JAKARTA — Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memilih cara yang unik sekaligus sarat makna dalam merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-219 pada Sabtu (9/5/2026). Mengusung tema “Syukur 219 Tahun KAJ dalam Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan”, KAJ menggelar acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama yang dipusatkan di halaman Gereja Katedral Jakarta.
Acara yang berlangsung meriah sejak pagi hari ini dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh penting negara, di antaranya Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, serta Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.
Sebelum para peserta dilepas untuk menyusuri rute jalan santai—mulai dari Jalan Veteran 3, Jalan Perwira, Lapangan Banteng, Hotel Borobudur, Kementerian Keuangan, dan kembali ke Katedral—kegiatan dibuka terlebih dahulu dengan prosesi pemotongan tumpeng dan doa bersama lintas iman.
Suasana kebinekaan begitu kental terasa. Tidak hanya umat Katolik, warga dari berbagai latar belakang agama tampak memadati kawasan Katedral. Acara ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni budaya tradisional, mulai dari Barongsai, Reog Ponorogo, hingga musik Tanjidor khas Betawi.
Kardinal Suharyo menegaskan bahwa perayaan HUT kali ini sengaja dirancang tanpa pesta pora yang berlebihan. Sebaliknya, KAJ ingin mewujudkan rasa syukur dalam bentuk aksi nyata persaudaraan.
“Dengan sengaja tidak ada syukuran macam-macam, tetapi syukur kita wujudkan di dalam usaha kita untuk merawat dan mengembangkan persahabatan, persaudaraan, dan kebersamaan kita sebagai warga negara Indonesia,” ungkap Kardinal Suharyo.
Kardinal juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para pejabat pemerintah. Menurutnya, kehadiran fisik perwakilan negara menunjukkan bentuk nyata dari pengayoman yang dirasakan oleh seluruh warga bangsa, khususnya di wilayah DKI Jakarta.
Selanjutnya, Menteri Agama, Nasaruddin Umar memuji inisiatif KAJ. Ia menyebut kegiatan jalan santai lintas agama ini adalah cerminan riil dari tingginya toleransi di tanah air. Ia memaparkan sebuah fakta menggembirakan bahwa berdasarkan hasil survei terbaru, indeks kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini telah menyentuh angka 87%—rekor tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari ini kita buktikan, coba kita lihat berbagai macam agama ikut meramaikan acara yang disponsori oleh Katedral ini. Inilah Indonesia, dan inilah yang kita harapkan. Mari kita rawat Indonesia. Mohon jangan ada yang mengacak-acak kedamaian yang telah kita bentuk selama ini,” tegas Menag.
Menag juga kembali menggaungkan keberadaan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral sebagai simbol toleransi yang kini diakui dunia. Ia menekankan bahwa rumah ibadah sejatinya harus menjadi “rumah kemanusiaan” yang inklusif untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai visi “Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” yang diusung KAJ sangat selaras dengan program prioritas Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono secara khusus mengajak jajaran KAJ dan seluruh umat Katolik untuk menyukseskan program gerakan pilah sampah dari rumah yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta mulai 10 Mei.
“Dalam kesempatan ini, kami mohon Romo Kardinal dan jajaran yang ada di Keuskupan Agung Jakarta bisa mendukung gerakan untuk pilah sampah di Jakarta, karena itu akan memberikan manfaat yang langsung bagi kota kita,” tutur Pramono.
Pramono juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi aktif umat Katolik dalam menjaga stabilitas Jakarta. Berkat kolaborasi seluruh elemen masyarakat, DKI Jakarta mencatatkan berbagai capaian positif, mulai dari penurunan jumlah RW kumuh (dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW di periode 2025–2026), hingga dinobatkannya Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara.




