PALEMBANG, PENA KATOLIK – Dalam upaya memperbaharui kualitas pelayanan ibadat sekaligus memperdalam kehidupan doa, puluhan biarawati dari Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) menggelar Pekan Musik Liturgi. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari penuh, Senin hingga Kamis (3–6 Agustus 2026), ini dipusatkan di Aula Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN) Km. 7, Palembang.
Diikuti oleh para suster jenjang yunior dan medior yang kerap dijuluki sebagai “srikandi altar” pertemuan ini mengusung tema “Gema Sukacita Charitas”. Pelatihan ini dirancang tidak hanya sebagai ajang olah vokal teknis, melainkan juga sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter religius dalam bermusik. Melalui pekan studi ini, para peserta dibekali pemahaman mendalam agar nyanyian dalam Perayaan Ekaristi tidak sekadar menjadi hiburan estetis, melainkan wujud doa yang menggerakkan jiwa dan meluhurkan Nama Tuhan.
Menghamba pada Teks: Kepiawaian Teknis dan Vokal
Untuk menggembleng kualitas vokal para peserta, panitia menghadirkan pakar musik gerejawi Flora Monika Gozali (Lala Gozali), Pendiri Colours Choir Palembang sekaligus Pimpinan Granada Musica Studio, didampingi oleh Maria Dewi Yunita dan Maria Odilia Setyana.
Sesi latihan berlangsung dinamis dan interaktif. Para suster diajak melatih ketahanan vokal melalui latihan pemanasan diafragma, humming, lip trills, hingga gliding nada. Lala menegaskan pentingnya artikulasi yang presisi, ketepatan nada (pitch), serta dinamika yang terukur bagi seorang pemandu nyanyian liturgi.
“Dalam nafas liturgi Katolik, fungsi utama melodi adalah menghamba pada teks. Musik bertugas mendukung dan memperjelas Warta Sabda, bukan sebaliknya memamerkan estetika yang justru menenggelamkan makna doa,” tegas Lala Gozali di hadapan para peserta.
Landasan Teologis dan Kekayaan Inkulturasi Nusantara
Pekan studi ini juga membedah landasan teologis pembaharuan musik gerejawi sebagaimana diamanatkan dalam Konstitusi Sacrosanctum Concilium (Dokumen Konsili Vatikan II). Dokumen tersebut menggarisbawahi bahwa musik suci merupakan bagian integral dari ibadat agung yang memiliki dua tujuan utama: kemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman (actuosa participatio).
Dalam konteks Gereja Indonesia, pembekalan turut menyoroti pentingnya inkulturasi musik Nusantara. Perpaduan antara instrumen klasik seperti organ atau alat musik tiup dengan instrumen daerah seperti gamelan Jawa, gondang Batak, maupun sape Dayak dinilai mampu membuat perayaan liturgi terasa lebih membumi tanpa merusak kesakralannya.
Perspektif teologis ini sejalan dengan penegasan Sr. M. Carolisa FCh saat membuka kegiatan. Ia mengingatkan pentingnya pemahaman kategorial dalam tradisi bermusik Gereja.
“Pelatihan ini diharapkan membentuk para suster agar mampu membedakan secara tegas antara liturgi resmi Gereja yang terikat aturan tata perayaan, dengan tradisi devosional umat yang bersifat lebih bebas,” ujar Sr. Carolisa.
Kenosis dan Spiritualitas Charitas
Pembedahan aspek teknis dipadukan secara seimbang dengan perenungan spiritual yang dipandu oleh Sr. M. Carolisa FCh dan Sr. M. Skolastika FCh. Dalam refleksinya, Sr. Carolisa mengajak para suster menghidupi sikap Kenosis pengosongan diri Kristus sebagaimana tertuang dalam Filipi 2:7 sebagai fondasi kerendahan hati seorang pelayan musik liturgi.
Sementara itu, Sr. Skolastika menekankan pentingnya mengintegrasikan keahlian bermusik dengan karisma sukacita warisan Muder Theresia Saelmakers, Pendiri Kongregasi FCh. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting ketika para suster diutus melayani di berbagai medan pastoral, baik di sekolah, rumah sakit, maupun karya sosial Gereja.
“Kemampuan vokal yang terasah dan kedalaman hidup rohani harus berjalan seiring. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh yang mewarnai perjalanan hidup panggilan kita,” tutur Sr. Skolastika.
Misa Pengutusan: Merawat Benih Panggilan
Rangkaian Pekan Musik Liturgi ditutup dengan Perayaan Ekaristi di Kapel St. Mikael RRGN, Kamis (6/8/2026) petang, yang dipimpin oleh Romo Florentinus Heru Ismadi SCJ.
Dalam homilinya, Romo Heru mengajak para suster untuk menjadikan keterampilan dan kedalaman spiritual yang didapat sebagai sarana merawat benih panggilan hidup membiara. Musik yang dinyanyikan dengan hati yang murni akan menjadi sarana efektif dalam menggembalakan umat dan mewartakan Kasih Allah.
“Semoga buah dari pekan studi ini menjadi gema sukacita yang memuliakan Allah sekaligus membawa penyejuk jiwa bagi sesama. Ingatlah bahwa setiap panggilan hidup religius sangat berharga di mata Tuhan, dan musik adalah salah satu cara indah untuk merawatnya,” pesan Romo Heru mengakhiri perayaan.
Kontributor Palembang : Andreas Daris Awalistyo



