Jhon Tra La La dkk Membawakan Kesenian Khas Banjar MADIHIN

Kebersamaan adalah suasana yang dirasakan Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin dan menjadi kata kunci kotbah Natal oleh Pendeta Gomar Gultom dari Gereja HKBP Jakarta saat Perayaan Natal Bersama TNI, Polri, PNS dan Masyarakat Kalimantan Selatan. Ibadat Natal dipimpin Pastor FA Susilo Nugroho CP, namun sebagian besar pendukung acara hiburan adalah kaum Muslim.

“Alhamdulilah, Kalimantan Selatan selama ini dapat hidup dalam kerukunan. Riak-riak yang terjadi justru menjadi perekat bagi kita untuk semakin maju, sehingga kita patut bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,” kata gubernur yang mengaku kehadirannya di malam tanggal 27 Desember 2013 itu adalah yang kesembilan menghadiri perayaan Natal sejak menjabat gubernur.

Yang ditampilkan di Gedung Sultan Suriansyah, Kayutangi,  Banjarmasin, malam itu, mulai dari paduan suara hingga tari-tarian “memberikan tanda simbolik tentang kebersamaan,” kata Rudy Ariffin seraya mengajak sekitar 7000 umat Kristiani yang hadir dari kota Banjarmasin dan sekitarnya untuk bersatu “menciptakan suasana kondusif untuk membangun Kalimantan Selatan.”

Malam itu Gubernur Kalsel menghimbau agar umat Kristiani bergandengan tangan dengan semua elemen masyarakat untuk menyongsong Pemilu tahun 2014 dengan sebaik-baiknya untuk menuju kejayaan bangsa dan negara Indonesia.

Kehadiran gubernur memang disambut paduan suara siswa-siswi SMK 3 Banjarmasin serta Tari Tor Tor oleh guru-guru SMP Santa Angela Banjarmasin. Ada juga penampilan mahasiswa-mahasiswi STKIP PGRI Banjarmasin mulai dengan Tari Radap Rahayu khas Banjar, disusul gerak tari kontemporer tentang kisah penciptaan dari Kitab Kejadian. Tari Saman dari Aceh, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Golek dari Jawa Tengah juga ditampilkan, dan beberapa gembala beserta domba-domba dalam dramatisasi “Domba Yang Hilang” menutup penampilan mereka. Peserta juga menyaksikan Tari Pendet, Tari Japin, Tari Ronggeng, serta Regina Idol, maestro seni tari Indonesia Didik Nini Thowok, Jhon Tralala dan kawan-kawan, serta beberapa artis lokal.

Acara hiburan dan ramah tamah bukan saja dihadiri Gubernur Kalsel, tapi Walikota Banjarbaru Ruzaidin Noor, Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Kalsel Abdul Halim H Ahmad, Anggota DPR dari Fraksi PPP Aditya Mufti Ariffin, pimpinan jajaran TNI dan Polri, perwakilan FKUB Kalsel, Pimpinan Banjarmasin Post dan jajaran Muspida Tingkat I maupun II.

Ketua Panitia Perayaan Natal 2013 Letkol Penerbang Esron Sinaga menggarisbawahi bahwa hampir 70% pendukung acara malam itu, khususnya pertunjukan etnik budaya dan lain sebagainya, adalah kaum Muslim. Juga dijelaskan bahwa rangkaian Perayaan Natal itu diisi kegiatan Bakti Sosial yang dilaksanakan serentak di seantero Kalimantan Selatan, serta pembagian bingkisan kepada para pendeta emeritus dan orang-orang yang tidak mampu.

Sebelum acara hiburan yang dihadiri gubernur dan pimpinan lain beragama Islam, umat Kristiani menjalankan ibadat dengan mendengar kotbah dari Pendeta Gomar Gultom yang bercerita tentang asal-muasal perayaan Natal di abad ke-4 Masehi. Tema perayaan itu adalah “Datanglah, ya Raja Damai.”

“Sesungguhnya perdamaian sejati hanya ada di dalam kebersamaan. Namun kenyataannya, masing-masing kita begitu mencintai diri sendiri; dengan memegang prinsip berbuat sekecil mungkin untuk memperoleh hasil lebih banyak. Selain itu, kita cenderung merasa butuh dicintai dan diperhatikan; akan tetapi tidak bersedia mencintai dan memperhatikan,” kata Sekretaris Umum PGI itu seraya menegaskan bahwa bahwa ketamakan, kerakusan, dan kekikiran mengganggu terwujudnya perdamaian.

Pendeta Gultom mengingatkan bahwa manusia tidak bisa menciptakan damai dengan usaha pribadi, sehingga mereka menanti-nantikan kedatangan Raja Damai yang adalah Kristus sendiri. “Kita semua terus-menerus dipanggil untuk menerima, menghayati, dan terutama mengamalkan damai sejahtera yang telah kita alami bersama,” tegasnya.(Dionisius Agus Puguh)***

Tinggalkan Pesan