ROMA, Pena Katolik — Inti dari pengalaman di seminari adalah belajar untuk tinggal bersama Sang Guru, Yesus. Demikian ditegaskan Paus Leo XIV dalam audiensinya bersama para seminaris Italia dari Seminari Regional Pius XI Molfetta dan Seminari Keuskupan Aversa, 3 September 2026.
Paus Leo XIV menyoroti pentingnya hubungan pribadi para calon imam dengan Yesus. Ia menekankan bahwa kendati “studi, disiplin, dan tahapan perjalanan pembentukan” merupakan elemen-elemen formasi yang sangat penting, semuanya harus tetap berakar kuat dalam relasi yang intim dengan Allah.
Mengutip Injil Santo Markus tentang pemanggilan dua belas Rasul, Paus Leo menggambarkan pengalaman pembentukan di seminari bak proses “mendaki gunung” untuk berjumpa dengan Yesus. Di tempat itulah, menurut Paus, para calon imam “dapat menemui Kristus dan yang terutamanya, tinggal bersama-Nya.”
Ia juga mengingatkan bahwa seperti para Rasul, panggilannya menjadi seorang imam merupakan pilihan bebas dan tak bersyarat dari Allah.
“Yesus memanggil orang-orang yang Dikehendaki-Nya; hal itu bukan karena jasa atau kelayakan kita, melainkan murni pilihan bebas dari Allah Bapa—sebuah tanda dan jaminan kasih karuma-Nya yang selalu mendahului kita dan tidak pernah mengecewakan,” ungkap Paus.
Tanda Harapan
Paus Leo menyampaikan, bahwa kehadiran para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di seminari merupakan sebuah “tanda harapan bagi seluruh Gereja.”
“Ketika saya memandang kalian, saya merenungkan keajaiban Allah yang tidak pernah lelah membisikkan ke dalam hati anak-anak muda tentang indahnya menyerahkan hidup bagi-Nya dan bagi Gereja,” lanjutnya.
Paus menegaskan bahwa keberadaan seminari tetap sama pentingnya hari ini seperti pada masa lalu. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan penuh kebisingan, periode formasi di seminari sangat dibutuhkan untuk memberikan waktu dan ruang dalam proses pembedaan roh (discernment).
Di saat yang sama, Paus menggarisbawahi pentingnya kehidupan bermasyarakat (komunitas). Sebagaimana Yesus memanggil para Rasul sebagai sebuah kelompok, para seminaris hari ini juga dipanggil dalam konteks komunitas. Perjalanan menuju imamat bukanlah perjalanan pribadi yang terisolasi, melainkan pengalaman yang harus senantiasa merasakan “keindahan persekutuan Gereja.”
Turun dari Atas Gunung
Di akhir arahannya, Paus Leo mengingatkan bahwa pembentukan di seminari pada akhirnya menuntut para seminaris untuk “turun dari atas gunung, karena gunung bukanlah tempat persembunyian.” Seperti para Rasul, para calon imam diutus untuk menyampaikan “kebaharuan hidup” yang telah mereka temukan bersama Yesus kepada dunia.
“Kalian diutus kepada semua orang untuk memberitakan keindahan iman dalam Yesus Kristus, kabar baik tentang keselamatan—keselamatan yang dikurniakan kepada kita melalui Bunda Maria,” tegas Paus.
Paus Leo mengajak para seminaris untuk memercayakan diri kepada Bunda Maria agar memperoleh rahmat untuk selalu mengucapkan kata “Ya” kepada Yesus setiap hari, sebagaimana yang dilakukan oleh Sang Perawan Suci. Paus Leo menutup audiensinya dengan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam, tidak hanya kepada para seminaris, tetapi juga kepada keluarga mereka atas nama seluruh Gereja.



