Tarian Sufi

Sesaat menjelang pemberangkatan jenazah Mgr Johannes Pujasumarta dari Gereja Katedral Semarang menuju Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta, di tengah lagu “Ndherek Dewi Maria” yang dinyanyikan umat yang hadir, Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mempersilakan dan Kiai Budi Hardjana, pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Meteseh, Tembalang, untuk menghadirkan tarian sufi dengan iringan lagu itu. Kiai itu maju dan berdiri di samping peti jenazah, memberi hormat lalu mulai menari selama lagu dinyanyikan.

Kiai Budi sendiri sengaja hadir dalam upacara itu setelah ditelpon tentang kematian Mgr Puja oleh Pastor Budi Purnomo yang menjadi sahabatnya dalam bertugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Saat ditelpon, Kiai Budi masih berada di Tuban.

Kiai yang mahir menari sufi dan memiliki banyak santri penari sufi itu langsung pulang demi persahabatannya dengan Mgr Puja. “Tarian sufi itu juga dipersembahkannya sendiri sebagai tanda persahabatannya dengan mendiang Bapak Uskup Agung Semarang itu yang setiap Hari Raya Idul FItri bersilaturahmi ke pondoknya. Bahkan di saat sedang berjuang dengan sakit yang dideritanya, Mgr Pujasumarta tetap bersilaturahmi ke Ponpes Al Islah pada Hari Raya Idul Fitri 2015,” kata Pastor Budi Purnomo dalam siaran pers yang disampaikan kepada wartawan Katolik.

Sesudah Kiai Budi menari sufi, jenazah langsung diberangkatkan menuju Yogyakarta diiringi dentang lonceng Katedral dan isak tangis umat serta imam yang masih dirundung duka. Perjalanan menuju Yogya ditempuh melalui jalan biasa, tidak melalui jalan tol atau pun jalan lingkar, mengingat umat di Ambarawa dan Bedono siap menyambut jenazah Mgr Johannes yang melintasi daerah itu, jelas imam itu.

Uskup Agung Semarang Mgr Pujasumarta wafat 10 November 2015 setelah mendapat perawatan intensif selama kurang lebih dua bulan di Rumah Sakit Elisabeth Semarang. Sejak pukul setengah lima pagi, umat sudah berdatangan ke Katedral Semarang untuk memberikan penghormatan terakhir. Pukul 05.30 WIB, Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh sembilan imam, yang dipimpin oleh Pastor Antonius Abas Kurnia Andrianto Pr dari Katedral Semarang. Ribuan umat hadir. Sesudah Perayaan Ekaristi, umat terus memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan Mgr Puja.

Pukul 08.00 WIB, diselenggarakan ibadat pemberangkatan jenazah sebelum dibawa menuju Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Mgr Puja akan dimakamkan di makam para Imam Praja (Diosesan) Keuskupan Agung Semarang yang berada di kompleks seminari itu, 13 November 2015.

Sebelum ibadat dimulai, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Ganjar mengatakan bahwa Mgr Johannes Pujasumarta selama ini dikenal tak hanya sebagai Eyang dan Bapak, tetapi juga rekan seperjuangan dalam membangun kerjasama dan saling keterbukaan menuju suatu persaudaraan sejati. “Hatinya sangat terbuka. Banyak pintu bisa dimasuki dan semua diterima dengan hati yang penuh cinta,” katanya.

Atas nama Dewan Konsultores Keuskupan Agung Semarang, Wakil Uskup Agung Semarang yang hingga wafatnya Mgr Puja menjabat sebagai Vikjen, Pastor FX Sukendar Pr, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh umat dan masyarakat juga para tokoh masyarakat maupun agama yang memberikan perhatian kepada Mgr Johannes sejak beliau sakit hingga meninggalnya.

Pastor Sukendar juga menyampaikan pesan warisan Mgr Puja dalam bentuk RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) 20 tahun ke depan, sejak 2016 hingga 2035 dalam rangka menyambut Yubileum Agung Kelahiran Yesus Kristus tahun 2033.

“Bapak Uskup bercita-cita melalui RIKAS untuk mengajak umat menjadi umat beriman yang bermartabat, sejahtera, dan bersaudara melalui peradaban kasih. Itulah gagasan dasar yang diwariskan Mgr Puja untuk dua puluh tahun ke depan. Kita semua diajak untuk kian mewujudkan gagasan dasar itu melalui kehidupan kita,” kata imam itu.

Selain Ganjar Pranowo, hadir juga para tokoh masyarakat dan agama, antara lain Setda Kota Semarang, Taslim dari FKUB Provinsi Jawa Tengah, Fatquri dari Masjid Agung Jawa Tengah, Kang Gunretno dari sedulur Sikep Sukolela.

Menurut Pastor Budi yang sempat beberapa kali berkunjung dan berdialog dengan Mgr Johannes Pujasumarta selama dirawat di Ruang Anna 402 Rumah Sakit Elisabeth Semarang,  beliau merupakan Uskup, Gembala dan Pemimpin yang mengumat dan merakyat. “Itulah yang selama ini ditangkap banyak orang. Beliau sangat kebapakan dan baik hati dalam kesederhanaan dan kecintaan kepada umatnya. Bahkan beliau menghayati sakitnya sebagai bagian dari kecintaan kepada umat dan masyarakat. Itulah sebabnya, beliau memilih dirawat dengan cara seperti umat dan meninggal juga seperti umat, dengan tidak mau dirawat di ICU apalagi berobat ke luar negeri.”(pcp berdasarkan edaran dari Pastor Aloysius Budi Purnomo)***

 

Umat mendoakan Mgr Puja

Mgr Puja dan Gubernur Jateng Ganjar Prabowo

Misa untuk Mgr Puja

 

Keterangan foto

 

Foto “Kiai Budi didampingi Romo Budi menari sufi disamping peti jenazah Mgr Johannes Pujasumarta” oleh Lukas Awi Kristanto/INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan

Foto-foto lainnya diambil dari FB Majalah Salam Damai

 

Tinggalkan Pesan