IMG_0064

Ke dalam tangan-Mu, kuserahkan diriku, ya Tuhan Penyelamatku. Doa malam (completorium) penyerahan itu dinyanyikan tiga kali oleh Uskup Manado Mgr Josephus Suwatan MSC dan para imam di depan jenazah Pastor Hermanus Klemens Kaawoan Pr yang terbaring di kapel Seminari Tinggi Hati Kudus Pieneleng, Sulut, 20 September 2013.

Pastor Herman memang menyanyikan lagu itu setelah menerima Sakramen Perminyakan dari Vikjen Keuskupan Amboina Pastor Agus Ulahayaan Pr, setelah memberikan berkat dalam bahasa Latin “In nomine Patris, et Filii et Spiritus Sanctii … Amen” kepada para dokter, suster dan perawat serta teman-teman imamnya, sesaat sebelum meninggal di sebuah rumah sakit di Ambon, 18 September 2012.

Kehadiran 101 imam konselebran dan sekitar 800 umat termasuk suster, bruder dan frater dalam Misa sebelum peti jenazah ditutup dan diberangkatkan ke pemakaman para imam di Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon, mendorong Mgr Suwatan untuk mempertanyakan tentang kehidupan imamat.

Kematian Vikaris Judicial atau wakil uskup bidang hukum Gereja itu mengerakkan banyak imam dan awam untuk berkomentar baik secara langsung dan lewat media sosial tentang kehidupan Pastor Herman. “Kematian Pastor Herman mengungkapkan sesuatu yang indah, sehingga memunculkan segala pengalaman baik yang umat rasakan dari padanya. Inilah kesempatan bagi para imam yang berkumpul sekitar jenazahnya untuk merefleksikan kehidupan imamat kita.”

Mgr Suwatan mengutip bacaan liturgi 19 September 2013 saat jenazah dibawa dari Ambon ke Manado yakni 1 Tim 4:12-16, karena “inti pesan Paulus kepada Timoteus, orang muda yang baru ditahbiskan dengan penumpangan tangan Paulus dan sidang penatua, menggema kembali dalam ungkapan-ungkapan umat dan rekan-rekan imam tentang siapa Pastor Herman ini.”

Uskup mengutip tulisan rekan imam yang cukup mempresentasikan pengalaman tentang almarhum. “Syukur dan terima kasih karena Tuhan telah menghadirkan gembala yang setia bagi umat Keuskupan Manado dan setia bagi para imamnya. Engkau sudah menjadi sumber inspirasi bagi umat dan bagi teman-teman imammu. Engkau sudah jadi suri rohani bagi banyak orang. Hidupmu adalah kesaksian iman dan kematianmu menghentakkan untuk belajar lebih lagi bagi Dia yang kauabdi,” tulis imam itu.

Membaca dan mendengar berbagai ungkapan yang muncul saat kematian Pastor Herman, Mgr Suwatan yakin bahwa almarhum telah membaca dan memperhatikan nasehat Rasul Paulus kepada Timoteus. “Poin-poin yang Paulus sampaikan kepada Timoteus ini untuk kita semua, uskup serta pastor termasuk yang sudah tua, sesuai suasana pembaharuan Paus Fransiskus yang mengajak kita menghayati panggilan dan perutusan imamat kita,” kata Mgr Suwatan.

Melihat Timoteus sebagai orang muda, Paulus mengatakan, “Jangan seorang pun menganggap dirimu rendah karena engkau masih muda.” Kualitas seorang imam, tegas Mgr Suwatan, tidak diukur pada usianya. “Jadilah teladan bagi orang-orang beriman, dalam perkataan dan tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan dan kesucianmu. Sementara itu, …, bertekunlah dalam membaca Kitab Suci, dalam membangun dan mengajar umat.”

Menyinggung karunia pentahbisan, Paulus mengatakan, “Janganlah lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang diberikan oleh penumpangan tangan dari sidang penatua disertai nubuat.” Mgr  Suwatan menegaskan, menjadi imam bukan administratif karena SK, tapi “karena karunia penumpangan tangan, sakramen yang menjadi kekuatan kita.”

Paulus mengatakan, “Perhatikanlah semuanya itu dan hiduplah di dalamnya, supaya kemajuanmu nyata bagi semua orang.” Itu, tegas uskup, akan nyata dalam keseharian, saat orang melihat dan merasakan bahwa inilah imam di antara kita. Dengan perkataan, “Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu,” lanjut Mgr Suwatan, Paulus minta agar Timoteus menjaga dan kritis terhadap diri sendiri dengan bertanya apakah ajarannya sesuai ajaran Kristus atau tidak. Sedangkan mengomentari kalimat “Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau,” Mgr Suwatan berharap agar para imam menyelamatkan diri mereka sendiri dan setia pada anugerah penumpangan tangan.

Tanggal 8 Januari 1994, ada sembilan 9 imam yang ditahbiskan bersama-sama dengan Pastor Herman Kaawoan. Mereka semua hadir, dan satu di antaranya, Pastor Rein Saneba Pr membagi pengalamannya bersama almarhum, yang pernah meraih Licentiate Hukum Kanonik dari Universitas Pontifikal Urbaniana di Roma dan diploma dalam Hukum Gereja di universitas yang sama.

Mendengar kematian itu, Pastor Saneba bertanya, “Ini Tuhan main-main atau ba butul ini?” Namun imam itu percaya, Tuhan itu “tremendum et fascinosum” (menakutkan dan mencengangkan) “sehingga dengan peristiwa itu Tuhan mempertemukan banyak pastor, biarawan-biarawati, dan umat, serta menyadarkan bahwa semua akan meninggal, tapi kalau meninggal dalam Tuhan, akan ada peristiwa mengagumkan, karena Tuhan tidak pernah mematikan tetapi selalu menghidupkan.”

Setelah diberkati oleh Mgr Suwatan di akhir Misa, jenazah dibawa ke pemakaman di Seminari Kakaskasen, sekitar 20 kilometer dari Pineleng. Sebelumnya, jenazah mampir di Biara Komunitas Suster Ordo Karmel Tak Berkasut dekat seminari itu. Begitu banyak umat, imam serta suster sudah menanti di seminari. Setelah diterima oleh Rektor Seminari Kakaskasen Pastor Poltje Pitoy MSC, arak-arakan yang didahului Drumband Seminari Menengah Kakaskasen membawa jenazah yang dipikul oleh delapan frater ke pemakaman di belakang seminari itu untuk dimakamkan.

Pastor Agus Ulahayaan  memimpin ibadah pemakaman Pastor Herman yang baru akan berusia 47 tahun tangga 23 November 2013 nanti. Namun, pemakaman baru selesai di saat suasana malam sudah turun di seminari yang dingin di bawah kaki Gunung Lokon itu karena lubang kubur yang digali tidak sesuai ukuran penutup makam itu.

Tapi, menurut Ekonom Seminari Tinggi Pineleng Pastor Melky Malingkas Pr, dalam pembicaraan terakhir almarhum bercerita bahwa kamar yang ditempatinya sekarang (di Seminari Pineleng) akan dia sendiri akan merenovasi, mengecat, memasang shower kamar mandi dan AC, serta memperbaharui kanopi di depan kamar, tanpa harus seminari memikirkan biayanya. “Ini kan akan menjadi kamar saya untuk selama-lamanya,” kata Pastor Herman seperti dikutip oleh Pastor Melky.

Benar, kata Pastor Melky. “Pastor Herman telah mempersiapkan rumah atau kamarnya untuk selamanya, yakni di rumah Bapa. Bukan sekedar ada AC, cat baru, shower dan kanopi baru, tetapi kehidupan dan kebahagiaan kekal bersama Bapa di Surga.”***

IMG_0189