alam ragi

Hari Minggu 16 Biasa

23 Juli 2017

Matius 13: 24-43

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya (Mat 13:31).”

Dari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita di dalam Injil hari ini, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, lalang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia. Pria dan wanita mengolah tanah, mematuhi siklus alam, menabur benih yang disiapkan dengan baik, menjaga pertumbuhan dan kemudian memanen hasilnya untuk kebaikan komunitas. Penggunaan ragi adalah metode masak yang sangat kuno. Wanita akan menempatkan ragi dalam adonan, dan mikroorganisme ini akan berinteraksi dengan karbohidrat dalam tepung, menciptakan karbon dioksida, dan sebagai akibatnya, adonan ragi akan berkembang. Meski roti tidak beragi akan bertahan lebih lama, ragi ini akan membuat roti lebih lembut dan lebih nikmat untuk dikonsumsi.

Dengan menyebutkan keindahan alam dan kreativitas manusia, Yesus mengakui kehebatan Tuhan, sang pencipta dan juga kebaikan dari ciptaan-Nya. Dia melihat harmoni antara alam dan manusia, dan ketika keduanya bekerja sama, semua akan mewujudkan keindahan dan kemuliaan Tuhan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahwa sang jahat bekerja untuk menghancurkan keselarasan ini, dengan menanam benih keserakahan, kebencian dan ketidakadilan di dalam hati kita. Alih-alih menggunakan bakat dan akal yang diberikan Tuhan untuk memelihara alam, kita memilih untuk memanipulasinya dan memanfaatkan alam untuk keuntungan dan kesenangan kita sendiri.

Sebagai contoh, kita bangga dengan telepon selular kita. HP telah menjadi gaya hidup modern, dan kita terus memburu model terbaru yang lebih canggih. Namun, kita tidak sadar bahwa ada pria, wanita dan bahkan anak-anak bekerja dalam kondisi mengerikan di dalam rantai produksi yang panjang ini. Sebuah ponsel adalah kombinasi logam yang kompleks, dan salah penambangan adalah cara mudah namun pada saat bersamaan paling bermasalah untuk mengambil mineral-mineral ini dari perut bumi. Misalnya, sebagian besar baterai ponsel terbuat dari kobalt, dan penambangan kobalt tidak hanya menyebabkan masalah lingkungan yang besar, tapi juga memicu konflik bersenjata di Kongo, menyebabkan hilangnya nyawa manusia, dan masalah pengungsi yang hebat. Bahan lainnya seperti tembaga dan alumunium berasal dari negara berkembang seperti Indonesia, Cile dan Filipina, dan menyebabkan permasalahan lingkunagan hidup. Itu hanya sebuah HP; Gadget lain seperti laptop, komputer, dan perangkat elektronik lainnya, memerlukan lebih banyak lagi bahan-bahan baku ini.

Saya sendiri ikut serta dalam masalah lingkungan ini, karena saya menulis refleksi ini di laptop tua saya, dan mengirimkannya melalui komputer atau ponsel saya. Saya percaya bahwa banyak dari kita ingin mengikuti Yesus dalam melestarikan keharmonisan antara alam dan kreativitas manusia, tetapi kita terjebak dalam jaring ketidakharmonisan global ini. Namun, kita tidak boleh putus asa. Kita tidak perlu membuang gadget kita, tapi setidaknya kita harus sadar akan ketidakadilan besar yang dilakukan terhadap alam dan sesama manusia. Kita juga diajak untuk lebih sadar dengan apa yang kita miliki, seperti pakaian, makanan dan listrik, dan bagaimana proses pengolahan mereka seringkali telah merusak alam. Untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan kita, berarti mengikuti teladan-Nya untuk memperhatikan bagaimana alam bekerja dan menghargai kecerdasan manusia. Selain itu, kita diajak untuk mengikuti jejak-Nya dalam merawat ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan dengan indah oleh Bapa-Nya dan juga Bapa kita.

 

 

Tinggalkan Pesan