Demi Cinta Allah, Sepuluh Suster SFIC Teguhkan Kesetiaan Panggilan

PenaKatolik.Com | Kesetiaan bukan berarti perjalanan tanpa badai, melainkan keberanian untuk terus melayani tanpa kehilangan sukacita. Pesan itu mengemuka dalam Perayaan Syukur Kaul Kekal dan Pesta Hidup Membiara sepuluh Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) Provinsi Indonesia di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Dua suster mengikrarkan kaul kekal, sementara delapan lainnya merayakan 25, 40, 50, dan 60 tahun hidup membiara.

Perayaan Ekaristi dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, didampingi para imam konselebran. Dua suster yang mengikrarkan kaul kekal ialah Suster Teresia Sumanti dan Suster Margareta Yeni.

Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panggilan sekaligus peneguhan untuk terus mengabdikan diri kepada Allah dan sesama.

Dalam homilinya, Uskup Samuel menegaskan bahwa panggilan hidup membiara menuntut kesungguhan, bukan sikap setengah hati. Mengacu pada sabda Yesus tentang mereka yang meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti-Nya, dia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak berarti bebas dari kesulitan, tetapi mampu menghadapi tantangan bersama Tuhan.

“Kalau kita sudah siap meninggalkan segala-galanya, kita juga siap menghadapi segala-galanya,” tegasnya.

Menurut Uskup Samuel, panggilan yang dihidupi dengan sungguh-sungguh memungkinkan seseorang bertahan dalam penderitaan tanpa kehilangan sukacita. Karena itu, para suster dan seluruh umat diajak memperdalam iman, doa, serta komitmen dalam menjalankan panggilan masing-masing.

ARSIP – Suster SFIC yang ditampilkan di perayaan Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Suster SFIC. Gereja Katedral Pontianak, oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap.

Kesetiaan yang Bertumbuh dalam Cinta

Mewakili para pestawati, Suster Daria Tumin, SFIC, menggambarkan perjalanan hidup membiara sebagai pelayaran yang kadang tenang, tetapi tidak jarang diterpa badai, tantangan, dan kerapuhan manusiawi.

Dia menegaskan bahwa cinta Allah menjadi kekuatan yang memungkinkan para suster bertahan dan tetap setia dalam berbagai tugas perutusan.

“Demi cinta Allah, kami dimampukan untuk melewati setiap tugas, perutusan, bahkan di tempat-tempat yang tersulit sekalipun,” ungkapnya.

Dia mengajak para suster yang merayakan jubileum untuk melanjutkan perjalanan panggilan dengan semangat baru.

Kepada kedua suster yang mengikrarkan kaul kekal, dia mengingatkan bahwa ikrar tersebut bukan akhir pencapaian, melainkan awal penyerahan diri seumur hidup. Kaum muda pun diajak tidak takut mempertimbangkan panggilan hidup membiara sebagai perjalanan cinta bersama Yesus.

Sementara itu, Pemimpin Provinsi SFIC Indonesia, Suster Yulita Imelda, SFIC, menyampaikan apresiasi kepada para suster atas kesetiaan dan pengabdian mereka selama puluhan tahun. Dia juga berterima kasih kepada keluarga, para imam, rekan kerja, donatur, dan semua pihak yang mendukung perjalanan panggilan serta pelayanan kongregasi.

Mengutip pesan Suster Teresia van Miert tentang hakikat panggilan religius, Suster Yulita menegaskan bahwa keberhasilan duniawi bukanlah tujuan utama hidup membiara. “God did not call us to be successful but to be faithful,” ujarnya, yang berarti Tuhan tidak memanggil untuk menjadi sukses, melainkan untuk setia.

Baginya, kaul kekal menuntut komitmen, ketaatan, kerendahan hati, dan pengabdian tanpa batas waktu. Kedua suster yang baru mengikrarkan kaul kekal juga tetap membutuhkan dukungan dan doa agar mampu menjaga janji suci tersebut.

ARSIP – Suster SFIC yang ditampilkan di perayaan Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Suster SFIC. Gereja Katedral Pontianak, oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap.

Menjadi Berkat bagi Sesama

Mgr. Samuel turut mengapresiasi pelayanan para suster SFIC di Keuskupan Agung Pontianak, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Pengabdian selama 25 hingga 60 tahun menjadi kesaksian nyata tentang bagaimana panggilan hidup membiara diwujudkan melalui pelayanan kepada Gereja dan masyarakat.

Perayaan dilanjutkan dengan ramah tamah dan santap siang bersama di Aula Persekolahan Suster Pontianak, Jl. A. R. Hakim No. 106,. Sukacita perayaan tidak hanya menandai perjalanan panjang para suster, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan zaman dan tantangan pelayanan, pesan perayaan ini tetap relevan yaitu panggilan bukan sekadar tentang berapa lama seseorang menjalani hidup membiara, melainkan bagaimana kesetiaan itu terus menghasilkan kasih, pelayanan, dan berkat bagi sesama.(Samuel)

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini