Kardinal Parolin Menyerukan Doa untuk Umat Kristen yang Mengalami Persekusi di Seluruh Dunia

CATANIA, ITALI — Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menyampaikan seruan kuat kepada seluruh umat beriman untuk mendoakan para umat Kristen yang hingga kini masih mengalami persekusi di berbagai belahan dunia. Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Misa Pontifikal di Katedral Catania, Sisilia, pada Senin malam 17 Agustus 2026.

Misa Kudus tersebut digelar dalam rangka Puncak Yobel peringatan sembilan abad pemindahan relikui Pelindung Kota Catania, Santa Agatha, dari Konstantinopel kembali ke kota tersebut.

Hadir sebagai Utusan Kepausan, Kardinal Parolin membawa serta berkat dan rasa kasih dari Paus kepada warga Sisilia. Ia menegaskan bahwa perayaan peringatan bersejarah ini merupakan bentuk pengakuan atas kesetiaan Tuhan dalam menjaga Gereja-Nya melewati berbagai masa sulit sepanjang abad.

“Merayakan ulang tahun ini berarti mengakui bahwa Tuhan senantiasa setia kepada Gereja-Nya sepanjang abad, menopangnya di saat ujian, memurnikannya dalam kesulitan, dan terus membuatnya berkembang melalui kesaksian para kudus,” ujar Kardinal Parolin dalam khotbahnya.

Mahkota Kesucian

Sesudah perayaan Ekaristi usai, acara dilanjutkan dengan prosesi pengarakan relikui Santa Agatha yang melintasi jalan-jalan utama di pusat kota bersejarah Catania.

Mengutip pemikiran Santo Agustinus dan Tertulianus, Kardinal Parolin mengingatkan pentingnya meneladani para martir. Ia menekankan bahwa martir dihormati bukan sekadar karena penderitaan fisik yang mereka alami, melainkan karena ketekunan dan kesetiaan mereka yang tidak tergoyahkan.

“Darah para martir bukanlah tanda kekalahan, melainkan benih yang darinya Gereja terus berkembang dan mekar kembali,” jelas Kardinal.

Ia juga mengajak umat untuk memandang Santa Agatha sebagai sosok inspiratif bagi iman zaman modern, sebab ia memancarkan kesucian yang nyata dan relevan.

“Santa Agatha tidak hanya milik sejarah Catania, ia hadir dalam masa kini Allah dan terus berjalan bersama umat-Nya. Ini adalah kesucian yang tidak terkurung di museum-museum ingatan, melainkan terus menghasilkan iman, harapan, dan kasih,” tegasnya.

Kemartiran Harian

Selain menyoroti penderitaan umat teraniaya yang mengalami martir pertumpahan darah (martyrdom of blood), Kardinal Parolin juga mengingatkan adanya bentuk kemartiran lain yang relevan bagi setiap orang Kristen saat ini, yakni “kemartiran kesetiaan harian”.

Menutup khotbahnya, Utusan Kepausan ini menggarisbawahi bahwa warisan iman, budaya, dan tradisi kesalehan yang dimiliki Catania harus terus dijaga agar mampu menjawab tantangan zaman. Kejahatan, tegasnya, tidak dapat dikalahkan dengan kejahatan baru, melainkan hanya dengan kasih yang lahir dari Salib.

Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjadi modal spiritual bagi masyarakat setempat untuk menghadapi berbagai persoalan sosial yang ada, mulai dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, fenomena migrasi kaum muda yang mencari masa depan di luar daerah, hingga berbagai bentuk kemiskinan materiil maupun spiritual di era modern.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini