maxresdefault

HARI KE-5 OKTAF NATAL

Santo Thomas Becket Dari Canterbury; Santo Kaspar Del Bufalo; Daud (Raja Israel)

Bacaan I: 1Yoh. 2:3-11

Mazmur: 96:1-2a.2b-3.5b-6; R:11a

Bacaan Injil: Luk. 2:22-35

Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: ”Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat kesela­matan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk men­jatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan-dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Renungan

Kata ”aku mengasihimu” atau ”aku mencintaimu” bisa terasa usang dan tak bermakna ketika manusia menjadikannya sebuah ungkapan manis demi kepentingan sendiri. Ketika kepentingan menjadi dasar, cinta berhenti pada kata dan tiada relasi. Akibatnya, manusia tidak mampu menemukan keindahan dan rahmat yang ada dalam relasi kasih. Demikian pula dalam dinamika relasi dengan Allah, ketika unsur kasih tidak ada, maka manusia semakin kesulitan untuk melihat dan mengenal Allah. Dan itulah kegelapan, ketika manusia tidak melihat sama sekali terang yang dipancarkan oleh Allah.

Kasih membuka mata dan memampukan manusia melihat dengan terang benderang keindahan berkat Allah dalam hidupnya. Terang itulah juga yang menaungi Simeon. Kasihnya yang besar dan setia pada Allah akhirnya memampukan dirinya melihat ”cahaya para bangsa” dan mengalami sukacita besar.

Ketika kegelapan menyelimuti kehidupan, bantulah aku untuk selalu percaya pada kasih-Mu, ya Tuhan. Semoga seperti Simeon, mataku terbuka dan melihat terang-Mu, terang kasih abadi, yang membebaskan dan menyelamatkan. Amin.

 

1 komentar

  1. Saat ini jiwa raga saya lemah , kepercayaan saya pun kepada Yesus terombang ambing , ini krn semua permasalahan yg saya hadapi bgi saya sgt berat . Saya merasa Tuhan meninggalkan saya sehingga smp skrg segala masalah saya tdk selesai2 . Apa yg hrs hamba lakukan ….

Tinggalkan Pesan