Peserta workshop menerima materi dari pemateri dan sekaligus mempratekkan menulis berita, Minggu, (26- 3- 2017) (2)

Saat ini literasi (membaca dan menulis) di kalangan kaum muda Katolik telah hilang dimakan perkembangan media sosial, sehingga anak muda Katolik di Keuskupan Malang mengalami kehilangan jati diri atau kehilangan arah dalam menentukan masa depannya.

Ketua Komisi Sosial (Komsos) Keuskupan Malang Pastor Eko Putranto OCarm mengatakan hal itu kepada 45 kaum muda Katolik anggota Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) dan OMK se-Dekenat Malang Kota saat membuka Bakti Profesi Workshop Jurnalistik dan Fotografi, yang diselenggarakan oleh Komunitas Santo Yusuf Pekerja (KYP) Keuskupan Malang, di Wisma Kepemudaan Keuskupan, 26 Maret 2017.

Padahal, menurut Pastor Eko, Gereja Purba yang pertama-tama memperkenalkan dan memulai literasi, yang kemudian merambah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. “Sangat prihatin sekali, anak-anak muda Katolik telah kehilangan dunia literasi. Mereka kehilangan identitasnya. Mereka termakan media sosial. Dunia literasi telah mereka tinggalkan. Ini kondisi sangat memprihatinkan bagi Gereja Katolik. Saya prihatin dengan mereka,” kata imam itu.

“Dulu, tetangga kita, yakni umat Islam dan Kristen Protestan datang belajar ke kita. Kini, merekalah yang semakin menguasai dunia literasi. Lihat saja, banyak penerbit dan percetakan dimiliki teman-teman kita beragama Islam dan Kristen Protestan. Mereka begitu kuat menguasai literasi. Kita kalah dengan mereka. Kita hanya bisa menjadi penonton dan pembaca. Kita hanya bisa melihat perkembangan mereka dengan tatapan kosong. Kita telah kalah. Kenapa begitu?” tanya imam itu.

Pastor Eko juga mengakui berkurangnya media massa, penerbit dan percetakan yang bernafaskan kekatolikan, sehingga sangat berdampak buruk terhadap minat dan bakat bagi anak-anak muda Katolik untuk menyukai literasi.

Sebagai ketua Komsos, imam itu juga menyampaikan pertanyaan dan permintaan Uskup Malang Mgr Hendricus Pidyarto Ocarm, “Romo Eko, apa Romo bisa bekerja sedikit lebih dalam lagi? Soalnya saya melihat anak-anak Katolik kehilangan literasi. Berbicara tidak sesuai EYD. Berbicara tidak terstruktur. Menulis tidak berdasarkan EYD. Menulis asal-asalan. Itu karena malas dan tidak mau membaca. Kita kekurangan SDM.”

Menurut Ketua Pelaksana Hugeng Santoso, maksud dan tujuan kegiatan itu adalah untuk kembali menumbuhkan minat kaum muda Katolik akan literasi, karena literasi di kalangan kaum muda Katolik makin redup bahkan tidak ada. Mereka tidak bisa menulis artikel, meski masing-masing sudah punya gadget (HP). “Inilah yang membuat kami segera berbuat sesuatu,” katanya.

Susana Evelyn Sareng, salah satu peserta asal KMK Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang mengatakan bahwa dia mengikuti workshop itu untuk mengasah kemampuannya di bidang menulis, karena dia bercita-cita menjadi penyiar dan penulis.

“Saya ingin menjadi penyiar. Literasi dalam hal ini menulis, telah saya tekuni sejak SMP. Karena tidak ada orang yang menuntun dan mengajari saya, maka sempat vakum. Tapi ketika kuliah, niat, kemauan dan semangat menjadi penulis dan penyiar makin mengganggu batin saya untuk terus belajar dengan mengasah kemampuan saya. Lewat workshop ini, selain mendapat ilmu dari pemateri yang sangat handal di bidangnya, saya mendapat teman baru. Di sinilah, cita-cita saya menjadi penulis dan penyiar kembali terbuka lebar. Saya ingin meraih cita-cita itu dengan tekun dan semangat untuk banyak membaca dan menulis,” kata mahasiswi Ilmu Komunikasi semester 4 itu.

Workshop itu menghadirkan wartawan Vandri Battu dari Malang Post, wartawan Emanuel Yuswantoro dari Sindo, dan Yuvensius Jatra.

“Jurnalistik bukan mata kuliah yang membuat kalian pusing dan malas. Jurnalistik itu ilmu yang sungguh membuat kalian menjadi “awet” karena banyak pengetahuan yang akan kalian miliki. Begitu juga dengan fotografi. Jurnalistik dan fotografi sama-sama diibaratkan sumur yang tak pernah habis airnya,” kata Vandri Battu, menjawab pertanyaan peserta. (Felixianus Ali)

2 KOMENTAR

  1. Saya senang dengan adanya kegiatan semacam ini. Semoga kedepan makin sering diadakan kegiatan serupa sehingga ada wadah bagi kaum muda untuk mengembalikan semangat menulis dan membacanya. Kalau bisa menjangkau semua paroki di Indonesia dan rutin diadakan.

  2. Saya salud atas dedikasi dan kerja keras KYP Keuskupan Malang dalam memberikan workshop/ pelatihan jurnalistik & fotografi bagi kaum muda katolik di Malang. Saya juga prihatin dengan kondisi yang dihadapi gereja lokal terlebih kaum muda yang telah meninggalkan literasi. Hal semacam ini perlu didukung secara serius dan tuntas dalam membangkitkan kembali literasi di kalangan kaum muda. Terima kasih kepada KYP yang sesibuk apapun, telah meluangkan waktu dan tenaga untuk melatih kaum muda. Saya sepakat literasi di kalangan kaum muda katolik harus kembali dihidupkan. KYP, saya juga meminta Anda untuk datang dan memberikan pelatihan ke paroki kami di pedalaman Papua dan Kalimantan. Kalau boleh saya usul, sebaiknya Anda (KYP) melakukan MoU/ kerjasama dengan Komsos-Komsos se-Indonesia untuk memberikan pelatihan ini. Sudah saya tanya via email kepada penulis Artikel ini bahwa KYP langsung memberikan praktek mengenai menulis berita dan fotografi. Ini yang sangat menyentuh. Maaf, beda dengan pelatihan lainnya yang pernah saya lihat, itu hanya sebatas bicara (memberikan workshop) tetapi tidak ada praktek dan lalu tidak dibimbing secara kontinyu. Apalagi wadah bagi kaum muda untuk menulis mungkin saja terbatas atau tidak ada sama sekali. Terima kasih buat ketiga pemateri mas Vandri Battu (wartawan Malang Post), Emanuel Yuswantoro (wartawan Sindo), dan Yuvensius Jatra bersama KYP yang telah membantu kaum muda katolik untuk kembali bergiat menekuni literasi. Komsos Malang rupanya makin eksis di dunia kepelatihan semacam ini. Terima kasih kepada penakatolik.com yang telah memberitakannya sehingga saya dan juga pembaca (umat katolik) lainnya bisa tahu.

Tinggalkan Pesan