LOURDES, Pena Katolik — Suasana malam di Tempat Ziarah Santa Perawan Maria di Lourdes terasa semakin khusyuk ketika Paus Leo XIV bergabung dengan ribuan peziarah untuk memendar doa Rosario dan mengikuti prosesi obor pada 27 September 2026. Dalam perjalanan suci ini, Pemimpin Gereja Katolik Sedunia tersebut berjalan melintasi jejak jutaan umat beriman yang selama bertahun-tahun membawa harapan, duka, dan perjuangan hidup mereka ke tempat ziarah Marian yang terkenal sebagai tempat penyembuhan tersebut.
Sebagai Penerus Tahta Santo Petrus, Paus membawa serta seluruh beban kecemasan, ketegangan, perpecahan, dan konflik dunia saat ini di dalam doanya.
“Betapa menyentuhnya melihat umat beriman, dari satu generasi ke generasi berikutnya, menanggapi dengan kasih dan kepercayaan atas undangan lembut dari Perawan Maria. Betapa menghiburnya mendengar umat Kristiani menyanyikan lagu-lagu pujian yang penuh dengan semangat dan iman, serta melihat mereka berjalan, dengan pelita di tangan, menuju Bunda mereka di Surga—Bunda yang diberikan Yesus kepada kita dari atas Kayu Salib,” ujar Paus dalam pesannya.
Segera setelah lonceng Basilika Maria Dikandung Tanpa Noda berdentang pada pukul 21.00 waktu setempat, Paus memulai prosesi dari Gua Massabielle, tempat Perawan Maria menampakkan diri kepada Santa Bernadette. Bapa Suci didampingi oleh delegasi kepausan dan diikuti oleh ribuan umat yang terdiri dari para uskup, imam, relawan tempat ziarah, hingga keluarga.
Ribuan Peziarah
Membuka jalan di depan rombongan adalah patung Bunda Maria dari Lourdes yang biasa digunakan dalam prosesi malam tersebut. Di sepanjang lintasan, ribuan peziarah mengiringi langkah Paus sambil berdoa Bapa Kami dan Salam Maria dengan lilin serta rosario di tangan. Banyak di antara umat yang berlutut di tanah, berdiri, duduk di kursi lipat, hingga mereka yang berada di atas kursi roda dengan selimut hangat membungkus tubuh mereka.
Dari kejauhan, lautan manusia itu tampak seperti kilauan cahaya lilin yang menghangatkan suasana malam. Doa Rosario dipendar secara bergantian dengan nyanyian pujian, di mana para peziarah secara serentak mengangkat tinggi-tinggi lilin mereka ke udara.
“Cahaya yang membimbing dan menarik kita maju adalah cahaya harapan,” tegas Paus. “Harapan itu tidak pernah meninggalkan kita bahkan saat kita mengarungi perjalanan hidup ini.”
Bapa Suci menambahkan bahwa jika “mukjizat menemukan ketenangan dan sukacita di tengah penderitaan” itu dimungkinkan, hal tersebut terjadi karena Allah menganugerahkan rahmat untuk merasakan kehadiran Kristus yang bangkit dan memberi kehidupan di tengah-tengah kita.
Mengutip perkataan Santo Paulus, Paus Leo XIV mengingatkan seluruh umat yang hadir agar senantiasa melihat melampaui cakrawala duniawi menuju masa depan yang kekal. “Penderitaan pada zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita,” pungkasnya.
Kritik Eutanasia
Paus Leo XIV di hadapan sekitar 5.000 orang sakit dan tenaga medis di Tempat Ziarah Santa Perawan Maria di Lourdes, menanggapi langkah terbaru Prancis yang melegalkan eutanasia dan bunuh diri dibantu (assisted suicide). Ia mengatakan, membunuh orang yang sedang sakit bukanlah bentuk belas kasih, maupun sesuatu yang normal, dan legalitas hukum tidak serta-merta menjadikannya bermoral.
“Saya tahu bahwa bagi sebagian dari Anda, akibat penyakit tertentu dan terkadang rasa sakit yang luar biasa, cakrawala hidup Anda tampak gelap, tidak pasti, dan tanpa harapan. Namun, tidak boleh ada hukum manusia yang membuat Anda kehilangan kepastian akan martabat yang Anda miliki,” ujar Pemimpin Gereja Katolik Sedunia tersebut.
Pesan Bapa Suci itu disampaikan di Accueil Notre-Dame—fasilitas akomodasi dan perawatan bagi peziarah sakit, penyandang disabilitas, dan lansia. Perkataan Paus lalu disambut tepuk tangan riuh dan seruan “bravo”.
“Atas nama martabat manusia yang tidak dapat dicabut inilah kita harus menolak godaan untuk mengakhiri hidup di bawah dalih belas kasih yang palsu,” tegas Paus.
Melalui pesan ini, Paus mengimbau seluruh komunitas perawatan kesehatan untuk mengingat kembali hakikat sejati dari panggilan profesi mereka. Menurut Bapa Suci, tugas utama tenaga medis adalah merawat orang yang menderita, bukan mengeliminasi atau menghilangkan nyawa orang tersebut.
“Kepada para dokter, perawat, pemikul tandu, kapelan, dan tim pastoral: Anda semua hidup dalam panggilan untuk melayani martabat manusia agar dunia memperoleh kehidupan,” tutur Paus. “Dunia medis tidak boleh sekali pun menjadi hamba dari kematian yang diprogram!”
Dukungan untuk Gereja Perancis
Sebelum bertemu dengan para peziarah sakit, Paus Leo XIV juga sempat memberikan arahan kepada Konferensi Waligereja Prancis (KWP). Bapa Suci memuji keberanian para uskup Prancis yang secara konsisten menentang undang-undang eutanasia dan mengimbau mereka untuk terus memperjuangkan perlindungan terhadap martabat kehidupan bersama seluruh elemen masyarakat yang berkehendak baik.
Di akhir pertemuannya, Paus memberikan penguatan emosional kepada para pasien yang sedang berjuang melawan penyakit.
“Saudara-saudari terkasih yang sedang sakit, saya ingin memberi tahu Anda bahwa Anda bukanlah beban. Anda adalah detak jantung kemanusiaan kita dan harta yang sangat berharga bagi Gereja. Saya selalu membawa setiap cobaan yang Anda alami dalam doa-doa saya,” pungkas Paus.



