Ketika Pastor Katolik Menerima Donor Ginjal dari Anggota Paroki Barunya

GEORGIA, Pena Katolik – Di Amerika Serikat, National Kidney Registry mencatat lebih dari 90.000 orang saat ini berada dalam daftar tunggu donor organ yang menentukan hidup dan mati mereka. Bagi Gereja Katolik Santa Maria Bunda Allah di Jackson, Georgia, masalah itu adalah realitas yang menyentuh hati mereka terdalam.

Selama sepuluh tahun terakhir, paroki ini digembalakan oleh seorang imam yang lembut asal India, Pastor Jose Kochuparampil. Karena nama belakangnya yang sulit dieja bagi warga lokal, umat akrab menyapanya “Pastor Jose” (dengan pelafalan seperti “Joe’s”).

Perjuangan Pastor Jose untuk sembuh dari sakitnya, menjadi perjalanan menemukan iman tidak saja baginya namun juga untuk umat di sekelilingnya. Puncaknya, ia mendapat donor ginjal dari salah seorang umatnya. Hal ini menjadi titik finis perjuangannya untuk sembuh, juga memberi inspirasi iman untuk umat di parokinya.

Masa Sulit

Beberapa tahun terakhir menjadi masa-masa yang berat bagi Pastor Jose. Kista yang terus tumbuh di ginjalnya membuat fungsi organ tersebut menurun drastis. Dokter memberikan dua pilihan: dialisis seumur hidup atau transplantasi ginjal. Pastor Jose akhirnya menjalani dialisis mandiri di rumah selama dua setengah tahun—sebuah proses yang sangat membatasi aktivitas pastoralnya.

Ketika ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon penerima transplantasi, pihak Rumah Sakit Piedmont Atlanta membuat sebuah situs web khusus untuk menyebarkan informasi tentang kebutuhannya. Sontak, putri dari salah seorang umat paroki yang bekerja di media lokal turut membantu dengan mendesain selebaran dan membagikannya di media sosial.

Respons publik sungguh luar biasa. Sebanyak 26 orang dari berbagai penjuru negeri, baik dari dalam paroki maupun luar keuskupan, mendaftarkan diri sebagai potensial donor. Namun, mencari donor yang benar-benar cocok bukanlah perkara mudah. Beberapa umat paroki yang menawarkan diri ternyata dinyatakan tidak kompatibel setelah melalui tes medis.

“Masyarakat sangat khawatir,” kenang Dennis Ordyna, sakristan paroki. “Memasuki tahun kedua dialisis, situasinya semakin sulit bagi Pastor Jose. Saya rasa muncul sedikit keraguan di dalam dirinya apakah ia akan bisa menemukan donor yang cocok.”

Kejutan di Bulan November

Titik terang itu akhirnya datang pada 12 November 2025. Pihak rumah sakit menelepon Pastor Jose dengan kabar gembira: “Selamat, kami telah menemukan donor yang cocok untuk Anda.”

“Saya tidak menyangka akan menerima telepon itu dan sempat bingung harus berkata apa. Ketika saya bertanya siapa donornya, pihak rumah sakit mengatakan identitasnya rahasia, namun memastikan bahwa ia adalah seseorang yang mendaftar melalui situs web khusus saya,” ujar Pastor Jose kepada Aleteia. Operasi pun dijadwalkan pada 5 Desember.

Delapan hari kemudian, tepatnya pada Kamis, 20 November 2025, sebuah momen mengharukan terjadi di ruang sakristi seusai Misa malam. Sebuah keluarga muda yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak perempuan meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Pastor Jose.

Sang ayah kemudian menyerahkan sebuah kartu ucapan. Di hadapan wartawan, Pastor Jose menunjukkan isi kartu yang ditulis dengan sangat menyentuh tersebut:

“Saya merasa terhormat dapat mempersembahkan ginjal saya untuk Anda, mengikuti teladan pengorbanan diri Kristus. Dalam mengasihi satu sama lain seperti Yesus mengasihi kita (Yohanes 15:12) dan mempersembahkan tubuh saya sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1), tindakan ini memuliakan-Nya dan menyatakan kasih saya kepada Tuhan kita. Sebagaimana diajarkan Gereja, kasih mendesak kita pada perbuatan-perbuatan belas kasih yang membangun tubuh Kristus (Katekhismus Gereja Katolik 1822; 2447).

Semoga hadiah ini menjadi tanda rasa terima kasih saya atas pelayanan Anda dan persatuan kita bersama di dalam Dia. (Dengan kasih dan doa, Noah Zell)

“Ketika saya membacanya, saya langsung terpaku,” kenang Pastor Jose. “Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya memandangi mereka. Setelah beberapa saat, saya baru bisa mengucapkan ‘Terima kasih’ lalu memeluk Noah.”

Perjalanan Iman Keluarga Zell

Semua ini bermula dari selebaran digital yang dilihat oleh Rachael Zell, istri Noah. Keluarga Zell baru saja bergabung dengan Paroki Santa Maria setahun sebelumnya. Tergerak oleh kebutuhan sang pastor, Rachael mendekati suaminya dan mengusulkan ide untuk mendonorkan ginjal.

Noah Zell (38), yang bekerja di bidang teknologi informasi, memiliki latar belakang iman yang unik. Dibaptis Katolik saat bayi, ia dibesarkan sebagai seorang Protestan setelah orang tuanya bercerai di usia muda. Seiring berjalannya waktu, ia sempat menjauh dari kehidupan menggereja dan larut dalam kehidupan duniawi.

Pencarian spiritualnya dimulai kembali saat putri pertamanya lahir. Setelah sempat beribadah di gereja lain dan tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan imannya, Noah mulai mempelajari sejarah Gereja Katolik.

“Sangat mudah untuk mengenali kebenaran ketika Anda menyadari betapa butanya Anda selama ini,” ungkap Noah. Mereka akhirnya mengikuti kelas Inisiasi Kristen Dewasa (OCIA) di Paroki Santa Maria. Di sinilah istrinya melihat unggahan Facebook tentang kebutuhan Pastor Jose.

“Saya berkata pada diri sendiri, ‘Saya akan mengisi formulirnya saja dulu dan melihat ke mana ini akan bermuara.’ Di setiap tahapan tes, saya selalu berkata kepada Rachael, ‘Jika ini adalah kehendak Allah, maka ini akan terjadi, dan saya akan melakukannya,'” kata Noah.

Ia tidak memungkiri adanya ketakutan awal mengenai risiko operasi radikal dan hidup dengan hanya satu ginjal. Namun, melalui serangkaian tes darah, jaringan, organ, hingga genetika yang berjalan mulus, ketakutan itu perlahan sirna digantikan oleh kedamaian batin.

Indahnya rencana Tuhan, pada masa Paskah 2025—di sela-sela proses pemeriksaan medis yang dirahasiakan tersebut—Pastor Jose jugalah yang menerimakan Sakramen Penguatan bagi Noah dan Rachael, serta memberikan Komuni Pertama bagi putri sulung mereka yang berusia 13 tahun.

Menjadi Teladan Nyata

Bagi Noah, salah satu motivasi terbesarnya adalah memberikan teladan nyata bagi anak-anaknya tentang bagaimana menghidupkan iman Kristen.

“Saya merasa tidak bisa mengatakan kepada anak-anak saya bahwa kita harus mengasihi sesama, jika saya sendiri tidak mempraktikkannya,” tegasnya.

Selain itu, status Pastor Jose yang hidup selibat juga menyentuh hati mereka.

“Kami berdiskusi bahwa karena Pastor Jose memilih menjadi imam, ia melepaskan kesempatan untuk memiliki keluarga dan anak-anak. Jadi saya berpikir, jika ini berjalan lancar dan kami cocok, maka dia akan menjadi bagian dari keluarga kami.”

Tindakan berani Noah ini menginspirasi seluruh komunitas paroki. Menariknya, ada mukjizat lain yang terjadi; salah seorang umat paroki yang sempat mengajukan diri sebagai donor memang dinyatakan tidak cocok untuk Pastor Jose, tetapi berkat rangkaian tes medis tersebut, dokter berhasil mendeteksi kondisi medis serius dalam tubuh umat tersebut lebih awal, sehingga ia bisa disembuhkan sebelum terlambat.

Kekuatan Doa dan Berserah

Kini, operasi telah berlalu dengan sukses tanpa komplikasi. Pastor Jose yang berusia 66 tahun telah kembali melayani di paroki. Ia bersaksi akan dahsyatnya kekuatan doa yang ia rasakan sepanjang proses medis tersebut.

“Saya bisa memastikan kekuatan doa itu nyata. Tuhan menyembuhkan saya dan Bunda Maria mendekap saya di bawah mantelnya, karena saya sama sekali tidak merasakan sakit,” kata Pastor Jose, merujuk pada banyaknya doa yang mengalir dari berbagai paroki dan bahkan dari kampung halamannya di India.

“Cobalah untuk lebih terbuka dan lebih sering berkata ‘Ya’ (kepada Tuhan). Sangat menyedihkan jika kita semua harus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan akan apa yang mungkin terjadi,” tutur Noah Zell.

Sementara itu, Pastor Jose berpesan agar setiap orang yang menghadapi jalan buntu dalam hidup berserah penuh kepada Tuhan.

“Letakkan semuanya di bawah kaki Yesus dan katakan, ‘Tuhan, jadilah kehendak-Mu.’ Maka hal itu tidak akan menjadi beban bagi kita. Mempersembahkan bagian dari tubuh kita sendiri sangat selaras dengan pesan Yesus: ‘Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.'”

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini