3-Nov-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXXI (H)

Santo Martinus de Porrez; Santo Hubertus

Beato Pius Campidelli; Beato Rupert Mayert

Bacaan I: Rm. 12:5-16a

Mazmur: 131:1.2.3

Bacaan Injil: Luk. 14:15-24

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi. Sementara perjamuan berlangsung, seorang dari tamu-tamu berkata kepada Yesus: ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.”

Renungan

Yesus menggambarkan Allah sebagai pribadi yang senantiasa merindukan persekutuan yang erat dengan manusia. Maka, berkat pun tercurah atas manusia, salah satunya bertujuan agar manusia makin merasakan kerahiman Allah dan membawa kemuliaan bagi Allah.

Itulah kerinduan Allah yang tak akan pernah sirna oleh apa pun. Namun, kita senang mengurus urusan kita sendiri; kita lebih asyik dengan perkara dan masalah kita masing-masing. Kita lupa tugas kita yang utama di dunia ini, yaitu supaya kita diperkenankan menikmati perjamuan yang telah disediakan Bapa kita dalam Kerajaan-Nya.

Ya Allah, semoga mata hatiku selalu terarah pada-Mu sehingga tiada kenikmatan apa pun di dunia ini yang dapat mengalihkan pandanganku pada wajah-Mu. Hanya Engkaulah yang selalu aku rindukan. Amin.

 

Tinggalkan Pesan