SAMARINDA, Pena Katolik — Perayaan penuh syukur dan sukacita mewarnai GOR Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kongregasi Suster Santa Perawan Maria (SPM) memperingati satu abad (100 tahun) kehadiran dan karya misi mereka di Indonesia.
Perayaan akbar yang mempertemukan para biarawati, pemimpin Gereja, pelajar, serta komunitas pendidikan dari berbagai wilayah ini tidak hanya menandai tonggak sejarah seabad sejak 1926 hingga 2026, tetapi juga dirangkaikan dengan HUT ke-10 pembagian Provinsi Indonesia menjadi Provinsi Samarinda dan Provinsi Probolinggo, serta apresiasi yubileum hidup bakti para suster.
Semangat Pionir
Perayaan Ekaristi syukur dipimpin langsung oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto. Dalam khotbahnya, Uskup Yustinus mengajak para suster untuk memaknai panggilan hidup membiara lebih dari sekadar menunaikan tugas dari pimpinan, melainkan membiarkan Roh Kudus membimbing setiap langkah pelayanan.
Mgr. Yustinus mengenang kembali kedatangan tujuh suster perintis SPM dari Amersfoort, Belanda, yang tiba di Probolinggo, Jawa Timur, pada 11 Oktober 1926 silam. Mengingat kunjungannya ke Amersfoort pada bulan sebelumnya, Uskup menyebutkan bahwa perjalanan para misionaris pendahulu penuh dengan keberanian dan pengorbanan besar.
“Jika misionaris masa kini mungkin kerap mengkhawatirkan fasilitas atau sinyal ponsel, para perintis dulu berlayar ke negeri yang sangat jauh tanpa teknologi dan kenyamanan yang kita nikmati hari ini,” kenang Mgr. Yustinus.
Keteladanan tersebut, imbuhnya, harus menjadi inspirasi bagi para suster saat ini untuk memperbarui komitmen misi, bukan sekadar mengenang pengorbanan generasi masa lalu.
Berkat Apostolik
Dalam rangkaian acara tersebut, Dewan Pimpinan Jenderal menyerahkan sertifikat berkat apostolik dari Paus Leo XIV kepada para Suster SPM Provinsi Samarinda. Sr. Yulita Marie, SPM, yang mewakili Dewan Pimpinan Jenderal, mengungkapkan bahwa satu abad perjalanan misi di Indonesia adalah kisah tentang kebaikan dan kasih Tuhan yang nyata melalui kerelaan para suster untuk diutus ke mana pun mereka dikehendaki.
Perayaan semakin meriah dengan berbagai persembahan seni dan budaya dari para siswa sekolah di bawah naungan yayasan kongregasi—mulai dari Kutai Barat, Samarinda, Kalimantan Selatan, hingga Pamulang (Tangerang Selatan). Acara ini juga meluncurkan himne 100 tahun misi SPM, maskot, serta jingle Yayasan Mater Dei Kalimantan.
Puncak sukacita juga ditandai dengan penghargaan bagi para suster yang merayakan kesetiaan hidup bakti: Yubileum 50 Tahun: Sr. Maria Elsa dan Sr. Maria Anita; Yubileum 40 Tahun: Sr. Maria Victoria; Yubileum 25 Tahun: Sr. Maria Brigita dan Sr. Maria Teresiani.
Perayaan ditutup dengan ramah tamah yang hangat. Mgr. Yustinus menyampaikan apresiasi mendalam atas pengabdian para suster di berbagai keuskupan melalui dunia pendidikan, karya pastoral, dan pelayanan sosial.
Peringatan seabad ini menegaskan kembali komitmen Kongregasi SPM pada moto hidup bakti mereka, Tota Christi Per Mariam (Seluruhnya untuk Kristus melalui Maria), dalam melayani Gereja dan masyarakat dengan semangat kesetiaan serta penghormatan pada martabat manusia.



