hqdefault

PEKAN BIASA XXVIII (H)
Santo Daniel, dkk; Santo Thomas dari Villanova

Santo Gregorius Penerang; Santo Paulinus dari York

Bacaan I: Gal. 4:22-24.26-27.31–5:1

Mazmur: 113:1-2.3-4.5a.6-7; R:2

Bacaan Injil: Luk. 11:29-32 

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: ”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”

Renungan

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat menuntut tanda-tanda dan mukjizat untuk memuaskan keingintahuan mereka. Mereka hanya ingin menyaksikan keajaiban dan mengaguminya semata; tanpa kemauan dan kesungguhan untuk mengakui, percaya, dan berserah kepada karya ilahi. Mereka tidak pernah membuka mata hati mereka sehingga mukjizat sebesar apa pun tidak membuat mereka bertobat. Oleh karena itu, Yesus membandingkan mereka dengan penduduk Niniwe. Mereka yang begitu jahat saja dapat dengan mudah mengakui kesalahan mereka dan berbalik kepada Allah saat mendengarkan seruan Yunus; sedangkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini tidak. Mereka adalah orang-orang yang diperbudak oleh kesombongan rohani; merasa paling benar, merasa menjadi orang-orang pilihan, dan merasa lebih suci dari orang lain.

Saat seorang manusia menempatkan dirinya lebih dari sesamanya, ia dikuasai oleh dosa kesombongan. Ia merasa bahwa dirinya tidak sama dengan orang lain; entah ia merasa lebih beruntung atau lebih baik. Ia harus bertobat, menyadari dan mengakui bahwa kerahiman Allahlah yang memungkinkan ia dapat menikmati semua kelebihan itu.

Bapa, karya-Mu sungguh besar  dan rencana-Mu sungguh indah. Aku percaya bahwa seluruh hidupku pun ada dalam rancangan-Mu. Semoga aku menyadari dan peduli akan segala titah-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan