Fransiskan Sekular Dipanggil Hadirkan Kristus di Tengah Keluarga dan Masyarakat

PenaKatolik.Com | Menjadi Fransiskan Sekular bukan berarti menjauh dari kehidupan dunia, melainkan menghadirkan semangat Injil dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan Gereja. Panggilan ini menjadi penegasan dalam pertemuan Persaudaraan Lokal St. Konradus, Ordo Fransiskan Sekular (OFS), Regio Kalimantan, di Pontianak, Minggu (18/10/2026).

Minister Regio Kalimantan, Sdr. Innosensius Dwi Putra, OFS, mengajak para anggota untuk semakin menghayati Injil Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari dengan meneladani Santo Fransiskus dari Assisi.

Menurutnya, spiritualitas Fransiskan perlu diwujudkan melalui kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, serta kepedulian terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Dengan demikian, identitas sebagai anggota OFS tidak hanya tampak dalam keanggotaan atau kegiatan rohani, tetapi juga dalam cara seseorang menjalani tanggung jawab sehari-hari.

Pertemuan yang dimulai pukul 10.30 WIB tersebut berlangsung di kediaman Sdri. Wenny Jenmery, OFS, di Jalan Bina Jaya, Gang Damai 6, Pontianak. Sebanyak 11 anggota OFS hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Innosensius Dwi Putra dan pendamping rohani Persaudaraan Lokal St. Konradus, Sr. Kristina, SMFA.

Foto Bersama usai pertemuan OFS persaudaraan Lokal St. Kontradus, 18 Oktober 2026.

Menghidupi Injil dalam Kehidupan Nyata

Dalam sesi pendampingan rohani, Sr. Kristina, SMFA, berbagi pemahaman mengenai spiritualitas, karisma, dan panggilan hidup Fransiskan Sekular. Dia menegaskan bahwa anggota OFS tetap dipanggil untuk menjalani identitas sebagai kaum awam, dengan segala tanggung jawab dan peran yang melekat pada kehidupan mereka.

Menjadi anggota OFS tidak mengharuskan seseorang meninggalkan profesi, keluarga, ataupun keterlibatan sosial. Sebaliknya, semangat Fransiskan justru perlu dihidupi melalui semua bidang kehidupan tersebut.

Seorang anggota yang berprofesi sebagai bidan, misalnya, tetap menjalankan pekerjaannya, tetapi menghadirkan nilai-nilai Injil melalui pelayanan yang tulus, sikap rendah hati, dan kepedulian kepada sesama.

Sr. Kristina, SMFA juga mengingatkan bahwa kesetiaan terhadap persaudaraan lokal merupakan bagian penting dari panggilan Fransiskan Sekular. Kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab pribadi hendaknya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kehidupan persaudaraan.

Persaudaraan lokal menjadi tempat anggota belajar saling menerima, menguatkan, dan bertumbuh dalam iman. Kehidupan persaudaraan di tingkat regio pun berkembang dari persaudaraan-persaudaraan lokal yang aktif dan setia menjalankan panggilannya.

Lebih lanjut, dia menguraikan berbagai unsur spiritualitas Fransiskan, seperti kemiskinan dalam roh, kasih kepada Allah dan sesama, persaudaraan dengan seluruh ciptaan, keterlibatan dalam perutusan Gereja, pertobatan terus-menerus, kesetiaan dalam doa, dan panggilan menjadi pembawa damai.

“Spiritualitas tersebut perlu tampak dalam tindakan konkret, termasuk menjaga keharmonisan keluarga, terlibat dalam pelayanan Gereja, membangun relasi yang baik dengan masyarakat, serta menghormati dan merawat lingkungan hidup,” katanya.

Suasana Pertemuan Lokal Persaudaraan Kontradus, 18 Oktober 2026.

Kristus Menjadi Pusat Kehidupan Persaudaraan

Dalam pendampingan itu, Sr. Kristina, SMFA menekankan bahwa Kristus harus menjadi pusat panggilan Fransiskan Sekular. Kedekatan dengan Kristus tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa dan pemahaman tentang ajaran iman, tetapi harus terlihat dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

“Kesabaran, kerendahan hati, kemampuan menerima kelemahan diri, dan kesediaan berdamai dengan sesama merupakan bagian dari kesaksian iman yang nyata,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa karisma Fransiskan Sekular bukan hanya dihayati secara pribadi, melainkan diwujudkan dalam kehidupan persaudaraan. Kesaksian Fransiskan menjadi semakin kuat ketika para anggota mampu saling menerima, mendukung, dan berjalan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Dengan demikian, persaudaraan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang pembinaan iman dan tempat setiap anggota belajar menghidupi kasih Kristus secara nyata,” tambahnya.

Minister Regio Kalimantan, Sdr. Innosensius Dwi Putra, OFS, 18 Oktober 2026.

Kemiskinan, Keadilan Sosial, dan Keutuhan Ciptaan

Sementara itu, dalam materi yang dibawakannya, Innosensius Dwi Putra menyoroti tujuh aspek penting penghayatan panggilan OFS, yakni menghidupi Injil, menjalani pertobatan berkelanjutan, menghayati kesederhanaan, membangun persaudaraan, melaksanakan pelayanan dan keadilan sosial, menjaga keutuhan ciptaan, serta setia pada Gereja.

“Penghayatan Injil menjadi dasar bagi seluruh aspek tersebut. Para anggota diajak untuk terus bergerak dari Injil menuju kehidupan dan dari kehidupan kembali kepada Injil. Sabda Allah hendaknya menjadi pedoman dalam mengambil keputusan, membangun relasi, dan menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa semangat kemiskinan Fransiskan juga mengajak anggota untuk menggunakan harta benda secara bijaksana dan tidak terikat secara berlebihan pada kepemilikan materi. Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup, melainkan kebebasan batin yang membuka ruang bagi kepedulian dan kesediaan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

“Dalam kehidupan sosial, anggota OFS dipanggil untuk menjadi pembawa damai, mendukung rekonsiliasi dan keadilan, serta memberikan perhatian kepada orang-orang miskin, menderita, dan tersisih. Semangat ini mengingatkan kembali pada teladan Santo Fransiskus yang berani mendekati dan mengasihi orang-orang kusta, yang pada zamannya kerap dijauhi masyarakat,” katanya.

Sdr. Inno OFS juga menggarisbawahi bahwa kepedulian terhadap alam juga menjadi bagian tak terpisahkan dari spiritualitas Fransiskan. Terinspirasi oleh Kidung Matahari Santo Fransiskus, anggota OFS diajak memperlakukan seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari serta menunjukkan tanggung jawab ekologis melalui tindakan sehari-hari.

Sdr. Inno, OFS juga menekankan perlunya kreativitas dalam pelayanan dan evangelisasi. Perubahan zaman menuntut anggota OFS untuk menemukan cara-cara baru dalam menghadirkan Injil, tanpa kehilangan identitas dan semangat yang diwariskan Santo Fransiskus.

“Pengenalan yang semakin mendalam terhadap kehidupan Santo Fransiskus menjadi bekal untuk menjawab tantangan pelayanan masa kini,” katanya.

Persaudaraan sebagai Ruang Pembaruan Panggilan

Minister Persaudaraan Lokal St. Konradus, Sdri. Ana, OFS, menyampaikan bahwa melalui doa, pembinaan, dan kehidupan persaudaraan, para anggota diharapkan semakin setia menghidupi Injil di tengah dunia.

Pertemuan tersebut ditutup dengan doa Ofisi Siang bersama dan makan siang. Kebersamaan itu menjadi bagian dari kehidupan persaudaraan sekaligus kesempatan untuk memperbarui kesadaran akan panggilan sebagai Fransiskan Sekular.

Pada akhirnya, panggilan OFS tidak berhenti pada kegiatan pertemuan atau penghayatan spiritualitas secara pribadi. Panggilan itu harus menjadi kesaksian yang dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar.

Kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, dan kepedulian terhadap seluruh ciptaan menjadi jalan bagi anggota Fransiskan Sekular untuk menghadirkan kasih Allah di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Menutup obrolan siang itu Sdr. Inno OFS megingatkan bahwa, dengan menghidupi Injil dalam keseharian, para anggota OFS diajak menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah dunia—bukan dengan menjauh dari realitas kehidupan, melainkan dengan masuk ke dalamnya, melayani, dan membangun persaudaraan dengan semua orang.*Samuel – Pena Katolik.

Materi struktur dan jaringan OFS, perkembangan, Organisasi, Anggaran Dasar OFS.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini