10-Mei-KWI-R-702x336

PEKAN PASKAH  VI (P)
Santo Antonius dari Florence;  Santo  Gordianus dan
Epimakus; Beato Damianaus de Veuster

Bacaan I: Kis. 10:25-26.34-35.44-48;

Bacaan II: 1Yoh. 4:7-10;

Bacaan Injil: Yoh. 15:9-17

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Renungan

Pusat semua jenis kehidupan adalah cinta kasih. Seseorang itu sungguh hidup jika hidupnya penuh dengan kasih. Dengan demikian, ia sungguh mencerminkan hakikat Allah yang adalah kasih (bdk. 1Yoh. 4:8).

Yohanes memilih kata agape untuk mendefinisikan kasih. Agape menunjukkan intisari kasih yang tulus, yang tak harapkan imbalan. Kasih yang selalu menginginkan yang terbaik bagi sesama. Itulah kasih yang harus kita miliki. Oleh sebab itu, Yohanes berkata: Dimana orang sungguh dipenuhi dengan agape, di situ Allah hadir. Dimana ada kebenaran, cinta kasih, keadilan, kebebasan dan perdamaian, Allah pasti hadir.

Tuhan mengasihi kita tanpa batas, tetapi kasih itu tidak akan artinya jika tidak diteruskan kepada sesama (bdk. 1Kor. 13:1-13). Tuhan memanggil kita untuk mengasihi siapa pun tanpa pengecualian, seperti Ia mengasihi kita tanpa perhitungan (bdk. Mat. 5:45). Jadi, tidak terlalu susah bukan untuk menjadi seorang Kristiani yang baik? Kita cukup dengan serius mengasihi sesama, seperti halnya kita dikasihi Tuhan. Itu teori, praktiknya tentu tidak mudah!

Tuhan Yesus Kristus, berikanlah aku rahmat-Mu yang paling indah, yakni agar aku mampu dan mau mengasihi sesama. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan