ROMA, Pena Katolik – Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma selalu mengenakan busana berwarna putih?
Hari ini, busana harian Paus yang khas adalah simar berwarna putih—pakaian panjang hingga mata kaki yang mirip dengan kasula atau jubah imam biasa (cassock). Penampilannya dilengkapi dengan ikat pinggang putih, jubah bahu putih yang disebut mozetta, topi kecil putih bernama zucchetto, serta kalung salib dada (pectoral cross) sebagai tanda jabatannya sebagai Uskup Roma.
Awal Mula
Tradisi ikonik ini diyakini bermula dari satu figur penting pada abad ke-16, Paus Santo Pius V. Ia terpilih menjadi Pemimpin Gereja Katolik pada tahun 1565 dan memilih nama Paus Pius V. Ia menerima tanggung jawab besar tersebut dengan penuh keharuan dan air mata. Sebagai wujud kesetiaan dan kerendahan hatinya pada spiritualitas ordo yang telah membentuk dirinya, Paus Pius V menolak untuk menanggalkan jubah putih khas Ordo Dominikan. Ia memilih tetap mengenakan jubah putih ordonya.
Ia memilih untuk tetap mengenakan habit putih Dominikan selama menjabat sebagai Paus. Kesederhanaan dan keputusannya ini berlanjut menjadi sebuah kebiasaan yang diteruskan oleh para penerusnya hingga hari ini. Tradisi ini kemudian berlanjut, setiap Paus yang terpilih, selalu mengenakan jubah putih sebagai pakaiannya sehari-hari.
Dari Kemiskinan ke Takhta Kepausan
Lahir dengan nama Antonio Ghislieri di sebuah desa kecil bernama Bosco, Italia Utara, pada 17 Januari 1504, ia berasal dari keluarga yang sangat miskin. Kendati memiliki kecerdasan yang luar biasa, keluarganya tidak mampu membiayai pendidikannya.
Titik balik hidupnya terjadi pada usia 12 tahun ketika dua orang biarawan Dominikan melintasi desanya. Terkesan oleh pemahaman dan kecerdasan anak muda tersebut, kedua biarawan itu membawa Antonio untuk menempuh pendidikan awal. Pada usia 15 tahun, ia resmi masuk ke dalam Ordo Dominikan dan mengambil nama biara Michele. Ia lalu ditahbiskan menjadi imam pada usia 24 tahun.
Sebagai seorang biarawan Dominikan, Michele hidup dalam kedisiplinan dan kesederhanaan yang ketat. Ia dikenal sangat saleh, cerdas, dan tegas dalam mempertahankan iman. Kariernya berkembang dari menjadi Inquisitor Roma di Como, Komisioner Jenderal Inkuisisi Roma pada tahun 1551, hingga diangkat menjadi Uskup dan Kardinal pada tahun 1555 di bawah kepausan Paus Paulus IV.
Memimpin di Tengah Krisis
Paus Pius V memimpin Gereja pada salah satu era paling sulit dan penuh gejolak dalam sejarah dunia. Di Roma, ia memberantas korupsi, kejahatan, serta bandit yang merajalela hanya dalam kurun waktu satu tahun. Di benua Amerika, ia menentang keras perlakuan kejam para kolonialis Spanyol terhadap penduduk asli demi menegakkan martabat kemanusiaan. Ia menerapkan reformasi menyeluruh hasil Konsili Trente, mempromosikan pendirian seminaris untuk pendidikan para imam, serta menerbitkan Tata Perayaan Ekaristi (Missale Romanum) dan Doa Offisi (Breviarium) universal pada tahun 1568 dan 1570. Ia juga menetapkan Santo Thomas Aquinas—seorang teolog besar Dominikan—sebagai Pujangga Gereja (Doctor of the Church).
Di Eropa Utara, ia menghadapi gejolak Reformasi Protestan. Pada tahun 1570, ia mengeluarkan bulla kepausan Regnans in Excelsis yang mengekskomunikasi Ratu Elizabeth I dari Inggris demi menanggapi persekusi terhadap umat Katolik di sana.
Sumbangan terbesar Paus Pius V bagi peradaban Barat terjadi ketika Kekaisaran Ottoman mengancam akan menginvasi Eropa. Melihat ancaman besar ini, Paus Pius V berhasil menyatukan Venesia, Roma, dan Spanyol ke dalam sebuah aliansi yang dinamakan Liga Suci.
Pada tanggal 7 Oktober 1571, armada Kristen yang terdiri dari sekitar 200 kapal berhadapan dengan 300 kapal armada Ottoman dalam Pertempuran Lepanto. Pertempuran ini diiringi oleh gerakan doa Rosario yang digelorakan oleh sang Paus di seluruh Eropa.
Armada Kristen meraih kemenangan krusial yang menahan laju ekspansi Kekaisaran Utsmaniyah ke Eropa Barat. Menurut tradisi, pada jam yang sama saat pertempuran usai, Paus Pius V mendapat penglihatan gaib mengenai kemenangan tersebut di Roma. Atas peristiwa ini, ia menetapkan pesta peringatan Bunda Maria Ratu Kemenangan, yang kelak dikenal hingga hari ini sebagai Pesta Bunda Maria Ratu Rosario setiap tanggal 7 Oktober.
Warisan yang Abadi
Paus Santo Pius V wafat beberapa bulan setelah Pertempuran Lepanto, yaitu pada tanggal 1 Mei 1572, dan dirayakan pesta namanya setiap tanggal 30 April.
Dari sosok biarawan bersahaja yang mempertahankan jubah putih Dominikan di atas Takhta Santo Petrus, terciptalah sebuah lambang kesucian dan kepemimpinan spiritual yang melintasi abad. Setiap kali kita melihat warna putih yang dikenakan oleh seorang Paus hari ini, kita diingatkan pada warisan keteguhan iman, doa, dan kesederhanaan dari Paus Santo Pius V.




