8-Agsts-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVIII (H)

Peringatan Wajib Santo Dominikus; Santo Siriakus, Largus dan Smaragdus, Martir; Santo Hormisdas

Bacaan I: Ul. 6:4-13

Mazmur: 18:2-4.47.51ab;R:2

Bacaan Injil: Mat. 17:14-20

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Maka kata Yesus: “Hai kamu, angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Renungan

Umat Israel percaya akan Allah yang nyata, bukan abstrak. Dialah Allah yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir, yang telah membimbing mereka selama 40 tahun di padang gurun, yang telah memberi mereka negeri Kanaan, yang telah memberikan kota-kota dan rumah-rumah, air minum, kebun anggur dan zaitun kepada mereka. Karena itu mereka harus mengasihi Allah ini dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan mereka. Mereka tidak boleh lupa akan hal ini dan harus diajarkan turun-temurun.

Mereka harus mendidik anak-anak agar ingat terus pengalaman iman itu; diajarkan berulangkali ketika duduk di rumah, sedang dalam perjalanan, berbaring waktu tidur dan bangun, diikat pada tangan dan dahi, ditulis pada tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang. Perintah ini masih tetap dipegang oleh orang Yahudi hingga saat ini. Saya masih melihat adanya mezuzah, tzitzit dan tefillin ini, khususnya di Yerusalem.

Namun, belum pernah saya jumpai ada keluarga Katolik mengajarkan cara seketat itu kepada anak-anak mereka. Semangat meneruskan pengalaman iman pada Perjanjian Lama ini perlu kita tiru. Paling tidak, jika ada pengalaman iman yang nyata dalam keluarga, perlu kita ceritakan terus-menerus. Tujuannya, agar keluarga memiliki iman yang teguh dan tak mudah goyah atau lupa. Pengalaman iman yang konkret harus merus-menerus diceritakan. Itulah kasih Allah yang nyata dalam keluarga. Dan itu membuat kita mencintai Tuhan yang konkret.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk dapat mengasihi Engkau dengan segenap hatiku, jiwaku dan harta milikku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan