VATIKAN, Pena Katolik – Asosiasi Eksorsis Internasional (International Association of Exorcists atau AIE) secara resmi menyatakan dukungan dan pujian atas keberanian Paus Leo XIV dalam menyuarakan perdamaian di tengah meningkatnya tensi peperangan dan terorisme global. Dalam pernyataan bertajuk “Keberanian Paus Leo”, para eksorsis menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak dapat dipisahkan dari pembebasan manusia atas dosa dan pengaruh jahat.
Pernyataan ini muncul menyusul serangkaian seruan diplomasi damai yang dilakukan Bapa Suci di berbagai zona konflik, termasuk Iran, Tanah Suci, dan Ukraina, serta kunjungan apostoliknya ke Afrika pada pertengahan April 2026 lalu.
Meskipun misi perdamaian ini diwarnai ketegangan diplomatik—termasuk serangan terbuka dari Presiden AS Donald Trump di media sosial—Paus Leo XIV menegaskan bahwa dirinya tidak gentar. Bapa Suci menyatakan bahwa fokus utamanya adalah mewartakan Injil, bukan terjebak dalam perdebatan politik.
AIE mencatat bahwa situasi dunia saat ini mencerminkan dinamika kejahatan yang nyata. Meskipun Iblis disebut sebagai “pangeran dunia ini”, tanggung jawab moral tetap ada pada manusia untuk memilih kebaikan di atas kekerasan.
“Krisis yang lebih dalam saat ini memengaruhi hati manusia yang terluka oleh dosa, sehingga seringkali tidak mampu mengenali kebenaran dan kebaikan,” ungkap pernyataan resmi AIE.
Sebagai pakar dalam bidang peperangan rohani, AIE mengusulkan langkah-langkah konkret yang dapat diambil oleh umat beriman untuk mendukung terciptanya perdamaian dunia. Menurut mereka, perdamaian yang autentik harus dimulai dari dalam hati, keluarga, dan komunitas melalui Adorasi Ekaristi, Doa Rosario, puasa, dan karya belas kasih.
Para eksorsis menekankan bahwa “pertempuran spiritual” adalah bagian intrinsik dari perjalanan Gereja sepanjang sejarah. Perdamaian bukan sekadar gencatan senjata politik, melainkan pembebasan spiritual dari jeratan si jahat.
Mengakhiri pernyataannya, Asosiasi Eksorsis Internasional memohon perantaraan Bunda Maria, Ratu Perdamaian, agar menerangi para pemimpin bangsa dan negara. Mereka berharap umat manusia diberikan karunia rekonsiliasi yang berlandaskan pada Kristus.
Dukungan dari para eksorsis ini memperkuat posisi Paus Leo XIV dalam menjalankan misinya sebagai “pembuat damai” yang tak bersenjata di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh konflik bersenjata.




