PenaKatolik.Com | Apa yang membuat seseorang tetap setia menjalani panggilan hidup membiara selama puluhan tahun?
Bagi Suster Daria Tumin, SFIC, jawabannya bukan terletak pada kuatnya manusia menghadapi kehidupan, melainkan pada cinta Allah yang terus menopang setiap langkah. Keyakinan itulah yang dibagikannya saat mewakili para pestawati dalam Perayaan Syukur Kaul Kekal dan Pesta Hidup Membiara Suster Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) Provinsi Indonesia di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Suster Daria, yang merayakan 40 tahun hidup membiara, mengungkapkan bahwa perjalanan panggilan tidak selalu berlangsung mudah. Ada sukacita, tetapi ada pula tantangan, kegagalan, dan kerapuhan manusiawi yang menguji kesetiaan.
Namun, cinta Allah menjadi kekuatan untuk terus melangkah dalam berbagai tugas perutusan.

“Cinta Allah itulah yang mengikat, memurnikan, dan meneguhkan panggilan ini dari hari ke hari,” ungkapnya.
Berasal dari Paroki Gembala Baik Kuala Dua, Keuskupan Sanggau, Suster Daria saat ini menjalani perutusan sebagai anggota Dewan Penasehat Pimpinan Jenderal SFIC di Marikina, Filipina.
Pengalaman panggilannya menjadi bagian dari kesaksian tentang bagaimana penyerahan diri kepada Allah terus dihidupi dalam perjalanan waktu dan perubahan tanggung jawab pelayanan.

Kaul Kekal, Awal Penyerahan Diri
Dalam sambutannya, Suster Daria secara khusus menyampaikan pesan kepada dua suster yang baru mengikrarkan kaul kekal.
Dia mengingatkan bahwa janji seumur hidup bukanlah akhir dari pencapaian, melainkan awal perjalanan penyerahan diri yang semakin mendalam.
Dia mengajak kedua suster untuk tetap setia dalam perkara-perkara kecil, tekun dalam doa, dan menjadi saksi kasih bagi dunia. Ketika kejenuhan atau tantangan datang dalam tugas perutusan, keduanya diharapkan kembali mengingat alasan mendasar yang membawa mereka memilih jalan hidup tersebut: cinta kepada Allah.
Pesan itu juga berlaku bagi para suster yang merayakan jubileum. Menurut Suster Daria, perjalanan 25, 40, 50, hingga 60 tahun hidup membiara merupakan kesempatan untuk mensyukuri penyertaan Tuhan sekaligus memperbarui semangat pelayanan.

Mengajak Kaum Muda Menjawab Panggilan
Suster Daria turut menyampaikan ajakan kepada kaum muda agar tidak memandang kehidupan membiara semata-mata sebagai beban atau pengorbanan yang berat. Dia mengundang mereka untuk melihat kesetiaan para suster sebagai kesaksian tentang penyertaan Allah sepanjang perjalanan hidup.
“Jika Tuhan yang memanggil, Dia jugalah yang akan memampukan dan mencukupkan segala yang kalian butuhkan,” pesannya.
Bagi dia, panggilan hidup membiara merupakan perjalanan cinta bersama Yesus. Karena itu, kaum muda yang merasakan kerinduan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan diajak untuk tidak takut membuka hati dan mengenali panggilan tersebut.
Di akhir sambutannya, Suster Daria menyampaikan terima kasih kepada kongregasi, pimpinan tarekat, para imam, keluarga, sahabat, donatur, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan dan perutusan para suster.
Dia juga memohon dukungan doa agar mereka senantiasa setia, rendah hati, dan mampu memancarkan kasih Allah sampai akhir hayat.
Perayaan tersebut menegaskan bahwa kesetiaan hidup membiara tidak hanya dikenang melalui lamanya waktu pengabdian, tetapi juga melalui kesediaan untuk terus memberikan diri. Dalam semangat Fransiskan, perjalanan itu berakar pada cinta Allah yang menguatkan, memurnikan, dan menuntun setiap suster untuk terus menjadi berkat bagi sesama. (Samuel)

Yang Mengikrarkan Kaul Kekal
Suster Teresia Sumanti, SFIC
Saat ini menjalani tugas perutusan studi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak.
Suster Margareta Yeni, SFIC
Saat ini menjalani perutusan studi Ilmu Hukum di Universitas Panca Bhakti Pontianak.
Kedua saudari kita ini berasal dari Paroki Santo Agustinus dan Santo Matias Darit, Keuskupan Agung Pontianak.
Jubilaris 60 Tahun Hidup Membiara
Suster Angelita Limas, SFIC
Berasal dari Paroki Gembala Baik, Keuskupan Agung Pontianak. Saat ini menjalani dan menikmati masa tua di Komunitas Santo Antonius Pontianak.
Suster Saveria Arpina, SFIC
Berasal dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Jalin, Keuskupan Agung Pontianak. Saat ini menjalani perutusan sebagai penanggung jawab kantin di Persekolahan Suster Singkawang.
Jubilaris 50 Tahun Hidup Membiara
Suster Yulia Oyen, SFIC
Berasal dari Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Pusat Damai, Keuskupan Sanggau. Saat ini menjalani perutusan di Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang.
Jubilaris 40 Tahun Hidup Membiara
Suster Daria Tumin, SFIC
Berasal dari Paroki Gembala Baik Kuala Dua, Keuskupan Sanggau. Saat ini menjalani perutusan sebagai anggota Dewan Penasehat Pimpinan Jenderal SFIC di Marikina, Filipina.
Suster Lucia Sariani, SFIC
Berasal dari Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Balai Sebut, Keuskupan Sanggau. Saat ini menjalani perutusan sebagai Pimpinan Komunitas Santo Yosep Pusat Damai.
Suster Hilar Yavini, SFIC
Berasal dari Paroki Salib yang Tersuci Beduai. Saat ini bertugas sebagai Guru Bimbingan Konseling di SMP Suster Pontianak.
Jubilaris 25 Tahun Hidup Membiara
Suster Priska Seli S., SFIC
Berasal dari Paroki Noyan. Saat ini bertugas sebagai Bendahara Yayasan PSM sekaligus anggota Dewan Penasehat Pimpinan Provinsi SFIC Indonesia.
Suster Prisila, SFIC
Berasal dari Paroki Gembala Baik Kuala Dua. Saat ini bertugas sebagai Kepala Fasilitas dan SDM di Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang, sekaligus sebagai Pendamping Junior.



