Rm. Agus_2

Devosan Kerahiman Ilahi tetap berada pada dua sisi kehidupan sebagai manusia normal, ada gembira dan sedih, ada sehat ada sakit, ada sukses ada gagal, dan sejenisnya. “Karena itu dibutuhkan tekad untuk senantiasa pasrah dan berserah secara total kepada kerahiman Ilahi sebagai penyelenggara hidup dan kehidupan manusia,” kata Kepala Paroki Sancta Familia Sikumana Kupang, Pastor Agustinus Pareira Pr.

Ratusan devosan Kerahiman Ilahi mengikuti Misa Minggu II Paskah, 27 April 2014, yang sekaligus dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi di Gereja Sancta Familia Sikumana, Kupang, NTT. Pastor Pareira didampingi para konselebran, Kepala Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta Pastor Enos Dau Pr, Kepala Stasi Oesapa Pastor Dedy Ladjar Pr,  dan Koordinator Devosi Kerahiman Ilahi Kota Kupang Pastor Siprianus Senda Pr.

Totalitas penyerahan diri, menurut Pastor Pareira dalam homilinya, harus mengandung makna dan dibarengi dengan penghayatan iman dan kepercayaan akan Kristus yang benar-benar telah bangkit. “Sosok Thomas yang kurang percaya yang ditonjolkan dalam Injil, sejatinya mengajarkan kita untuk lebih mendalami iman kita akan kebangkitan Kristus, meskipun situasi dewasa ini mengharuskan kita untuk tidak cepat percaya pada orang atau hal tertentu,” ujar mantan dosen di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang itu.

Pastor Sipri Senda berterima kasih kepada umat dan para devosan Kerahiman Ilahi dari berbagai paroki di Kota Kupang yang berkenan hadir dalam perayaan Ekaristi itu. Dosen di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui itu juga menjelaskan sejarah Devosi Kerahiman Ilahi yang disebarluaskan oleh Santa Faustina, termasuk “adanya larangan tentang devosi ini oleh Tahta Suci yang kemudian dicabut kembali karena kurangnya pembuktian atas larangan tersebut.”

Dijelaskan juga bahwa dalam waktu dekat juga akan diselenggarakan seminar ‘kecil’ tentang Devosi Kerahiman Ilahi. 

Misa itu diakhiri dengan mendaraskan doa Rosario Kerahiman Ilahi atau Koronka yang dipimpin oleh Firmus Fori dari Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui. (thomas  asogen)

Tinggalkan Pesan