Banjir Bitung

“Saya Pastor Joy Derry Pr, Ketua Komisi PSE Keuskupan Manado, sebagai koordinator karya dan pelayanan sosial di Keuskupan Manado. Saya mengajak para pastor, biarawan-biarawati dan umat Katolik se-Keuskupan Manado  untuk mewujudkan cinta kasih dalam gerakan Keuskupan Manado ‘Berbagi kasih dengan masyarakat Kota Bitung yang terdampak bencana banjir dan longsor.”

Demikian rekaman suara yang dibagikan lewat WA dan dikirim kepada PEN@ Katolik oleh pemimpin Radio Montini Keuskupan Manado Pastor Steven Lalu Pr, 14 Februari 2017.

“Marijo ka Bitung (marilah ke Bitung) ada 5273 jiwa yang mengungsi dan menantikan kepedulian dan solidaritas kita. Mari kita membawa bantuan berupa air minum, air bersih, makanan siap saji, bahan makanan, perlengkapan tidur seperti selimut tikar atau kasur, perlengkapan masak, perlengkapan mandi dan pakaian untuk anak-anak dan orang dewasa. Mari torang (kita) bantú membersihkan rumah-rumah dan sarana-sarana publik yang tergenang lumpur,” demikian seruan Pastor Derry.

Berdasarkan laporan tertanggal 12 Februari 2017 dari Pastor Derry dan Glen Octaviano Tielung, relawan Komunitas Laskar Iklim (KLI) Manado, jumlah korban banjir dan tanah longsor sebanyak 1399 KK atau 5273 jiwa, sesuai data posko induk bencana banjir dan longsor. Mereka tersebar di beberapa tempat pengungsian  atau ditampung sementara di beberapa gereja, mesjid, dan sekolah di lima kecamatan.

Kecamatan-kecamatan yang terdampak adalah Aertembaga, Madidir, Maesa, Lembeh Utara, Lembeh Selatan.

“Pihak BPBD belum bisa memastikan rumah yang dinyatakan rusak berat. Hingga sore menjelang malam relawan yang turun di lokasi bencana belum dapat mengakses data lapangan. Situasi lapangan di beberapa titik masih belum bisa diakses dan banjir masih berlangsung. Dipastikan satu orang dinyatakan hilang terseret ke laut dan masih dalam pencarian tim SAR,” demikian laporan itu.

Juga dikatakan, kerugian akibat kerusakan rumah serta harta milik diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Sementara itu sembilan orang luka ringan dan lima orang luka berat akibat terseret banjir dan tertimbun longsor. Jumlah keluarga yang terdampak banjir 1273 KK dan terdampak longsor 126 KK.

“Diperkirakan 30 titik bencana di 21 kelurahan. Beberapa akses jalan menuju lokasi bencana sulit dicapai dengan kendaraan, …, namun bisa dilalui dengan sistem buka tutup karena ada ruas jalan yang rusak. Akses ke Pulau Lembeh lewat kapal feri. Kecamatan Lembeh Utara terkena banjir dan di Lembeh Selatan terjadi longsor di tiga lokasi,” lapor mereka.

Akses ke Kota Bitung ditempuh dengan jalan darat sepanjang 45 kilometer dari Manado, namun sampai saat ini hujan masih turun di beberapa wilayah di Kota Bitung, dan listrik masih padam karena sambungan listrik terputus dan signal telekomunikasi di lokasi bencana sebagian masih belum baik.

Sesuai pengamatan, latar belakang tanah longsor dan banjir bandang itu adalah hujan deras hari Sabtu, 11 Februari 2017, drainase tersumbat, naiknya permukaan air laut, dan kondisi tanah yang labil di daerah perbukitan. Menurut Kepala BPBD Kota Bitung dan masyarakat di lokasi banjir, ketinggian air saat banjir 60-80 cm.

Penanganan darurat, yang langsung dipimpin Walikota Bitung, melibatkan BPBD, TNI, Polisi, tim SAR, Dinkes, Dinsos, Dinas PU dan relawan serta masyarakat. Sementara itu Karitas Manado (Delsos atau Ketua PSE dan Relawan KLI Keuskupan Manado) melakukan koordinasi dengan pimpinan umat stasi dan paroki dengan turun langsung ke lokasi bencana untuk melakukan asesmen dan menyalurkan paket bantuan berupa air mineral, pop mie dan ikan kaleng.

Mereka selalu melaporkan situasi terkini kepada Uskup Manado Mgr Joseph Theodorus Suwatan MSC dan berkoordinasi dengan jaringan yang ada di lokasi bencana seperti pimpinan agama, Sekretaris Kecamatan Aertembaga, Polsek, BPBD, dan masyarakat setempat.

Menurut Pastor Derry, kebutuhan mendesak warga saat ini adalah makanan siap saji, selimut, tikar, beras, mie instan, lauk, peralatan mandi, ember, susu untuk bayi, popok bayi, pembalut wanita, pakaian dalam, pakaian anak dan dewasa, masker, dan peralatan dapur.

Pastor Steven mengatakan kepada PEN@ Katolik, 15 Februari 2017, seruan Pastor Derry didahului dialog interaktif satu jam lebih di Radio Montini. “Sesudah dialog, dibuatlah seruan yang diputar seperti iklan radio, semacam iklan layanan masyarakat. Seruan ini sengaja dimulai dari Radio Montini, karena radio ini milik keuskupan dan diusahakan menjadi media komunikasi iman internal dan eksternal,” jelas imam itu.

Dari Radio Montini, rekaman Pastor Derry dimasukkan ke web Montini dan ditampilkan di page dan Twitter Montini, page komsos, WA grup pastores Kevikepan Manado, dan WA grup lain, serta dibagikan secara personal, termasuk ke media ini. “Salam Bela Rasa!” seru Pastor Joy Derry mengakhiri ajakannya.(paul c pati)

Suasana air deras di Tandurusa yang diambil oleh Tribun Manado
Suasana air deras di Tandurusa yang diambil oleh Tribun Manado
Suasana banjir di Bitung diambil dari infonawacita
Suasana banjir di Bitung diambil dari infonawacita

Banjir Bitung1

Tinggalkan Pesan