VATIKAN, Pena Katolik – Di dalam tradisi Gereja Katolik, tanggal 24 Juni memperingati sebuah perayaan yang sangat istimewa: Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Karena jatuh tepat enam bulan sebelum Hari Raya Natal (Kelahiran Yesus Kristus), perayaan ini sering kali dijuluki sebagai “Natal Musim Panas” (Summer Christmas).
Yohanes Pembaptis, sang perintis jalan bagi Kristus, menempati posisi yang amat luhur dalam sejarah iman. Ia adalah satu dari hanya tiga pribadi—bersama Yesus dan Perawan Maria—yang hari kelahirannya dirayakan secara resmi dalam liturgi Gereja. Bahkan, tingkat perayaannya berada pada posisi tertinggi, yaitu Solemnitas (Hari Raya).
Arti Penting
Pentingnya arti kelahiran St. Yohanes Pembaptis sudah diakui sejak berabad-abad lalu. Santo Agustinus dari Hippo, dalam Khotbah nomor 293, menyatakan, “Gereja memandang kelahiran Yohanes sebagai sesuatu yang kudus; dan Anda tidak akan menemukan tokoh besar zaman dahulu lainnya yang kelahirannya kita rayakan secara resmi. Kita merayakan kelahiran Yohanes, sebagaimana kita merayakan kelahiran Kristus.”
St. Agustinus menjelaskan bahwa Yohanes Pembaptis bertindak sebagai batas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sifat dualitas ini tercermin dari kisah hidupnya. Ia lahir dari pasangan yang sudah lanjut usia (melambangkan Perjanjian Lama). Selanjutnya, ia sudah dipenuhi Roh Kudus dan melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya saat menyambut kedatangan Juruselamat (melambangkan Perjanjian Baru).
Dalam Liturgi Misa Kudus untuk Hari Raya ini, Gereja secara khusus menaikkan doa syukur atas kehadiran sang nabi. Melalui doa-doa tersebut, umat beriman mengenang bagaimana kelahirannya membawa sukacita dan kegembiraan yang besar bagi dunia.
Sebagai penunjuk jalan, ia menjadi satu-satunya nabi yang menunjuk langsung pada “Anak Domba Allah” yang menghapus dosa dunia. Selain itu, ia juga dihormati sebagai saksi agung yang membaptis Sang Pencipta Pembaptisan demi menguduskan air, hingga akhirnya memberikan kesaksian tertinggi melalui penumpahan darahnya dalam kemartiran.
Makna Kosmis
Hubungan antara Yohanes Pembaptis dan Kristus memiliki keterkaitan kosmis dengan alam semesta. Pastor Mauro Gagliardi, seorang teolog dan pakar liturgi yang mengajar di Roma, menjelaskan bahwa Hari Raya 24 Juni jatuh sangat dekat dengan Summer Solstice (titik balik matahari musim panas). Setelah tanggal ini, durasi siang hari di belahan bumi utara akan mulai memendek (“berkurang”). Sebaliknya, setelah Natal pada 25 Desember (Winter Solstice), hari akan mulai memanjang (“bertambah”).
Fenomena alam ini secara puitis menggenapi nubuat Yohanes Pembaptis sendiri dalam Injil Yohanes 3:30: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Peringatan liturgis St. Yohanes Pembaptis telah mengakar sejak abad keempat. Penghormatan terhadap sang santo juga terlihat jelas di Roma, di mana namanya diabadikan bersama St. Yohanes Penginjil sebagai pelindung Basilika Agung Santo Yohanes Lateran—katedral resmi Uskup Roma (Paus).
Di berbagai belahan dunia, malam tanggal 23 Juni dikenal sebagai “Malam Santo Yohanes” (St. John’s Eve). Karena waktunya yang berdekatan dengan tradisi titik balik matahari lama, perayaan ini kerap bercampur dengan budaya lokal. Di ranah sekuler, malam ini dirayakan dengan konser dan pertunjukan teater, sementara umat Katolik merayakannya dengan Misa Kudus dan prosesi keagamaan.
Salah satu tradisi paling populer adalah penyalaan Api Unggun Santo Yohanes (St. John’s Fires), atau terkadang digantikan dengan kembang api dan prosesi lilin. Tradisi api ini merujuk pada identitas Yohanes yang tertulis dalam Kitab Suci: ia bukanlah Sang Terang itu sendiri, melainkan datang untuk memberi kesaksian tentang Terang (Yohanes 1:8).
Melalui perayaan ini, Gereja mengajak umat beriman untuk merefleksikan kembali esensi hidup mereka. Dalam pesan Angelus pada 25 Juni 2006, Paus Benediktus XVI menegaskan kembali makna mendalam dari figur perintis ini.
“Perayaan St. Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa hidup kita sepenuhnya dan selalu ‘relatif’ terhadap Kristus, dan akan dipenuhi dengan menerima Dia—Sang Firman, Sang Terang, dan Sang Mempelai Pria. Perkataan sang Pembaptis: ‘Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil’, adalah sebuah program hidup bagi setiap orang Kristen.”



