IMG_2027

Bekerja sama dengan Kevikepan Kedu, Museum Misi Muntilan, Magelang, melakukan Gelar Budaya Hari Pahlawan 2013 yang disaksikan ribuan masyarakat dan diawali upacara bendera dengan pembina upacara Camat Muntilan Iwan Sutiarso yang juga menyampaikan amanat Menteri Sosial RI.

Direktur Museum Misi Muntilan Pastor Markus Nur Widipranoto Pr mengatakan, gelar budaya diadakan dalam rangka mengembangkan jiwa patriotisme dan jiwa nasionalisme. “Sebagai warga Indonesia, kita mau mengembangkan itu … dan sebagai orang Katolik, acara itu dilakukan dalam rangka mewarisi nilai-nilai dan menghidupi semboyan Romo Mgr Albertus Soegijapranata, 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.”

Pastor Nur menjelaskan, karya gerak misi khususnya di Asia lebih khusus lagi di Indonesia, dilakukan melalui dialog tiga matra, yakni dialog dengan umat beragama lain, dialog dengan kaum miskin, dan dialog dengan budaya.

Pastor Nur menambahkan, dialog dengan budaya menjadi peluang. “Maka, kami akan bermisi melalui budaya itu. Apalagi, budaya yang kami pilih adalah budaya tradisional, karena lebih cair. Itu menjadi dasar yang sama bagi masyarakat. Nah, dengan budaya inilah lalu akan merekatkan persaudaraan,” kata imam itu.

Dengan gelar budaya 10 November 2013, harap Pastor Nur, masyarakat semakin menghargai, melestarikan, dan mengembangkan seni-seni tradisional. “Apalagi ini kan memiliki nilai-nilai sejarah. Kalau melihat filosofinya, kesenian-kesenian seperti ini menjadi bentuk perjuangan rakyat kebanyakan dan juga kebudayaan seperti ini memiliki nilai religiositas cukup tinggi,” kata imam itu.

Selain itu, Pastor Nur berharap agar masyarakat semakin menghargai keberagaman sebagai anugerah yang harus diterima, disyukuri dan dikembangkan untuk menjaga keutuhan NKRI dan bersinergi membangun kebaikan bersama semakin banyak orang. Jadi, lanjut imam itu, perbedaan bukan pemecah belah atau hal menakutkan, tetapi hal yang sungguh menggembirakan.”

Ribuan orang turut menyaksikan Gelar Budaya hingga malam hari yang ditutup dengan pagelaran Ketoprak berjudul “nDhepani Ajining Dhiri” dengan para pemain di antaranya sejumlah imam.

Gelar Budaya bertema “Paseduluran Tanpa Tepi, Beda-beda itu Indah” itu dimulai dengan menampilkan kelompok-kelompok kesenian di wilayah Kevikepan Kedu. Acara itu melibatkan 10 kelompok kesenian seperti Jathilan, Topeng Ireng, Soreng, dan Komunitas Seni Gangsir Ngenthir. Sementara itu, sejumlah anak sekolah melakukan tabur bunga di Kerkof Muntilan.

Dalam menyiapkan acara itu, museum menggandeng sejumlah OMK Kevikepan Kedu, tokoh-tokon NU, Banser, Ansor dan masyarakat setempat. Upacara bendera, yang diawali penampilan drum band “Lumen Aeterna” SMPK Santa Maria Sawangan, diikuti peserta didik SD sampai SMU/SMK, KORPRI, Paguyuban Pangruktiloyo Santo Nikolas Paroki Santa Teresia Salam, dan relawan bencana alam.

Menurut Vikaris Episkopal Kedu Pastor FX Krisno Handoyo Pr, kesenian atau budaya tradisional adalah sarana bahasa komunikasi universal dan sangat ampuh untuk menyampaikan pesan, aspirasi dan perjuangan hidup, “serta yang utama untuk semakin mempererat jalinan persaudaraan sejati.”

Di Lapangan Pastoran Muntilan, Iwan Sutiarso menegaskan, sejarah telah mencatat bahwa perjuangan untuk mendirikan NKRI yang saat ini menjadi bangsa bermartabat dan terhormat adalah bukan hadiah, atau pemberian dari pihak mana pun, tetapi melalui proses perjuangan yang sangat panjang, heroik dan disemaikan pengorbanan yang luar biasa.

“Kita harus memaknai Hari Pahlawan bukan sekadar ungkapan atau syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, tapi sekaligus sebagai refleksi terhadap keyakinan jatidiri bangsa yang bermartabat, inspirasi  oleh para pejuang kita yang telah gugur di medan laga,” katanya.***

Tinggalkan Pesan