PARIS, Pena Katolik – Ketika mendengar kata “Fransiskan”, pikiran kita umumnya tertuju pada sosok biarawan berJubah cokelat dan bersandal jepit. Sosok yang tidak hanya hidup untuk orang miskin, tetapi hidup bersama orang miskin dalam kesederhanaan dan kemelaratan yang suci.
Oleh karena itu, cukup mengejutkan ketika mengetahui bahwa Santo Louis IX, seorang Raja Prancis, justru menjadi pelindung utama dalam Ordo Fransiskan, khususnya bagi Para Fransiskan Sekuler (Third Order). Setiap hari, ia makan bersama orang miskin.
Secara umum, seorang raja jarang dikaitkan dengan tradisi pertobatan atau gaya hidup miskin. Namun, Santo Louis IX adalah sebuah pengecualian yang langka. Ia adalah seorang penguasa yang saleh. Ia tidak menggunakan tahtanya untuk menumpuk kejayaan, melainkan untuk melayani mereka yang miskin dan menderita.
Raja Miskin
Sepanjang masa pemerintahannya, Raja Louis selalu mengelilingi dirinya dengan para saudara Fransiskan. Ia memercayakan pelayanan sakramen di kapelnya di Paris kepada seorang Fransiskan. Sehari-hari, ia untuk makan bersama mereka seusai Misa.
Kecintaan Santo Louis terhadap Fransiskan didasari atas rasa percayanya pada integritas mereka. Para Fransiskan tidak tergiur oleh kekayaan dan kekuasaan. Karena alasan itulah, Santo Louis tidak ragu mengangkat mereka ke dalam posisi-posisi penting dalam kerajaan.
Dalam perjalanannya menuju Tanah Suci, Santo Louis sempat singgah di Sens untuk mengunjungi Kapitel Provinsi Fransiskan. Bersama saudara-saudaranya, ia berjalan kaki mengenakan pakaian peziarah yang sangat sederhana. Sambutan hangat dari para Saudara Dina memperlihatkan betapa dekatnya hubungan mereka.
Begitu eratnya hubungan ini hingga pada tahun 1255, Santo Louis bahkan dijuluki oleh beberapa pihak sebagai “Raja Pengemis” (Raja Mendikan). Ia menjadi seorang penguasa yang dengan berani mengikatkan dirinya pada spiritualitas Ordo Saudara-Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum/OFM).
Spiritualitas Kemiskinan
Santo Louis kagum pada spiritualitas Fransiskan. Ia juga menghidupinya dengan sepenuh hati. Belas kasihnya yang mendalam kepada rakyat miskin mendorongnya untuk turun tangan secara langsung.
Selama masa Pra-Paskah dan Adven, ia akan melipatgandakan bantuan bagi kaum miskin. Tak jarang, sang raja sendiri yang berdiri melayani mereka: mengambilkan makanan, memotongkan daging, hingga memberikan derma langsung dari tangannya sendiri sebelum ia sendiri menyentuh makanan atau minumannnya. Teladan hidup, kerendahan hati, serta cintanya yang tulus pada kaum miskin menjadikan Santo Louis model peran yang sempurna bagi para Fransiskan Sekuler di seluruh dunia.
Setelah wafatnya, para Fransiskan menjadi kelompok pertama yang mengusahakan dan mempromosikan kanonisasi kepausan baginya. Hingga hari ini, Santo Louis IX dikenang dan dihormati bukan sekadar sebagai Raja Prancis yang agung, melainkan sebagai Santo Pelindung Orde Fransiskan Sekuler.



