Rumah Penyembuhan di Ketapang

PenaKatolik.Com | Di daerah yang akses layanan kesehatannya belum sepenuhnya mudah dijangkau, rumah sakit sering memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tempat berobat. Ia menjadi ruang harapan bagi orang-orang yang datang dengan rasa cemas, tubuh lemah, dan ketidakpastian ketika sakit hadir tanpa diduga. Selama 64 tahun, Rumah Sakit Fatima Ketapang hadir mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi paling rapuh dalam kehidupan mereka.

Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-64 di Auditorium Santo Augustus Ketapang, Rabu, 13 Mei 2026, Direktur Rumah Sakit Fatima, dr. Margaretha Indah, menegaskan bahwa tujuan utama rumah sakit adalah menghadirkan keselamatan dan penyembuhan dengan memandang setiap pasien sebagai “tamu Ilahi”. Baginya, pasien bukan hanya objek pelayanan medis atau angka statistik, melainkan manusia yang membawa kisah hidup, kecemasan, harapan, dan martabat yang harus dihargai dengan penuh kasih.

Karena itu, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis dan profesionalitas. Pelayanan juga harus menghadirkan sentuhan kemanusiaan: cepat, bermutu, tetapi tetap penuh empati. Semangat inilah yang terus dihidupi Rumah Sakit Fatima sejak awal berdirinya.

Ketua Yayasan Pelayanan Kasih Augustinian, Sr. Lucia Wahyu, OSA, juga menekankan pentingnya menjadikan momentum ulang tahun ini sebagai titik untuk terus berkembang. Dengan mengusung tema “Tumbuh Lebih Kuat, Melayani Lebih Baik”, ia berharap rumah sakit mampu meningkatkan mutu pelayanan, memperkuat inovasi, dan menjaga semangat kekeluargaan dalam karya kemanusiaan.

Uskup Ketapang bersama para Imam, Badan Pembina & Pengurus Yayasan bersama Direktur RS dan jajarannya berpose selepas Misa Syukur

Perjalanan panjang Rumah Sakit Fatima bermula dari karya para Suster Santo Augustinus asal Belanda yang datang ke Ketapang pada tahun 1949 untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Dari sebuah rumah sakit ibu dan anak yang sederhana, Fatima bertumbuh menjadi rumah sakit umum tipe C yang kini melayani masyarakat dari berbagai usia, suku, agama, dan latar belakang sosial.

Tentu perjalanan lebih dari enam dekade itu bukan tanpa tantangan. Rumah sakit ini telah melewati keterbatasan fasilitas, perkembangan zaman, hingga perubahan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun satu prinsip tetap dijaga: rumah sakit harus menjadi rumah penyembuhan, bukan sekadar tempat pengobatan.

Bagi Rumah Sakit Fatima, penyembuhan tidak hanya menyentuh tubuh yang sakit, tetapi juga luka batin dan harapan manusia. Filosofi pelayanan yang diwariskan para pendiri rumah sakit menghendaki agar setiap pasien merasa diterima, didengarkan, dihargai, dan diperlakukan secara manusiawi.

Nilai-nilai pelayanan itu dirangkum dalam semangat “Fatima’s Way”: Fokus, Adil, Teliti, Tanggung jawab, Ikhlas, dan Mandiri, yang dipadukan dengan semangat Asah, Asih, dan Asuh. Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh ketulusan hati mereka yang melayani.

Kehadiran Rumah Sakit Fatima memiliki arti besar bagi masyarakat Ketapang, terutama bagi warga di wilayah pedalaman, pesisir, dan daerah dengan akses transportasi terbatas. Banyak pasien harus menempuh perjalanan jauh melalui sungai maupun jalur darat demi memperoleh layanan kesehatan yang layak. Tidak sedikit keluarga datang dengan keterbatasan ekonomi sambil menunggu berjam-jam demi orang yang mereka cintai.

Dalam kondisi seperti itu, rumah sakit ini menjadi tempat masyarakat kecil mencari pertolongan ketika pilihan layanan kesehatan masih terbatas. Selama puluhan tahun, Rumah Sakit Fatima bukan hanya merawat tubuh yang sakit, tetapi juga menjaga keyakinan masyarakat bahwa mereka tidak menghadapi penderitaan sendirian.

Namun perkembangan zaman membawa tantangan baru. Transformasi digital, kemajuan teknologi kesehatan, meningkatnya kebutuhan masyarakat, hingga munculnya fasilitas kesehatan swasta lain menuntut rumah sakit untuk terus berbenah.

Wakil Direktur Klinis Rumah Sakit Fatima, Sr. Mauritia, OSA, mengungkapkan bahwa jumlah pasien yang terus meningkat belum sepenuhnya seimbang dengan kapasitas fasilitas yang ada saat ini. Keterbatasan ruang rawat inap dan ruang praktik dokter spesialis masih menjadi tantangan yang perlu segera diatasi.

Nakes RS Fatima berpose di pintu masuk RS (Sr. Felisitas OSA).

Meski demikian, ia menilai peluang untuk berkembang tetap besar karena kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Sakit Fatima masih sangat tinggi. Menurutnya, dukungan sumber daya, pengembangan sarana-prasarana, peningkatan kualitas tenaga kesehatan, dan kemampuan mengikuti perkembangan teknologi menjadi kebutuhan penting agar rumah sakit dapat terus menjawab kebutuhan masyarakat Ketapang.

Pelayanan yang dilandasi kasih memang tidak cukup hanya dengan semangat. Ia juga memerlukan dukungan nyata berupa fasilitas yang memadai, tenaga kesehatan yang profesional, sistem pelayanan yang adaptif, serta kerja sama dengan banyak pihak, termasuk pemerintah, Gereja, para donatur, dan masyarakat luas.

Sr. Lucia Wahyu kembali menegaskan bahwa usia ke-64 tahun merupakan momentum syukur sekaligus panggilan untuk terus bertumbuh. Ia berharap Rumah Sakit Fatima mampu memperluas pelayanan kesehatan tanpa kehilangan semangat kasih yang selama ini menjadi identitas utamanya.

Di tengah berbagai perubahan itu, ada satu warisan yang terus dipertahankan: semangat para Suster Santo Augustinus Ketapang yang menjadikan rumah sakit bukan sekadar institusi medis, melainkan rumah kasih bagi mereka yang sedang terluka dan kehilangan harapan.

Dengan moto “Kasih yang Menyembuhkan”, Rumah Sakit Fatima ingin terus berkembang menjadi rumah sakit yang profesional dan relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap setia pada nilai kemanusiaan yang diwariskan para pendirinya.

Pada akhirnya, orang mungkin tidak selalu mengingat obat apa yang pernah diberikan kepada mereka. Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan ketika berada dalam keadaan paling lemah. Di situlah makna terdalam pelayanan kesehatan menemukan wajahnya: bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga memulihkan harapan manusia.

Dan mungkin, itulah warisan paling berharga yang terus dijaga Rumah Sakit Fatima hingga hari ini—menjadi rumah penyembuhan bagi siapa saja yang datang dengan luka, keterbatasan, dan keyakinan bahwa masih ada tangan yang menerima serta merawat mereka dengan kasih.*Sr.Felisitas N.Saptari, O.S.A (Biarawati St.Agustinus).

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini