Unika

Bekerja bukan semata-mata untuk mengejar karir. Orang yang bekerja juga membawa serta keluarganya dengan kesadaran bahwa bekerja untuk dan demi keluarga, bukan demi diri sendiri. Orang yang bahagia di dalam karir tetapi tidak bahagia di dalam keluarga, kebahagiaannya semu.

Pastor Yohanes Aristanto Hari Setiawan MSF berbicara dalam “Refleksi Karya Dosen dan Karyawan Unika Soegijapranata Semarang” yang dilakukan baru-baru ini di Bandungan, Jawa Tengah.

Dalam pembicaraan bertema “Keluarga sebagai Kunci Kebahagiaan dan Keberhasilan,” imam itu menegaskan bahwa bekerja itu bukan semata-mata untuk mengejar karir.  “Keluarga menjadi kunci bagi pengembangan karir,” tegas imam yang berkarya di Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulya Semarang.

Menurut imam dari kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) itu, keluarga dan karir tak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Kita diingatkan bahwa keluarga itu adalah community of love and life (komunitas cinta dan kehidupan).

Selain meminta 400 dosen dan karyawan Unika Soegijapranata untuk tidak meninggalkan keluarga demi mengejar karir, Pastor Aris menekankan bahwa intimitas atau kedekatan serta cinta kasih suami istri tetap harus berjalan. “Jangan sampai orang-orang yang kita cintai, kita korbankan.”

Pastor Aris menyegarkan kembali makna perkawinan Katolik. Menurutnya, ada tiga tujuan perkawinan Katolik, yakni kesejahteraan suami-istri,  keterbukaan terhadap keturunan, dan pendidikan anak. Perkawinan Katolik, lanjut imam itu, mengangkat nilai-nilai kasih, penghormatan dan pemahaman person, pertemanan dan relasi.

Banyak orang menikah dengan mendasarkan dirinya pada misi dan visi sendiri. Namun perlu disadari, kata Pastor Aris, bukanlah manusia yang menjadi creator dalam perkawinan melainkan Allah.

Motivator Andrie Wongso memberi peneguhan tentang pentingnya keluarga seraya mengisahkan perjalanan hidupnya dari kondisi serba menderita hingga meraih kesuksesan berkat didikan orangtua terutama ibunya yang selalu mengajarkannya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Sesulit apa pun hidupnya, ceritanya, orangtua selalu mengajarkan dia supaya selalu hidup baik. Didikan dan tempaan hidup yang dia alami menjadikan dia seorang yang memiliki karakter yang tak mudah menyerah, disiplin, dan menyelaraskan diri pada kebaikan. Hingga akhirnya ia menemukan semboyan hidup yang terkenal “Luar biasa!”

Menurutnya, hidup yang luar biasa adalah hidup yang mengaktualisasikan diri ke tingkat yang paling tinggi dan punya tujuan hidup yang baik. “Hidup adalah perjuangan, hidup adalah belajar, hidup adalah jujur, hidup adalah bertumbuh,” katanya.

Sementara itu, pembimbing rohani Unika Soegijapranata Pastor Yohanes Gunawan Pr menyampaikan paparan mengenai kisah Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang mengalami pendidikan dari kedua orangtuanya.

“Di dalam keluarganya, Soegija mendapat pendidikan yang baik dalam olah seni dan olah batin,” kata imam itu. Ayahnya mengajari Soegija seni tradisional, seperti bermain gamelan, menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk, dan kebijaksanaan hidup melalui olah kebatinan dan tembang, sedangkan ibunya mengajarinya pendidikan keluhuran budi dengan mengatur rasa dan kehendak, serta tahu sopan santun.(Lukas Awi Tristanto)  

Tinggalkan Pesan