BENGKULU, Pena Katolik — Sebanyak 190 peserta dari berbagai paroki di Dekanat Bengkulu berkumpul di Gedung Serbaguna St. Aloysius, Paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu, pada 8–9 Agustus 2026. Selama dua hari, para peserta mengikuti Pelatihan Tanggap Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan untuk membangun budaya sadar bencana sekaligus membentuk jejaring relawan yang sigap di tengah masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Caritas Keuskupan Agung Palembang, Romo Laurentius Rakidi, serta Pastor Paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu, Romo Paulus Sarmono SCJ. Bagi Gereja, kesiapsiagaan ini dipandang bukan sekadar urusan teknis, melainkan wujud nyata dari pelayanan dan komitmen iman untuk hadir bagi sesama.
Pada sesi pertama, pembekalan materi dibawakan oleh Yusup Yoyon Santoso dari Core Response Team (CRT) Caritas Indonesia Regio Sumatera-Kalimantan. Yoyon memperkenalkan Gerakan Paroki Tangguh dan menegaskan peran Caritas Keuskupan Agung Palembang sebagai jantung Gereja. Melalui konsep ini, setiap paroki didorong untuk mandiri dalam mengenali potensi bahaya, mengelola sumber daya, serta memiliki keberpihakan yang kuat pada kelompok rentan.
“Gereja didorong untuk memiliki kemampuan mengenali potensi ancaman bencana di lingkungan sekitarnya, mempersiapkan sumber daya, membangun koordinasi, serta mengembangkan budaya kesiapsiagaan,” ujar Yoyon.
Simulasi dan Pencegahan
Aspek praktis penanganan kedaruratan dipaparkan langsung oleh perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu, Okky Dwinanda Luhurbudi. Okky memberikan panduan taktis mengenai langkah-langkah sebelum, saat, dan sesudah bencana. Suasana pelatihan berlangsung dinamis ketika para peserta langsung mempraktikkan simulasi penyelamatan diri dan evakuasi mandiri saat terjadi gempa bumi.
“Pemahaman ini menjadi bekal penting agar masyarakat tidak hanya mengandalkan bantuan ketika bencana terjadi, tetapi mampu melakukan tindakan awal yang terkoordinasi secara mandiri,” tegas Okky.
Prwakilan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bengkulu, Yuliansyah, turut membekali peserta mengenai bahaya kebakaran. Sesi ini memperkenalkan sistem proteksi kebakaran serta langkah-langkah pencegahan dini yang dapat diterapkan di rumah, fasilitas gereja, hingga ruang publik.
Kolaborasi tiga elemen narasumber— Caritas Keuskupan Agung Palembang dari sisi kemanusiaan, BPBD dari penanganan bencana, dan Damkar dari keselamatan kebakaran—memberikan pemahaman yang utuh bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kerja sama erat berbagai pihak.
Antusiasme tinggi dari 190 peserta diharapkan menjadi modal awal yang berkelanjutan. Sepulang dari kegiatan ini, para peserta diproyeksikan menjadi penggerak yang menularkan budaya sadar bencana di lingkungan keluarga, paroki, dan masyarakat luas. Umat Katolik Dekanat Bengkulu diajak untuk tidak hanya berdoa bagi korban bencana, tetapi juga melatih diri agar siap menjadi bagian dari solusi dan pembawa harapan di masa-masa sulit.



