cq5dam.thumbnail.cropped.750.422

“Ketika Yesus melihat orang banyak itu …” Paus Fransiskus mengambil kata-kata pertama dari Injil tentang Khotbah di Bukit itu untuk mengawali homili pertama dalam Kunjungan Apostolik di Chili dalam Misa untuk Keadilan dan Perdamaian di Taman O’Higgins di Santiago.

Cinta Tuhan yang mendalam terbangun bukan karena “gagasan-gagasan atau konsep-konsep, tetapi karena wajah-wajah, orang-orang,” kata Paus seraya menegaskan bahwa “perjumpaan dengan orang-oranglah yang menyebabkan Sabda Bahagia itu diungkapkan.”

Paus Fransiskus telah tiba di Chili tanggal 16 Januari 2018 untuk memulai perjalanan Apostolik selama seminggu yang akan membawanya ke enam kota di Chili dan Peru. Pada kunjungan apostolik keenam di Amerika Latin itu, Paus dijemput di Bandara Internasional Santiago oleh Presiden Chili, Michelle Bachelet, dan Presiden konferensi waligereja negara itu.

Sabda Bahagia bukanlah “buah ketidakpedulian melihat kenyataan, atau sekedar penonton yang mengumpulkan statistik suram” melainkan “terlahir dari hati Yesus yang penyayang, yang menjumpai hati para pria dan wanita yang mencari dan mendambakan kehidupan bahagia,” kata Paus.

Orang Chili tahu apa artinya merindukan kebahagiaan, tahu apa artinya menderita dan jatuh, tapi juga bangun lagi “setelah begitu banyak jatuh,” kata Paus seraya menegaskan bahwa Sabda Bahagia “bukanlah buah dari sikap kritis atau ‘kata-kata murahan’ dari mereka yang mengira tahu semuanya namun tidak mau berkomitmen pada apapun atau siapapun, dan akhirnya menghalangi kesempatan untuk menghasilkan proses perubahan dan rekonstruksi di masyarakat kita dan dalam kehidupan kita.”

Sebaliknya, lanjut Bapa Suci, Sabda Bahagia “lahir dari hati yang penuh belas kasih yang tidak pernah kehilangan harapan” dan dengan Sabda Bahagia itu “Yesus mengatakan kepada kita ‘Berbahagialah kamu yang mengupayakan rekonsiliasi’.” Sementara ‘Berbahagialah orang yang membawa damai’ dalam Sabda Bahagia itu, menurut Paus, meminta kita “untuk menyiapkan tempat lebih besar bagi semangat rekonsiliasi di tengah kita.”

Ketika berbicara kepada para anggota pemerintahan, korps diplomatik, dan otoritas sipil di Chili, Paus Fransiskus menegaskan bahwa mereka adalah bangsa yang telah tumbuh dan berkembang, namun jangan melupakan orang-orang yang menderita ketidakadilan.

Setiap generasi baru, tegas Paus, harus menerima perjuangan dan hasil karya generasi masa lalu. “Kebaikan, dan juga cinta, keadilan dan solidaritas, tak tercapai satu kali dan selamanya. Mereka harus diwujudkan setiap hari,” kata Bapa Suci seraya menambahkan bahwa tidak ada tempat untuk berpuas diri saat banyak orang masih menderita ketidakadilan.

Paus juga mengajak para penguasa untuk menjadi bangsa yang mendengarkan rakyatnya. “Chili perlu mendengarkan para penganggur, kaum migran, masyarakat adat yang sering dilupakan, orang-orang muda dan orang-orang tua “yang memiliki banyak kebijaksanaan.”

Terdengar tepuk tangan membahana saat Paus mengatakan “rasa sakit dan rasa malu dengan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan, yang diperbuat kepada anak-anak oleh beberapa pelayan Gereja. “Saya satu dengan saudara-saudara uskup, maka tepatlah meminta maaf dan berupaya mendukung para korban, bahkan kami berkomitmen untuk memastikan hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi.”

Mengakhiri pidatonya, Paus berbicara tentang isu yang dekat dengan hatinya, yakni perlindungan atas ciptaan dengan mengatakan bahwa menanggapi masalah lingkungan dan ekologi yang berat menuntut keberanian mengambil “cara istimewa dalam melihat sesuatu,” yakni meningkatkan kebaikan bersama.(paul c pati berdasarkan Vatican News)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (1)Chili3Chili1Chili4Chili5

Tinggalkan Pesan