16_Márk-223-28-777x583

PEKAN BIASA II (H)
Santo Marius; Santo Gerlakus; Santo Gottfrid;
Yakobus Sales, dan Wilhelmus Saultemouche

Bacaan I: 1Sam. 16:1-13

Mazmur: 89:20.21-22.27-28; R:21a

Bacaan Injil: Mrk. 2:23-28

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: ”Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: ”Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu—yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam—dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.

Renungan

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam. 16:7) Kadang-kadang manusia dalam menentukan kriteria pemilihan seseorang menjadi pe­mimpin, sarat dengan kepentingan dan perhitungan untung rugi. Hal ini berbeda dengan cara Allah menentukan seseorang menjadi utusan-Nya. Dalam hal doa permohonan juga demikian, kadangkala kita meminta sesuatu yang kita kehendaki, bukan yang kita butuhkan dalam hidup dan pelayanan. Allah yang melihat hati manusia, apa yang terpenting dan terbaik bagi manusia itulah yang Allah akan berikan. Dari pihak Allah jelas bahwa semua dimensi dipertimbangkan untuk keselamatan manusia, tetapi dari pihak manusia belum tentu. Maka, manusia membutuhkan keheningan untuk memilih yang terbaik menurut kehendak Allah.

Apa yang dilakukan murid-murid Yesus pada hari Sabat dan juga pengajaran Yesus tidak dipahami oleh orang-orang Farisi. Bagi Yesus, ‘Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat; jadi, Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat’. Aturan pada Hari Sabat tidak boleh menghalangi manusia untuk melakukan kebajikan bagi sesama. Yesus menghendaki agar semua aturan yang diadakan selalu berdimensi sosial, untuk kebaikan dan damai sejahtera.

Tuhan selalu memiliki cara pandang yang komprehensif-menyeluruh tentang aturan. Di atas semuanya, keselamatan manusia lebih utama daripada aturan itu sendiri. Aturan hanyalah sarana bagi manusia dalam menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Cara pandang Yesus ini semoga menjadi cara pandang kita juga dalam membuat, melaksanakan, dan menyikapi aturan yang ada.

Ya Allah yang Maha Pengasih, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau membuka hati dan budiku untuk memahami kehendak-Mu dalam setiap aturan. Rahmatilah aku agar menyikapi aturan sebagai sarana menghadirkan kebaikan, kedamaian, dan keselamatan bagi manusia. Amin.

 

Gambar diambil dari http://www.soundsofgod.com

 

Tinggalkan Pesan