VATIKAN – Spektrum hubungan antara gereja dan ilmu pengetahuan kembali bersinar di kancah astronomi internasional. Observatorium Vatikan baru saja mengumumkan bahwa Uni Astronomi Internasional (IAU) secara resmi menamai empat asteroid yang baru ditemukan dengan nama tokoh-tokoh penting dalam sejarah institusi tersebut, termasuk Paus Leo XIII.
Pengumuman ini disampaikan melalui siaran pers pada Rabu, 29 April 2026, menyusul publikasi WGSBN Bulletin Volume 6, Isu 4. Keempat asteroid tersebut ditemukan oleh astronom Lituania, Kazimieras Černis, dan astronom Observatorium Vatikan, Romo Richard P. Boyle, menggunakan Vatican Advanced Technology Telescope (VATT) yang berlokasi di Mount Graham, Arizona, Amerika Serikat.
Asteroid pertama diberi nama (858334) Gioacchinopecci, yang diambil dari nama baptis Paus Leo XIII (Gioacchino Vincenzo Raffaele Luigi Pecci). Paus yang menjabat dari tahun 1878 hingga 1903 ini memiliki peran krusial dalam sejarah ilmu pengetahuan Vatikan.
Pada tahun 1891, melalui dokumen Motu Proprio “Ut Mysticam”, Paus Leo XIII mendirikan kembali Observatorium Vatikan. Langkah ini diambil untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Gereja tidak hanya merestui sains, tetapi juga merangkul dan mempromosikannya dengan dedikasi penuh.
Tiga Tokoh
Selain Paus Leo XIII, tiga asteroid lainnya dinamai untuk menghormati sosok-sosok yang berjasa dalam memajukan riset astronomi Gereja. Asteroid (836955) Lais merujuk pada Romo Giuseppe Lais (1845–1921), Wakil Direktur Observatorium selama 30 tahun yang terlibat dalam proyek peta bintang internasional pertama, “Carte du Ciel”. Sementara Asteroid (836275) Pietromaffi untuk menghormati Kardinal Pietro Maffi (1858–1931), Presiden Observatorium yang merekomendasikan agar pengelolaan institusi ini diserahkan kepada Serikat Yesus (Jesuit) guna menjaga standar riset yang tinggi. Terakhir Asteroid (688696) Bertiau dinamai sesuai Romo Florent Constant Bertiau (1919–1995), seorang Jesuit Belgia yang mendirikan Pusat Komputer Observatorium pada 1965 dan mempelopori penelitian tentang polusi cahaya.
Tradisi Penamaan di Luar Angkasa
Penamaan ini bukanlah yang pertama bagi pemimpin Gereja Katolik. Sebelumnya, asteroid (560974) Ugoboncompagni telah dinamai untuk menghormati Paus Gregorius XIII (reformator kalender) dan asteroid (8661) Ratzinger untuk Paus Benediktus XVI.
Proses penamaan asteroid sendiri bukanlah hal yang mudah. Sebuah asteroid harus ditentukan orbitnya dengan presisi yang sangat tinggi sebelum mendapatkan nomor permanen. Setelah nomor tersebut keluar, penemu baru diperbolehkan mengajukan nama ke Kelompok Kerja Nomenklatur Benda Kecil (WGSBN) milik IAU untuk ditinjau secara ketat.
Langkah penamaan ini kembali menegaskan pesan Paus Leo XIII lebih dari satu abad lalu: bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan, membantu manusia mengangkat semangat dalam merenungkan kemegahan peristiwa-peristiwa surgawi.



