kaisar-dan-allah-mat-22-15-22

HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (P)
Santo Gregorius Thaumaturgos;
Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: Sir. 10:1-8

Mazmur: 101:1a.2ac.3a.6-7; R: Gal 5:13

Bacaan II: 1Ptr. 2:13-17

Bacaan Injil: Mat. 22:15-21

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Renungan

Sikap jujur, tidak takut kepada siapa pun dalam membela kebenaran, tidak menjilat dan tidak mencari muka adalah sifat-sifat Yesus yang diungkapkan oleh orang-orang Farisi yang mencoba menjebaknya. Sika-sikap ini yang kiranya semakin langka kita temukan di negara kita, baik dari kalangan bawah, menengah, bahkan sampai pada tingkat atas. Dari kehidupan rumah tangga, sekolah, pekerjaan, peradilan sampai pemerintahan.

Sikap-sikap ini sebenarnya cerminan dari salah satu sifat Allah, yaitu ”kebenaran”. Kebenaran sering kali ditutup-tutupi sejauh orang memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut. Tidak jarang juga kita mendapati kebenaran dibungkus dan dipoles sedemikian rupa, diberi bumbu hingga menarik untuk digosipkan, ditayangkan di telivisi berulang-ulang setiap hari.

Dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan ini, kita diajak untuk mengisi kemerdekaan itu dengan merenungkan sejauh mana sikap dan tindakan kita selama ini dalam membela kebenaran. Kebenaran sejati adalah kebenaran yang memerdekakan setiap orang, bukan membelenggunya. Apakah sebagai anak-anak Allah kita masih kuat bertahan dalam kebenaran sejati? Pada hari ini kita juga diundang mendoakan arwah para pahlawan kita yang berjuang untuk masa depan anak cucu mereka demi terciptanya negara yang merdeka dari segala belenggu.

Tuhan Yesus yang Mahakasih, izinkanlah aku masuk ke dalam kebenaran-Mu dan berani tinggal di dalamnya. Tanamkan pula ke dalam jiwa bangsa ini semangat cinta akan kebenaran sejati. Amin.

Tinggalkan Pesan