguna Game Digital?

Teknologi Game Mobile Terus Berkembang dan Membawa Tantangan Baru dalam Pengelolaan Animasi

Mahjong Ways 2 Memperlihatkan Pentingnya Keteraturan Visual dalam Menampilkan Mekanisme Permainan

Mahjong Ways 2 Memiliki Sistem Pergantian Simbol yang Membuat Alur Visual Terlihat Berbeda

Mengapa Detail Latar Belakang dalam Mahjong Ways Ikut Membentuk Suasana Permainan?

Game Digital Bertema Asia Memiliki Cara Menarik dalam Memadukan Cerita Budaya dan Desain Modern

Mahjong Ways 2 Memperlihatkan Hubungan antara Efek Animasi dan Informasi yang Muncul di Layar

Perubahan Tren Game Mobile Membuat Desain Sederhana Kembali Menjadi Perhatian Pengembang

Bagaimana Mahjong Ways Menggunakan Komposisi Warna untuk Memperkuat Nuansa Tradisional?

Game Digital Kini Semakin Memperhatikan Cara Pengguna Memahami Informasi dalam Waktu Singkat

Mahjong Ways 2 dan Peran Transisi Visual dalam Menjaga Alur Permainan Tetap Mudah Diikuti

Mengapa Penggunaan Ornamen Klasik dalam Game Modern Tidak Selalu Terlihat Ketinggalan Zaman?

Perkembangan Desain Game Mobile Menunjukkan Pentingnya Keseimbangan antara Detail dan Kenyamanan

Mahjong Ways 2 Memiliki Detail Mekanisme yang Tidak Selalu Terlihat dari Tampilan Awalnya

Mengapa Mahjong Ways Masih Menjadi Contoh Menarik dalam Pembahasan Desain Game Bertema Asia?

Mahjong Ways 2 dan Cara Efek Berantai Membentuk Urutan Perubahan di Dalam Permainan

Tampilan Mahjong Ways Memperlihatkan Bagaimana Unsur Klasik Bisa Menyatu dengan Teknologi Modern

Ada Alasan Mengapa Animasi dalam Mahjong Ways 2 Dibuat Selaras dengan Pergantian Simbol

Mahjong Ways Menggunakan Pendekatan Visual yang Membuat Tema Permainannya Mudah Dikenali

Bagaimana Mahjong Ways 2 Menyajikan Perubahan Multiplier sebagai Bagian dari Informasi Permainan?

Mahjong Ways dan Hubungan antara Desain Simbol dengan Cara Pengguna Memahami Tampilan Game

Mengapa Efek Visual dalam Mahjong Ways 2 Menjadi Bagian Penting dari Penyajian Mekanisme?

Mahjong Ways Memperlihatkan Peran Detail Ornamen dalam Membangun Suasana Game Digital

Game Mobile Semakin Mudah Diakses tetapi Pengembang Masih Menghadapi Tantangan Desain

Mengapa Kecepatan Respons Menjadi Bagian Penting dalam Pengalaman Game Digital Modern?

Perkembangan Game Smartphone Membawa Perubahan pada Cara Pengguna Mengenali Fitur Permainan

Di Balik Game Digital yang Terlihat Sederhana, Ada Banyak Pertimbangan dalam Merancang Antarmuka

Bagaimana Teknologi Layar Sentuh Memengaruhi Cara Pengembang Menyusun Kontrol Game Mobile?

Game Digital Modern Mulai Memberikan Perhatian Lebih pada Kenyamanan Pengguna dengan Perangkat Berbeda

Mengapa Informasi yang Terlalu Padat Bisa Membuat Tampilan Game Mobile Sulit Dipahami?

Perkembangan Industri Game Digital Membuka Peluang Baru bagi Desainer Visual dan Pengembang

Bagaimana Komunitas Online Membentuk Persepsi Pengguna terhadap Game yang Sedang Populer?

Game Mobile Terus Berubah Mengikuti Teknologi tetapi Kebutuhan Pengguna Tetap Menjadi Pertimbangan

Kasino Online dan Fenomena Perubahan Pola Konsumsi Hiburan di Era Internet

Mengapa Informasi tentang Risiko Kasino Digital Sering Terabaikan Pengguna?

Di Balik Sistem Bonus Kasino Online, Ada Mekanisme yang Perlu Dipahami

Kasino Digital dan Tantangan Menjaga Kendali Diri di Tengah Akses Tanpa Batas

Bagaimana Tampilan Visual Kasino Online Membentuk Persepsi terhadap Permainan?

Ketika Teknologi Kasino Digital Berkembang Lebih Cepat dari Pemahaman Pengguna

Kasino Online dalam Sorotan Perubahan Kebiasaan Transaksi Masyarakat Digital

Mengenali Bias Psikologis yang Memengaruhi Penilaian Peluang di Kasino Online

Kasino Berbasis Internet dan Pentingnya Memahami Jejak Aktivitas Digital

Mengapa Edukasi Risiko Finansial Semakin Relevan dalam Fenomena Kasino Online?