PenaKatolik.Com | Krisis lingkungan hidup bukan sekadar persoalan alam yang mengalami kerusakan, melainkan juga mencerminkan krisis manusia dalam memandang dan memperlakukan ciptaan. Sebagai Bruder MTB, kami melihat bahwa kerusakan lingkungan berakar pada cara pandang, pola pikir, dan gaya hidup manusia yang menempatkan dirinya sebagai pusat (antroposentrisme), bukan sebagai bagian dari seluruh ciptaan.
Penebangan pohon tanpa batas, pencemaran sungai oleh sampah dan bahan kimia, serta menurunnya kualitas udara merupakan gambaran nyata dari keserakahan dan ketidakpedulian manusia terhadap alam. Dalam terang iman, bumi bukanlah objek yang dapat dieksploitasi sesuka hati, melainkan rumah bersama yang dipercayakan Tuhan kepada manusia sebagai Imago Dei atau citra Allah, untuk diusahakan dan dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Pandangan ini sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus. Ensiklik tersebut mengajak manusia menyadari bahwa krisis ekologis merupakan panggilan untuk mengalami pertobatan ekologis. Pertobatan ini tidak cukup diwujudkan melalui perubahan perilaku lahiriah, tetapi harus dimulai dari pembaruan hati dan cara pandang. Manusia perlu meninggalkan gaya hidup konsumtif dan belajar hidup sederhana, beralih dari eksploitasi menuju perawatan, serta membangun relasi yang lebih bertanggung jawab dengan alam.
Dalam semangat tersebut, Bruder MTB dipanggil menjadi saksi hidup spiritualitas ekologis. Panggilan ini diwujudkan melalui kehidupan sederhana, kedekatan dengan alam, serta upaya menanamkan nilai cinta terhadap seluruh ciptaan kepada masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus kehidupan.
Perhatian terhadap lingkungan hidup juga menjadi bagian penting dari karya pendidikan dan pelayanan Bruder MTB. Anak-anak dan kaum muda dibina agar memiliki kesadaran ekologis sejak dini. Mereka diajak mencintai alam, mengurangi sampah, dan menghargai kehidupan. Pendidikan semacam ini tidak hanya berorientasi pada upaya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membentuk manusia yang mampu membangun masa depan yang lebih manusiawi.
Melalui pendidikan ekologis (ekopedagogi) yang berakar pada iman, Bruder MTB berharap dapat membentuk pribadi-pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam menghormati, menghargai, dan merawat bumi. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan tanggung jawab moral setiap pribadi.
Salah satu wujud konkret kepedulian tersebut adalah program JPIC Bruder MTB yang dikenal dengan gerakan “Bersih dan Hijau”. Gerakan bersih diwujudkan melalui pengelolaan sampah, termasuk mengolah sampah organik menjadi kompos atau pupuk. Sementara itu, gerakan hijau dilakukan dengan menciptakan lingkungan komunitas yang asri melalui penanaman pohon dan berbagai jenis tanaman.
Selain itu, Bruder MTB mengembangkan gerakan “Menanam Apa yang Dimakan dan Makan Apa yang Ditanam.” Gerakan ini mendorong setiap komunitas untuk menanam dan mengonsumsi bahan pangan organik, seperti sayuran, buah-buahan, tanaman apotek hidup, serta berbagai tanaman bumbu dapur. Upaya ini menjadi salah satu bentuk kesadaran untuk membangun pola hidup yang lebih sehat dan dekat dengan alam, terutama ketika masyarakat semakin bergantung pada bahan pangan instan dan produk yang berpotensi mengandung bahan kimia.
Melalui gerakan tersebut, Bruder MTB berusaha membangun kebiasaan hidup yang sederhana, sehat, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Tindakan menanam dan mengonsumsi hasil tanaman sendiri bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan untuk menghargai proses kehidupan dan menjaga keseimbangan alam.
Bagi Bruder MTB, merawat lingkungan merupakan ungkapan iman dan kasih. Kasih kepada Tuhan diwujudkan melalui penghormatan terhadap seluruh ciptaan-Nya, sedangkan kasih kepada sesama dinyatakan melalui usaha menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang. Dengan demikian, kepedulian ekologis tidak dapat dipisahkan dari kehidupan iman dan tanggung jawab terhadap sesama manusia.
Menghadapi krisis lingkungan hidup, Bruder MTB terus berusaha melakukan tindakan-tindakan sederhana yang bermanfaat, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan komunitas. Setiap Bruder dipanggil untuk mengambil bagian melalui tindakan nyata sesuai dengan kemampuan dan lingkungan masing-masing. Perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bruder MTB juga menyadari pentingnya bersuara dan bertindak untuk menumbuhkan harapan bahwa perubahan masih mungkin terjadi. Harapan itu dimulai dari kesediaan setiap pribadi untuk mengevaluasi gaya hidupnya, membangun kepedulian terhadap alam, dan membuka hati terhadap panggilan pertobatan ekologis.
Karena itu, keterlibatan Bruder MTB dalam menghadapi krisis lingkungan hidup tidak berhenti pada seruan atau wacana. Lebih dari itu, keterlibatan tersebut merupakan usaha untuk mewujudnyatakan iman melalui tindakan konkret yang berakar pada ekoteologi dan semangat Laudato Si’. Merawat bumi menjadi bagian dari panggilan untuk menghormati Sang Pencipta, menjaga kehidupan, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang. (Br. Gerardus Weruin, MTB – Selat Panjang)



