SONY DSC

Bagi Mgr Josef Theodorus Suwatan MSC, hari ulang tahun (HUT) adalah perayaan biasa yang disyukuri bersama kelompok kecil di kapel rumah keuskupan, “namun menjadi istimewa karena HUT ke-75 ini dikaitkan dengan tugas dan usiaku sebagai uskup yang siap memasuki masa purnakarya.”

Uskup Manado itu mengaku sudah menyampaikan secara tertulis kepada Bapa Suci tentang batas usianya itu, dan “tinggal menanti jawaban.” Maka, lanjut uskup kelahiran Tegal tanggal 10 April 1940 itu, “perayaan ini menjadi perayaan syukur seluruh Gereja Keuskupan ini, terutama agar dianugerahi berkat kesehatan dan kekuatan untuk menyelesaikan sisa tugas ini, membaktikan diri bagi umat dan Gereja, sesuai inspirasi Tahun Hidup Bakti.”

Uskup Manado itu berbicara dalam Misa yang berlangsung di Gereja Katedral Manado, 10 April 2015. Sebanyak 65 imam, serta banyak biarawan-biarawati, dan umat hadir dalam perayaan itu. Hadir juga Uskup Monokwari-Sorong, Mgr Hilarion Datus Lega Pr, provinsial MSC Indonesia Pastor Benedikus Rolly Untu MSC, sejumlah pejabat dari Badan Kerjasama Antar Umat Beragama (BKSAUA) Provinsi Sulut, serta adik dari Mgr Suwatan, Pasutri Herman Sutrisna-Tien.

Santo Paus Yohanes Paulus II mengangkat Mgr Suwatan, yang waktu itu Provinsial MSC Indonesia, sebagai Uskup Manado 8 Februari 1990 dan ditahbiskan uskup 29 Juni 1990. Mgr Suwatan menggantikan Mgr Theodorus Hubertus Moors MSC yang juga memohon pensiun karena memasuki usia 77 tahun.

Rasul Petrus, kata Mgr Suwatan, hanyalah penangkap ikan biasa bahkan menyangkal sang Guru, namun diserahi tugas mewartakan Injil dan memaklumkan pertobatan dan pengampunan dosa. “Kita semua, meski hidup biasa-biasa, dipanggil Allah untuk ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus ini, sebagai uskup, imam, biarawan dan umat awam. Tugas perutusan kita sama meski berbeda fungsi pelayanan,” kata uskup seraya meminta semua belajar setia dan membangun komitmen sesuai tugas panggilan.

Sejak Yos kecil, masa studi, sebagai imam dan uskup, cerita Mgr Suwatan, dia bukan semata melihat keberhasilan dan kegagalan, tetapi “sebagai anak Maria, seperti Maria sendiri, mengalami semuanya mengalir saja, seraya coba selalu peka menangkap apa yang Tuhan rencanakan bagi hidupku.”

Mgr Suwatan baktikan 25 tahun terakhir untuk tugas uskup dengan segala kekuatan dan keterbatasan. “Susah, ya ada susahnya juga, tapi saya tak pernah merasa sendirian. Para imam, biarawan-biarawati dan umat mendukung saya. Juga relasi kemitraan dengan pemerintah dan pemimpin agama lain.”

Mgr Datus Lega mengaku sebagai uskup muda rela belajar dari uskup senior yang dia kenal sekitar 10 tahun saat menjadi Sekretaris Eksekutif Komisi PSE KWI dan 12 tahun terakhir sejak menjadi uskup. Ketika Mgr Suwatan menjadi Ketua KWI dari 1997 hingga 2000, jelasnya, Gereja Katolik Indonesia mengalami tiga presiden, Suharto, Habibie dan Gus  Dur.

“Ada ketidakstabilan politik luar biasa, krismon dan krisis ekonomi, dan berbagai pergumulan sosial-politik. Ketua KWI yang tinggal di Manado harus memimpin para uskup dan komisi-komisi KWI untuk memberi catatan kritis pada pemerintah. Karena kecerdasannya, Mgr Suwatan selalu menjadi finishing touch pada setiap naskah dan rekomendasi. Belum lagi dengan pendekatan pribadinya yang luar biasa kepada komisi-komisi di KWI,” tegas Mgr Datus Lega.

Ketika jadi Provinsial MSC, jelas Pastor Rolly Untu MSC, Mgr Suwatan menonjol dalam hal kunjungan kepada konfrater dan keluarganya “sampai ke pelosok.” Karena kebaikannya, lanjut imam itu, Mgr Suwatan menjadi provinsial “untuk tiga masa jabatan, meski sedikit menyalahi ketentuan.” Mgr Suwatan, lanjut Pastor Rolly Untu, adalah provinsial yang “memulai pengiriman misionaris MSC keluar negeri dan itu berlangsung sampai sekarang.”

Perayaan yang dipersiapkan oleh WKRI DPD Sulut itu dilanjutkan dengan resepsi di Wisma Montini yang juga dihadiri Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Gubernur Sulut SH Sarundayang, Wali Kota Manado GVS Lumentut,  Wakil Walikota Manado Haerley Mangindaan dan sejumlah besar pejabat denominasi Gereja Protestan.

Gubernur Sarundayang yang sambutannya mengingatkan masyarakat dan umat Katolik tentang gerakan radikal ISIS dan berbagai ancaman teroris yang menghantui perjalanan Gereja dan bangsa ikut menyaksikan berbagai atraksi tarian antara lain ‘selendang biru’ dari ketua-ketua DPC WKRI se-Sulut, tarian maengket dari WKRI Santo Yosep Pekerja Manado, serta tarian pasutri, OMK dan Sekami.

“Semuanya bagaikan persembahan syukur atas hari yang dijadikan Tuhan demi memperkokoh iman dan memupuk persaudaraan dalam umat dan dalam relasi kemitraan,” kata Uskup Suwatan (Sales Tapobali)

SONY DSC

Tinggalkan Pesan