Mgr-Aloysius-Maryadi-Sutrisnaatmaka-MSF_02-resize

Orang beriman tak kenal menyerah dengan keyakinan bahwa Allah akan senantiasa menyertai dan membantu demi tercapainya hidup bermartabat seperti yang dikehendaki-Nya. Maka, pada masa Prapaskah 2016, Uskup Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Mgr  Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF mengajak umatnya untuk merenungkan dan mempraktekkan daya hidup yang disertai tiga keutamaan yakni tekun, ulet, dan sabar.

“Untuk mewujudkan hidup sejahtera perlu perjuangan. Kadang berat dan lama sehingga menguras kekuatan dan daya hidup. Lalu bagaimana cara mengatasinya agar tujuan mendapatkan kesejahteraan hidup tetap bisa tercapai? Diperlukan ketekunan, keuletan dan kesabaran,” tulis Mgr Sutrisnaatmaka dalam Surat Gembala Prapaskah 2016.

Untuk mengusahakan kesejahteraan, tegas uskup, diperlukan kerja keras dan pantang menyerah. “Kesejahteraan hidup menjadi tujuan semua orang yang bekerja mencari nafkah sehari-hari. Pekerjaan menjadi bermakna karena mengarah pada tujuan mulia itu. Utamanya bagi orang beriman, kesejahteraan itu meliputi baik segi-segi material-duniawi maupun segi-segi rohani-surgawi.”

Orang beriman, lanjut uskup, mengarahkan tujuan hidupnya tak hanya demi hidup sekarang, melainkan menjangkau segi masa depan, sesudah kematian dan waktu terjadi kebangkitan badan. Maka, “dalam mengejar tujuan kesejahteraan hidup, orang beriman mendasarkan usaha dan cara mencapai tujuannya dengan keutamaan-keutamaan yang berdasarkan iman, harapan dan kasih seperti diajarkan Yesus.”

Mgr Sutrisnaatmaka minta agar anugerah Allah berupa daya hidup dimanfaatkan dalam mencapai kesejahteraan dengan menggunakan keutamaan-keutamaan Injil. “Dari iman mendalam akan muncullah sikap-sikap yang cocok untuk menyertai usaha mencapai kesejahteraan itu,” tulis uskup.

Dijelaskan, tekun diartikan sebagai sifat rajin dan bersungguh-sungguh, keuletan dimaksudkan sebagai kemauan dan usaha keras, sedangkan kerja keras berkelanjutan merupakan usaha maksimal untuk memenuhi keperluan hidup baik jasmani dan rohani disertai sikap optimis. “Kebutuhan jasmani meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, dan hiburan, sedangkan kebutuhan rohani di antaranya melaksanakan ibadat, mendapatkan pendidikan, dan ilmu pengetahuan,” tulis uskup.

Kerja keras yang menjadi lawan segala kemalasan, lanjut uskup, merupakan sarana sekaligus syarat untuk mencapai kesejahteraan yang didukung doa kepada Allah yang menjadi sumber segala berkat bagi manusia. “Tidak jarang, sesudah berusaha bekerja untuk hidup sejahtera dalam waktu lama, namun hasilnya belum kelihatan nyata, maka orang menjadi putus asa. Banyak orang menjadi tidak sabar, ingin melihat dan menikmati hasil sebesar-besarnya dan secepatnya. Padahal, kadang memang diperlukan kesabaran dalam proses mencapai hasil yang maksimal,” tulis Uskup Palangka Raya.

Mgr Sutrisnaatmaka mengajak merenungkan nasehat Santo Paulus: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Rom 12:12). Segala sesuatu yang dilakukan oleh orang beriman memang haruslah berlandaskan pada pengharapan dan kasih. Oleh karena itu, sekali lagi kata-kata St. Paulus perlu dicamkan: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (I Korintus 13:4).

Menurut uskup, kata-kata bijak “selalu ada jalan bagi yang berkemauan dan berusaha” berlaku untuk orang beriman yang mengandalkan Allah dalam segala usahanya. “Kadang terasa sepertinya perjuangan itu tiada berkesudahan. Itulah yang kerap melemahkan perjuangan dan usaha yang tak kelihatan hasilnya secara langsung dan cepat.”

Dijelaskan, makna hidup sejahtera yang sesungguhnya dialami dalam perkembangan pada pelbagai macam situasi dan bidang, seperti bidang jasmani (material), pendidikan (intelektual), mental (kepribadian), spiritual (rohani, hidup beriman). Terjadi keseimbangan antara bidang pengetahuan dan perasaan, antara hidup rohani dan jasmani, serta antara pengungkapan dan perwujudan iman. “Perlu juga ditegaskan bahwa perkembangan dalam mencapai kesejahteraan berlangsung tahap demi tahap, dan tidak pernah sekali lagi. Dengan demikian dalam hidup sehari-hari kita perlu mengusahakan bidang demi bidang, tahap demi tahap secara terencana pada masing-masing bidang,” tulis uskup.

Maka, Mgr Sutrisnaatmaka mengajak agar dalam Aksi Puasa Pembangunan 2016 diutamakan bidang-bidang yang perlu untuk mencapai kesejahteraan secara menyeluruh. “Kita usahakan dan menargetkan bidang-bidang yang perlu diprioritaskan, misalnya bidang sosial-ekonomi, pendidikan, kesehatan. Kita laksanakan tahap demi tahap, misalnya tahap awal menabung secara rutin, menyimpannya di CU atau dipakai untuk menjalankan usaha meningkatkan perekonomian. Perlu diusahakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), atau pengumpulan dana beasiswa bagi yang membutuhkan.”

Selain itu, tulis Mgr Sutrisnaatmaka, perlu evaluasi untuk mengetahui apakah usaha-usaha itu bisa berjalan, atau ada hambatan yang menyebabkan rasa putus asa. “Usaha dan program serta pelaksanaannya bisa dimulai secara pribadi, atau seluruh keluarga, lingkungan, stasi atau paroki. Apabila kita betul mau kerja keras dan mempraktekkan ketekunan, keuletan dan kesabaran, serta berjuang tanpa menyerah, kita yakin kesejahteraan bersama akan dicapai.” (pcp)

 

Tinggalkan Pesan