ASISI, Pena Katolik – Santa Clara dari Assisi, yang diperingati Gereja Katolik setiap tanggal 11 Agustus, dikenal luas sebagai pengikut setia St. Fransiskus dari Assisi. Ia adalah pendiri Ordo Suster-suster Klaris Kasih.
Namun, di balik kehidupannya yang penuh kesederhanaan, doa, dan kesucian pada abad ke-13, ada satu fakta unik yang sering kali mengejutkan masyarakat modern: St. Clara adalah Santa Pelindung Televisi.
Bagaimana mungkin seorang biarawati dari era Pertengahan, yang hidup ratusan tahun sebelum teknologi elektronik ditemukan, bisa dihubungkan dengan media televisi?
Keajaiban Misa Natal
Jawabannya berakar pada sebuah peristiwa supernatural menjelang akhir hidupnya. Pada tahun 1252, St. Clara yang saat itu berusia sekitar 58 tahun terbaring sakit parah di biara San Damiano. Karena kondisinya yang lemah, ia tidak mampu meninggalkan tempat tidurnya untuk menghadiri Misa Malam Natal bersama komunitasnya di gereja.
Menurut tradisi Gereja, dalam rasa rindu yang mendalam untuk beribadah dan hadir bersama Kristus, sebuah mukjizat terjadi. St. Clara diberikan penglihatan gaib di mana ia dapat melihat dan mendengar seluruh jalannya Perayaan Misa Malam Natal secara nyata, yang diproyeksikan seolah-olah terjadi di dinding kamarnya.
Pengalaman ini memungkinkannya untuk ikut serta dalam Misa dan mendengarkan nyanyian serta khotbah dari jarak jauh—sebuah pengalaman yang secara garis besar sangat mirip dengan bagaimana kita menyaksikan siaran langsung (live broadcast) hari ini.
Penetapan
Beberapa abad kemudian, ketika penemuan televisi mulai merevolusi cara manusia menerima informasi dan hiburan, Gereja Katolik melihat adanya relevansi spiritual yang kuat antara fenomena transmisi gambar-suara jarak jauh ini dengan pengalaman mistis St. Clara.
Pada tahun 1958, Paus Pius XII secara resmi mengumumkan St. Clara dari Assisi sebagai Pelindung Utama Televisi. Penetapan ini didasarkan pada peristiwa penglihatan ajaib tahun 1252 tersebut.
Pilihan ini mengandung pesan spiritual bahwa penemuan teknologi, seperti televisi, idealnya memiliki tujuan mulia: membawa kebenaran, keindahan, dan kabar baik kepada mereka yang terpisah oleh jarak, persis seperti mukjizat yang dialami St. Clara di kamar biaranya.
Meskipun teknologi media terus berkembang pesat, warisan St. Clara tetap menginspirasi. Seorang wanita bangsawan kaya yang meninggalkan kemewahannya demi kehidupannya yang bersahaja, kini dikenang bukan hanya karena kesederhanaannya dan keteguhannya mempertahankan Ordo Klaris Kasih, tetapi juga sebagai pengingat bahwa iman dan kehadiran ilahi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Anak Bangsawan
Santa Clara terlahir dengan nama Chiara Offreduccio di Assisi pada 16 Juli 1194. Ia adalah putri sulung dari Favorino Sciffi, seorang bangsawan kaya keturunan keluarga Romawi kuno, dan Ortolana, seorang wanita yang sangat saleh dari keluarga Fiumi. Tumbuh dalam privilese dan kecantikan, Clara muda memiliki ketertarikan mendalam pada doa.
Titik balik hidupnya terjadi saat berusia 18 tahun. Ketika mendengarkan khotbah Santo Fransiskus dari Assisi pada masa Pra-Paskah di Gereja San Giorgio, hatinya tergerak. Ia meminta petunjuk dari Fransiskus untuk membantunya hidup sesuai dengan ajaran Injil.
Pada malam Minggu Palma tahun 1212, Clara secara sembunyi-sembunyi meninggalkan rumah mewahnya menuju Kapel Porziuncola untuk menemui Fransiskus. Di sana, rambutnya yang indah dipotong dan gaun cantiknya diganti dengan gaun kasar serta kerudung sederhana—sebuah simbol bahwasanya ia telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi Allah.
Atas arahan Fransiskus, Clara pertama kali bergabung dengan biara Suster-Suster Benediktin di San Paulo. Ketika ayahnya menemukan keberadaannya dan mencoba memaksanya pulang, Clara menolak dengan tegas, seraya menyatakan bahwa ia hanya berikrar untuk menjadi “mempelai Kristus”.
Tak lama kemudian, adik perempuan Clara, Catarina (yang kemudian mengambil nama Agnes), menyusul langkah sang kakak. Bersama-sama, mereka akhirnya menempati sebuah kediaman di dekat Gereja San Damiano. Seiring berjalannya waktu, wanita-wanita lain dari berbagai penjuru mulai bergabung. Mereka dikenal sebagai “Para Wanita Miskin dari San Damiano” (Poor Ladies of San Damiano).
Mereka hidup dalam keheningan, tanpa alas kaki, tidak mengonsumsi daging, dan berpegang teguh pada aturan kemiskinan yang diberikan Fransiskus. Meskipun hidup dalam tirakat yang ketat, suka cita selalu melingkupi mereka karena kedekatan mereka dengan Allah.
Pada tahun 1216, Clara diangkat menjadi Ibu Biara (Abbess) di San Damiano. Dedikasinya yang begitu mirip dengan Fransiskus membuatnya sering kali dijuluki sebagai “alter Franciscus” atau “Fransiskus Kedua”. Ia menjadi pendamping spiritual dan perawat bagi Fransiskus hingga akhir hayat sang santo.
Warisan Abadi
Selama bertahun-tahun, Clara menderita sakit yang parah, namun ia tak pernah kehilangan kebahagiaan. Ketika ada orang yang mengasihani kehidupannya yang serba kekurangan, Clara berseru:
“Mereka bilang kita terlalu miskin, namun mungkinkah sebuah hati yang memiliki Allah yang Mahakuasa bisa disebut miskin?”
Clara juga memperjuangkan Aturan Hidup (Rule) yang ia tulis sendiri demi mempertahankan komitmen kemiskinan radikal kelompoknya dari dorongan pejabat Gereja yang ingin melunakkannya. Pada 9 Agustus 1253, Paus Inosensius IV secara resmi menyetujui Aturan Hidup karya Clara tersebut. Dua hari kemudian, pada 11 Agustus 1253, Clara menghembuskan napas terakhirnya pada usia 59 tahun.
Proses kanonisasi segera dimulai, dan hanya dalam waktu dua tahun (1255), Paus Aleksander IV resmi menetapkannya sebagai Santa Clara dari Assisi. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Basilika Santa Clara di Assisi pada tahun 1260, di mana ia disemayamkan hingga hari ini.
Selain dikenal melalui Ordo Klaris Kasih (Order of Saint Clare), St. Clara juga diangkat sebagai Pelindung Televisi oleh Paus Pius XII pada tahun 1958—didasarkan pada mukjizat penglihatan Misa Malam Natal yang dialaminya saat terbaring sakit. Selain itu, St. Clara juga dihormati sebagai pelindung penderita penyakit mata, pengrajin emas, dan usaha binatu (laundry).
Pesta nama Santa Clara diperingati oleh Gereja Katolik setiap tanggal 11 Agustus. Keteguhan hatinya dalam kesederhanaan tetap menjadi pelita yang menerangi dunia hingga saat ini.



