Caananite-Woman

PEKAN BIASA V (H)

Santo Paulinus Aquileia; Santa Apolonia

Bacaan I: Kej. 2:18–25

Mazmur: 128:1–2.3.4–5; R:1a

Bacaan Injil: Mrk. 7:24–30

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Galilea dan berangkat ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Renungan

Yesus datang bagi semua orang. Ia menerima siapa saja dan dari mana saja. Yesus tidak pernah melihat status atau kedudukan seseorang atau dari kalangan mana mereka berasal. Orang kaya-miskin, sakit-sehat, saleh-dosa, hina-terhormat, orang asing atau pribumi memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan rahmat-Nya. Maka, siapa saja boleh berharap kepada-Nya.

Kasih Yesus itu juga tidak bersyarat dan tanpa pamrih. Walaupun orang Yahudi ada yang menolak bahkan membenci-Nya, Yesus tetap baik dan mendoakan mereka. Ia berani menyuarakan kebenaran walaupun riskan. Ia juga menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang beriman walaupun mereka itu orang asing.

Bacaan-bacaan hari ini menggarisbawahi betapa besarnya cinta Tuhan kepada kita. Tidak ada lagi keraguan akan pertolongan Tuhan kepada kita.

Bagaimana dengan kita? Beranikah kita bersikap baik kepada siapa pun dan dari mana pun? Mampukah kita menjadi rezeki keselamatan bagi mereka? Tiadakah orang yang kita pandang hina, asing, berdosa, atau miskin? Masih terbukakah cinta kita walaupun riskan?

Ya Allah, Engkau telah lebih dahulu mencintai aku tanpa syarat. Mampukanlah diriku juga untuk menjadi saluran rahmat-Mu, khususnya bagi mereka yang sangat memerlukan kasih-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan