Teguran Kasih Yesus yang Menjadikan Marta Seorang Santa

VATIKAN, Pena Katolik — Dalam kisah-kisah Injil, sosok Santa Marta terkadang disalahartikan karena teguran yang diterimanya dari Yesus. Padahal, ia telah berusaha memberikan pelayanan dan kepedulian terbaik bagi Bapa Gurunya.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah ikonik tersebut? Santo Lukas menggambarkan peristiwa tersebut ketika Yesus berkunjung ke rumah Marta dan saudarinya, Maria:

“Marta sibuk melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Tegurlah dia supaya ia membantu aku.’ Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.'” (Lukas 10:40-42)

Dalam beberapa terjemahan teologis, frasa ‘bagian yang terbaik’ juga diterjemahkan sebagai ‘bagian yang baik’. Perbedaan penekanan ini penting untuk dipahami: Yesus tidak sedang meremehkan atau menolak kesibukan Marta dalam melayani sebagai tuan rumah. Apa yang dilakukan Marta tetaplah sebuah kebaikan, namun fokusnya yang perlu diluruskan.

Berpusat pada Kristus

Mendiang Paus Benediktus XVI dalam sebuah pesan Angelus pernah menjelaskan makna mendalam di balik teguran Yesus tersebut. Menurutnya, Yesus sama sekali tidak meremehkan kehidupan aktif maupun keramahan Marta.

“Kata-kata Kristus sangat jelas: tidak ada celaan terhadap kehidupan aktif, apalagi terhadap sikap ramah menerima tamu. Melainkan sebuah pengingat tegas bahwa satu-satunya hal yang benar-benar utama adalah mendengarkan sabda Tuhan—dan Tuhan sendiri hadir di sana dalam Pribadi Yesus,” jelas Paus Benediktus XVI.

Ia menambahkan bahwa manusia memang harus bekerja dan sibuk dengan urusan rumah tangga maupun profesional, tetapi kebutuhan yang paling mendasar adalah Allah, yang menjadi terang batin atas Kasih dan Kebenaran. Tanpa kasih dan keheningan di hadapan-Nya, kegiatan tersibuk sekalipun akan kehilangan nilai dan sukacitanya.

Kabar baiknya, Marta menerima teguran tersebut dengan hati yang terbuka. Ia belajar dari kesalahannya dan tetap menjadi pelayan Kristus yang setia. Namun, alih-alih terdistraksi oleh kesibukannya, ia kemudian mengalihkan fokus utamanya kembali kepada Yesus.

Marta sering kali dipandang sebagai “pelindung kehidupan aktif”. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kesibukan dan kerja keras dalam melayani adalah hal penting, namun jika tidak berakar pada Yesus dan Sabda-Nya, segala hal yang dikerjakan akan terasa hampa.

Santa Marta memberi teladan bahwa teguran dari Tuhan bukanlah bentuk penolakan, melainkan undangan untuk mengikatkan diri dalam relasi yang lebih dalam. Dibanding bertahan dalam kesombongan, Marta memilih untuk rendah hati dan menerima bimbingan kasih dari Kristus hingga akhirnya ia diakui sebagai seorang Santa.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini