Paus Maradona

Paus Fransiskus mengirim pesan video ke Stadion Olimpiade Roma, di mana beberapa pemain sepak bola terbaik, dulu dan sekarang, saling berhadapan dalam Pertandingan Antaragama untuk Perdamaian, pertandingan amal yang disarankan oleh Paus kepada Javier Zanetti dari Inter Milan di awal tahun ini, untuk mempromosikan perdamaian dan non-diskriminasi.

Zanetti adalah pensiunan kapten tim nasional sepak bola Argentina yang bisa bermain di banyak posisi. Pemain Inter Milan sejak 1995 dan kapten sejak 29 Agustus 1999 itu telah bermain lebih dari 1000 pertandingan resmi. Pele memilih dia sebagai 100 pemain terbaik dunia. Dia telah mengikuti 145 pertandingan internasional bersama tim nasional Argentina dan tampil dalam Olimpiade 1966 dan Piala Dunia 1998 dan 2002.

Bapa Suci memohon maaf kepada penonton, sebagian besar orang Italia, karena berbicara dalam bahasa Spanyol dalam video itu. “Itu bahasa hati saya, dan hari ini saya ingin berbicara dari hati saya,” kata Paus seraya berterima kasih kepada semua orang yang berpartisipasi dalam pertandingan 1 September 2014 itu.

“Saya senang kalian datang bersama-sama mengikuti permainan yang sangat simbolis ini,” kata Paus. “Pertandingan ini menyoroti persatuan tim-tim, dan persatuan semua orang yang hadir sebagai penonton, keinginan semua orang untuk perdamaian.”

Pertandingan eksibisi itu diselenggarakan bersama oleh Yayasan Pupi, badan amal yang berbasis di Buenos Aires yang didirikan oleh Zanetti, dan Scholas Occurentes, badan amal pendidikan yang diluncurkan oleh Paus. Hasil pertandingan akan diberikan untuk Scholas Occurentes itu.

Kedua tim yang berhadapan adalah Scholas yang dilatih oleh Arsene Wenger dari Arsenal dan Pupi yang dilatih oleh Gerardo Martino dari Argentina. Bapa Suci mengatakan, dalam pertandingan itu “tidak ada yang bermain sendiri,” melainkan bersama. Dikatakan, kalau lebih banyak orang ikut main sebagai sebuah tim, proses akan lebih besar.

“Dan bermain sebagai tim berarti kompetisi, bukannya perang, awal dari perdamaian,” kata Paus. “Untuk alasan ini, simbol pertandingan adalah pohon zaitun.” Di akhir sambutan, Paus memberi salam khusus kepada anggota Scholas dan mengatakan mereka akan menanam pohon zaitun untuk perdamaian di Stadion Olimpiade itu. “Saya mengundang semua orang untuk menanam bersama Scholas,” kata Paus.

Ribuan penggemar olahraga, muda dan tua, datang ke stadion itu untuk menonton permainan jago-jago sepak bola, antara lain Roberto Baggio, Javier Zanetti dan Diego Armando Maradona.

Agama-agama para pemain pun berbeda, ada Buddha, Katolik, Yahudi, Hindu, Islam dan Shinto. Mantan striker Argentina Maradona melakukan tendangan pertama dan bermain dalam semangat yang baik dalam suasana meriah.

Menurut Radio Vatikan, pertandingan itu dimaksudkan untuk mengumpulkan para pemain dan penggemar dalam momen persatuan dan solidaritas guna mendukung perdamaian dunia dan untuk menunjukkan kekuatan olahraga dalam membangun perdamaian..

Sebelumnya pertandingan, 50 mantan dan pemain profesional saat ini diterima Paus dalam audiensi di Vatikan. Pertandingan itu menunjukkan simbol bahwa “memungkinkan membangun budaya perjumpaan dan dunia yang damai, di mana para penganut agama yang berbeda bisa hidup bersama secara rukun dan saling menghormati dengan tetap mempertahankan identitas mereka,” kata Paus.

Menurut Paus, “diskriminasi” sama dengan “penghinaan” dan dengan pertandingan itu para pemain mengatakan “tidak untuk semua diskriminasi.”

“Agama,” lanjut Paus, “dipanggil untuk menjadi kendaraan perdamaian dan tidak pernah untuk menjadi kendaraan kebencian.”

Paus mengakhiri sambutan dengan mengatakan, “agama dan olahraga dapat berkolaborasi dan memberikan kepada masyarakat tanda-tanda zaman baru bahwa orang ‘tidak akan pernah lagi mengangkat pedang satu sama lain.”

Sekalipun mendapat dukungan Paus, tim Pupi memenangkan pertandingan dengan mengalahkan Scholas dengan skor 6-3. (pcp, berdasarkan Radio Vatikan dan Zenit.org)

Paus Sepak Bola untuk Perdamaian

Paus sepak bola

Tinggalkan Pesan