OJR copy

“Decak kagum menghampiri saya, saat menyadari betapa luar biasanya malam hari ini. Kita disatukan di tempat ini dengan satu keinginan untuk melihat sisi lain kehidupan romo-romo dan para calonnya, khususnya para romo diosesan Keuskupan Agung Semarang,” kata Pastor Matheus Djoko Setya Prakosa Pr.

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya, Semarang, itu berbicara di hadapan sekitar 3000 penonton yang hadir untuk menyaksikan Opera Jenaka Romo “Punakawan Menggugat” yang dipentaskan oleh para imam di Krakatau Grand Ballroom Hotel Horison Semarang, 22 Oktober 2013.

“Kita akan menyaksikan polah tingkah para romo … sisi kemanusiaan para romo … Dan malam ini, kita akan menyaksikan bahwa di balik sisi kesalehan, juga ada sisi kenakalan, di balik penampilan sebagai seorang bapak ada juga sisi kekanak-kanakannya, ada juga sifat di mana keseriusan juga diimbangi dengan canda dan jenaka, bahkan di balik sifat maskulinnya ada juga sifat feminimnya,” kata imam itu,

Opera yang dilakoni 15 imam diosesan Semarang, tak terkecuali Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta membuat para penonton tertawa. Baru beberapa saat para imam itu tampil, penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal mendengar dan menyaksikan polah tingkah mereka di atas panggung.

Opera yang disutradarai seniman Djaduk Ferianto dan dimeriahkan oleh Didik Nini Thowok, Susilo Nugroho, Joice Triatman, Maria Dona Arsinta, Trio GAM dan Kua Etnika sebagai musik pengiring itu dipentaskan untuk menggalang dana bagi rehabilitasi Seminari TOR Sanjaya yang sudah mengalami kerusakan.

Seminari TOR Sanjaya, Jangli, Semarang, dibangun untuk membentuk dasar-dasar hidup rohani yang mantap guna mengantar dan mempersiapkan para calon imam diosesan dalam menghayati hidup panggilannya menjadi Imam Kristus di keuskupan.

Punakawan yang berjumlah 4 orang itu terdiri dari tokoh Semar (Pastor Antonius Suparyono Pr), Gareng (Pastor Julius Blasius Fitri Gutanto Pr), Petruk (Pastor Agustinus Suryo Nugroho Pr), dan Bagong (Pastor Antonius Budi Wihandono Pr).

Karena gonjang-ganjing zaman edan di marcapada (dunia), para punakawan berniat mengadu ke khayangan. Dalam perjalanan, mereka dihadang oleh raksasa genit alias Buta Cakil bencong (Didik Nini Thowok). Namun, kesulitan itu bisa dilalui dengan perjuangan mereka.

Akhirnya, mereka sampai di khayangan dan mengadu pada Bathara Guru (Susilo Nugroho). Karena tak bisa memberikan solusi dengan baik, Bathara Guru melimpahkannya kepada Tamu Agung Pejabat Gereja (Mgr Johannes Pujasumarta) yang sudah lebih dulu tiba di khayangan.

Semar mengatakan pada Mgr Johannes Pujasumarta bahwa dunia sekarang sedang mengalami persoalan yang membuat banyak orang bingung dan semakin sulit mengatakan keadilan dan kejujuran. Para imam sebagai pemuka jemaat pun sampai bingung.

“Juga para calon romo. Mereka membutuhkan tempat untuk bisa mengendapkan sebentar, barang sejenak dan mengolah kerohanian. Sementara kami banyak mengalami kesulitan. Ini persoalan yang sedang dihadapi,” kata Semar.

Mgr Pujasumarta lalu meminta mereka melepaskan “badut-badutnya” atau topeng-topengnya, kalau ingin mendapatkan suatu kehidupan yang dalam. “Maka saudara-saudara semua pada kesempatan ini  berkumpul bersama untuk mendukung disediakannya tempat itu, sehingga para calon pemimpin itu bisa unjal ambegan (menghela nafas sesaat), yaitu seminari tahun orientasi rohani,” kata Uskup Agung Semarang.

Mgr Pujasumarta berterima kasih kepada umat yang telah mendukung tempat untuk para imam dan calon-calon imam dapat melepaskan topeng-topeng untuk mengukuhkan jati diri mereka sebagai manusia yang bersedia menanggapi panggilan Tuhan.***