Kardinal Radcliffe: Di Era Kecerdasan Buatan (AI), Perlu Dorongan untuk Kaum Muda agar Berani Bertanya

VATIKAN, Pena Katolik — “Kita dapat menginspirasi imajinasi kaum muda di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan mengundang mereka untuk bertanya, berani bertualang, serta memberikan perhatian penuh kepada kehidupan dan sesama.”

Pesan itu disampaikan Kardinal Timothy Radcliffe pada Jumat, 23 Oktober 2026, dalam pidatonya di Kongres Internasional Pastoral Sekolah dan Perguruan Tinggi (International Congress for Pastoral Care in Schools and Universities). Berbicara di Aula St. Paulus VI Vatikan, Kardinal Radcliffe berbicara dalam sesi bertajuk “Human Digital” (Manusia Digital).

Memulai Petualangan

Pidato Kardinal Radcliffe berfokus pada pertanyaan tentang bagaimana melibatkan dan menggerakkan imajinasi kaum muda di era digital. Ia mengawali refleksinya dengan mencatat bahwa ketegangan merupakan bagian mendasar dari kehidupan, termasuk di dalam jantung kekristenan itu sendiri, dan ketegangan tersebut dapat dihidupi secara berbuah serta penuh sukacita.

Ia menjelaskan, bahwa meskipun generasi muda saat ini menjadi generasi yang penuh kecemasan karena tumbuh dewasa di era digital, mereka pada dasarnya merindukan keamanan sekaligus petualangan. Ia menekankan bahwa “keinginan untuk bertualang” dan “risiko untuk mencintai” hadir di dalam setiap hati manusia.

Mantan Master Ordo Pewarta ini menggambarkan ketegangan ini dengan mengambil contoh kisah petualangan Bilbo Baggins dalam karya The Hobbit, yang berani meninggalkan rumahnya yang aman.

“Kasih yang paradoks ini – yang begitu aman namun sekaligus begitu berbahaya – berakar pada perhatian yang tajam terhadap sesama,” tegas Kardinal Radcliffe.

Ia menunjukkan bahwa dunia digital saat ini justru “penuh dengan distraksi (pengalihan perhatian)”. Dalam konteks ini, perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kardinal Radcliffe mengutip pemikir Simone Weil yang menyatakan bahwa “bentuk kemurahan hati yang paling langka dan paling murni” adalah melihat orang lain “sebagaimana mereka berhubungan dengan diri mereka sendiri, bukan dengan saya.”

“Hal ini mengundang kita untuk tidak takut menjadi objek perhatian orang lain. Kita berani untuk dilihat,” tegasnya.

Untuk menjelaskan hal tersebut, ia menyinggung kisah dua suster Dominikan yang klip videonya menjadi viral saat mereka tertawa bersama beberapa bulan lalu.

“Sr. Gemma Simmonds menjelaskan daya tarik mereka yang sangat besar demikian: ‘Penemuan bahwa Anda dicintai sebelum ada orang yang mengusap layar (swiped), memeriksa profil, atau memutuskan apakah Anda layak mendapatkan waktu mereka, dan kenyataan ini, yang diterima dengan tenang dan bukan diraih dengan cemas, mengubah bagaimana rasanya kebebasan dari dalam,'” kutip Kardinal Radcliffe.

Mencari Kebenaran

Kardinal Radcliffe menjelaskan bahwa ketegangan ini juga hadir dalam ranah ajaran Gereja. Ia mencatat bahwa banyak orang muda “tertarik pada Katolisitas karena mereka memandang Gereja setia pada Injil dan tradisi” serta mereka “merindukan kepastian.”

Namun, ia menegaskan bahwa iman juga merupakan “sebuah petualangan intelektual,” karena kita “menerima ajaran Gereja, tetapi kita selalu baru berada di tahap awal untuk memahaminya.”

“Kepastian tanpa pencarian adalah fundamentalisme; bertanya tanpa kesetiaan pada tradisi akan dengan mudah jatuh ke dalam relativisme. Jadi bagaimana kita menyentuh imajinasi kaum muda dengan keindahan kebenaran yang telah diberikan, kini dan selamanya, namun selalu harus terus dicari?” tanyanya.

Ia merenungkan bahwa kebenaran iman kita lebih dari sekadar fakta: kebenaran itu untuk dihidupi. Dengan mengutip dokumen Paus Magnifica Humanitas, Santo Thomas Aquinas, dan para pemikir lainnya, Kardinal Radcliffe menekankan bahwa mengajukan pertanyaan, merasa kagum, dan berpikir adalah aspek-aspek esensial dari kehidupan manusia dan perkembangan pemahaman seseorang, yang tidak dapat digantikan oleh AI.

“Kita menyentuh imajinasi kaum muda dengan membimbing mereka ke dalam keindahan pemahaman yang mentransformasi, yang mengarahkan pada rasa kagum, keheranan, dan takjub,” katanya.

Ia mencatat bahwa percakapan Allah dengan manusia di dalam Kitab Suci biasanya berkisar pada pertanyaan-pertanyaan, yang “mengundang kita untuk menjadi hidup secara lebih mendalam.”

Kehadiran Diri

Kardinal Radcliffe juga berbicara tentang dampak AI terhadap dunia kerja dan lapangan kerja. Ia menggarisbawahi bahwa kita secara mendesak membutuhkan “sebuah visi baru tentang kerja, yang bukan tentang bertahan hidup, melainkan tentang menjadi manusia.”

“Ini menuntut perhatian kepada orang lain yang tidak dapat diberikan oleh AI mana pun,” jalannya. Ia menegaskan bahwa “kehadiran dapat ditiru,” tetapi tidak akan pernah bisa direplikasi secara utuh.

Ia memberi contoh konkret seperti pekerja sosial, seorang guru yang tinggal setelah jam kelas selesai untuk menemani seorang anak, atau seorang pastor/suster pendamping pastoral (chaplain) di sisi tempat tidur orang sakit.

“Perhatian ini adalah pembukaan keberadaan kita terhadap apa yang ada di luar diri kita. Ini adalah hikmat yang mentransformasi siapa diri kita. Ini membebaskan kita dari keterasingan internet menuju kompleksitas dan keindahan ciptaan.”

Kardinal Radcliffe mengakhiri pidatonya dengan menyerukan agar kita menginspirasi imajinasi kaum muda dengan “membebaskan mereka dari abstraksi benua digital” dan selalu mengingat bahwa dalam bidang apa pun, “kita membutuhkan perhatian yang penuh kasih, yang diperoleh dengan sabar, yang menarik kita keluar dari narsisme menuju kekaguman akan ciptaan dan Sang Pencipta kita.”

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini