Untuk Pertama kali, Paus Leo XIV Menjadi Paus Pertama yang Memberi Penghormatan pada Jubah Suci Kristus di Prancis

PARIS, Pena Katolik — Dalam sebuah langkah bersejarah yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya, Paus Leo XIV menjadi Paus pertama dalam sejarah yang memberikan penghormatan secara langsung kepada salah satu relikui paling berharga di Prancis, yakni Relikui Jubah Suci Kristus (Holy Tunic). Momen ini berlangsung Stadion Stade de France, Paris pada 25 September 2026.

Paus Leo XIV memimpin penghormatan tersebut di hadapan lebih dari 80.000 kaum muda yang berkumpul dalam Vigili Kaum Muda di Stadion Sepakbola Nasional Perancis itu.

Relikui Jubah Suci tersebut dibawa dari Basilika Santo Denys di Argenteuil, tempat penyimpanan resminya selama lebih dari 1.200 tahun. Perjalanan relikui ini di bawah pengawalan keamanan ekstra ketat.

Biasanya, relikui ini hanya dapat dilihat dari balik jendela kaca kecil dan sangat jarang dikeluarkan untuk penghormatan umum. Sebelum acara puncak tersebut, pada sore harinya Bapa Suci memberi penghormatan kepada relikui Sengsara Yesus lainnya, yaitu Mahkota Duri yang disemayamkan di Katedral Notre-Dame, Paris.

Relikui Jubah Kristus

Tradisi Gereja memegang teguh kepercayaan bahwa peninggalan berupa jubah wol tanpa jahitan ini merupakan pakaian yang dikenakan Yesus saat Perjamuan Terakhir. Pakaian ini dikenakan bersamaan dengan jubah, sebagai pakaian paling luar yang dikenakan Yesus.

Yesus menanggalkan jubah-Nya dan menyisakan relikui ini, saat membasuh kaki para Rasul. Yesus juga mengenakan pakaian ini sepanjang jalan sengsara-Nya menuju Kalvari. Pakaian ini menjadi objek undian para prajurit Romawi saat Penyaliban. Peristiwa ini memenuhi nubuat Kitab Suci, bahwa pakaian Mesias tidak boleh dikoyakkan, seperti yang tertulis dalam Kitab Matius dan Yohanes.

Berbagai pengujian ilmiah yang dilakukan sepanjang sejarah pun menguatkan autentisitas peninggalan suci ini. Jubah ini terbuat dari bulu domba yang ditenun rapat pada alat tenun lebar, diwarnai dengan pewarna tumbuhan, serta mengandung partikel mikro pasir dan flora khas wilayah Palestina abad pertama.

Analisis terhadap bercak kemerahan pada jubah yang dilakukan sejak tahun 1892 berhasil mendeteksi keberadaan darah manusia, dan pada tahun 1986 darah tersebut teridentifikasi bergolongan AB, yakni tipe darah yang sama persis dengan bercak darah pada Kain Kafan Turin (Shroud of Turin). Selanjutnya, analisis jejak DNA yang dilakukan pada tahun 2005 memastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang pria keturunan Timur Tengah.

Relikui jubah suci Kristus yang disimpan di Basilika Argenteuil Perancis. IST

Jalan Sejarah

Di balik nilai spiritualnya, Jubah Suci Argenteuil memiliki sejarah panjang sebagai jembatan pemersatu antara Gereja Timur dan Barat. Setelah dipelihara oleh umat Kristen awal, relikui ini diselamatkan oleh Kekaisaran Bizantium dari invasi Persia dan Islam di Tanah Suci pada abad ke-7, lalu dibawa ke Konstantinopel.

Pada akhir abad ke-8, ketika Kekaisaran Bizantium melemah, Permaisuri Irene mengirimkan utusan diplomatik kepada Kaisar Charlemagne dari Kekaisaran Romawi Suci di Barat untuk membangun aliansi, dengan membawa hadiah berupa relikui-relikui suci, termasuk Jubah Suci ini.

Charlemagne kemudian menyerahkan jubah tersebut kepada putrinya, Theodrada, seorang biarawati di Biara Inkarnasi di Argenteuil, di mana catatan tradisi mencatat secara spesifik bahwa Jubah Suci tiba di biara tersebut pada 12 Agustus 800 pukul 13.00. Sejarah bersama ini memberi makna ekumenis yang sangat mendalam bagi Paus Leo XIV, yang dalam berbagai kesempatan kerap menyuarakan pentingnya persatuan Gereja awal.

Sama seperti Tubuh Kristus yang mengalami penderitaan, Jubah Suci ini juga telah melewati berbagai masa sulit dan cobaan sejarah. Para biarawati sempat menyembunyikan jubah di dalam dinding biara saat serangan bangsa Norman pada abad ke-9, hingga akhirnya ditemukan kembali 200 tahun kemudian saat renovasi oleh para biarawan Santo Denys.

Biara tersebut sempat dijarah dan dibakar pada tahun 1411, tetapi Jubah Suci berhasil selamat. Selanjutnya, jubah itu menjadi pusat peziarahan bagi umat dari seluruh Eropa abad pertengahan, bahkan selamat saat Argenteuil dikuasai kelompok Huguenot Protestan pada tahun 1567.

Ketika Revolusi Prancis meletus dan biara dibubarkan, jubah dikembalikan ke gereja paroki. Karena khawatir relikui disita saat dirinya hendak ditangkap, pastor paroki memotong jubah tersebut menjadi beberapa bagian untuk disembunyikan, di mana sebagian diserahkan kepada umat dan bagian-bagian besar ditanam di tanah taman paroki.

Ketika sang pastor dibebaskan pada tahun 1795, ia berusaha menyatukan kembali potongan-potongan tersebut meskipun beberapa bagian kecil gagal ditemukan. Saat ini, selain bagian utama yang disemayamkan di Argenteuil, potongan kecil Jubah Suci juga disimpan di Trier, Jerman, sementara pakaian lain yang juga diyakini sebagai jubah Sengsara Kristus tersimpan di bawah katedral Ortodoks di Mtskheta, Georgia.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini