Bacaan dan Renungan Jumat, 13 November 2026, Pekan Biasa ke-XXXII (Hijau)

Bacaan I – 2 Yoh 4-9

Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.

Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu?bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya?supaya kita saling mengasihi.

Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.

Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mazmur Tanggapan (Mzm 119:1.2.10.11.17.18)

Refrain: Berbahagialah orang yang hidup menurut hukum Tuhan.

  1. Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan.
  2. Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
  3. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, jangan biarkan aku menyimpang dari perintah-Mu.
  4. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.
  5. Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu.
  6. Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.

Bait Pengantar Injil

Refrain: Alleluya, Alleluya, Alleluya.

Ayat: Angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah mendekat. Alleluya.

Bacaan Injil – Luk 17:26-37

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.

Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.

Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.

Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.

Ingatlah akan isteri Lot. Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.

Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus: “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Menjaga Kesiapan Iman: Belajar dari Zaman Nuh dan Lot

Yesus memberikan peringatan yang sangat serius dan mendalam mengenai kedatangan Anak Manusia. Ia mengingatkan para murid-Nya tentang kondisi dunia pada zaman Nuh dan zaman Lot.

Pada zaman Nuh, orang-orang makan dan minum, menikah dan dikawinkan, sampai hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian pula pada zaman Lot, mereka makan dan minum, membeli dan menjual, menanam dan membangun, sampai pada hari Lot pergi keluar dari Sodom, lalu hujan api dan belerang turun dari langit dan membinasakan mereka.

Ada satu pola yang sangat menarik dan mencolok dari kedua kisah tersebut. Orang-orang pada masa itu tidak melakukan kejahatan yang luar biasa mengerikan pada hari-hari menjelang bencana itu—mereka hanya menjalani aktivitas normal kehidupan sehari-hari. Mereka makan, minum, menikah, berdagang, dan membangun.

Lalu di manakah letak kesalahannya? Kesalahan mereka bukan pada aktivitasnya, melainkan pada sikap hati mereka yang terlena sepenuhnya. Mereka begitu tenggelam, terbuai, dan terpaku pada urusan duniawi semata, hingga mengabaikan Tuhan. Mereka hidup seolah-olah dunia ini akan kekal selamanya, sehingga ketika saat penghakiman tiba, mereka sama sekali tidak siap.

Yesus menggunakan perumpamaan ini bukan untuk menakut-nakuti kita agar membenci dunia atau meninggalkan tanggung jawab harian kita, melainkan untuk membangunkan kesadaran rohani kita. Menjalani rutinitas hidup, bekerja, berkeluarga, dan merawat masa depan adalah hal yang wajar dan baik. Namun, bahaya besar muncul ketika rutinitas tersebut membuat kita lupa daratan, terlena pada kesenangan sesaat, dan kehilangan kepekaan rohani akan kehadiran Tuhan.

Yesus mengingatkan sebuah kalimat yang cukup menohok: “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Ayat ini mengajak kita untuk melepaskan cengkeraman egois kita pada kenyamanan duniawi dan menyerahkan hidup sepenuhnya di dalam tangan pemeliharaan Allah.

Mari kita merenungkan kembali: di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan segala urusan dunia hari ini, di manakah posisi Tuhan dalam prioritas hidup kita? Apakah hati kita melekat pada kefanaan dunia, ataukah kita senantiasa berjaga-jaga dengan kesiapan iman menantikan kedatangan-Nya? Semoga rahmat Tuhan memampukan kita untuk hidup bijaksana, senantiasa waspada, dan setia menjaga pelita iman kita tetap bernyala.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengingatkan kami untuk selalu berjaga-jaga karena kami tidak tahu kapan hari kedatangan-Mu. Ampunilah kami jika selama ini kami sering kali terlena oleh kenyamanan dunia, kesibukan harian, dan lupa bahwa hidup kami sepenuhnya berada dalam genggaman-Mu.

Tuhan, bebaskanlah hati kami dari keterikatan duniawi yang berlebihan. Berkatilah setiap karya dan aktivitas kami hari ini, agar semuanya itu tidak menjauhkan kami dari-Mu, melainkan menjadi sarana untuk semakin menguduskan hidup kami. Jadikanlah kami pribadi yang selalu siap sedia menyambut kedatangan-Mu dengan hati yang bersih dan penuh kasih. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

***

Santo Stanislaus Kostka, Pengaku Iman

Stanislaus Kostka berasal dari Polandia. Bersama kakaknya Paul, ia dikirim belajar oleh orangtuanya di sebuah kolese Yesuit di Wina, Austria. Pada waktu itu ia baru berumur 14 tahun. Stanislaus, seorang pemuda yang periang, polos, dan peramah. Wataknya ini berbeda jauh dari kakaknya Paul. Bagi Paul, Stanislaus adalah seorang pengganggu, bagai duri di dalam matanya, sehingga ia sering memperlakukan Stanislaus secara kasar dan kejam. Stanislaus menerima semua perlakuan kakaknya itu dengan sabar. Namun akibatnya pada suatu hari ia jatuh sakit dan sangat kritis.

Dengan perlakuannya itu, Paul melalaikan kewajibannya sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungi adiknya. Di Wina, mereka tinggal (indekos) di rumah seorang Protestan. Maka sewaktu Stanislaus jatuh sakit sangatlah mustahil untuk mendatangkan seorang imam. Ia minta pelayan memanggil seorang imam, namun tuan rumah tak mengizinkan seorang imam masuk ke dalam rumahnya.

 Untunglah bahwa ia ingat akan perlindungan Santa Barbara, yang menurut riwayat Orangorang Kudus-tak pernah membiarkan orang yang minta bantuan perantaraannya meninggal dunia tanpa dibekali sakramen-sakramen terakhir. Maka Stanis pun berdoa kepada Tuhan dengan perantaraan Santa Barbara; tiba-tiba Santa Barbara menampakkan diri kepadanya didampingi dua malaekat. Tuhan dan menerimakan komuni kudus kepadanya. Beberapa hari kemudian Santa Maria, sambil menggendong PuteraNya, memasuki kamarnya dan menyembuhkannya.

Sebagai ucapan syukur kepada kerahiman Tuhan padanya, Stanislaus bertekad masuk Serikat Yesus. Dalam mewujudkan tekadnya itu dan agar tekadnya itu tidak dihalang-halangi oleh ayahnya, ia melarikan diri ke Roma dengan berjalan kaki. Di sana ia diterima oleh Santo Petrus Kanisius dalam novisiat Yesuit setelah membuktikan kesungguhan hatinya dengan menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepadanya. Stanislaus bersungguh-sungguh di dalam menghayati panggilannya itu. Sepuluh bulan lamanya ia menjalani masa novisiatnya dengan sangat setia. Ia sangat saleh meskipun umurnya masih sangat muda.

Ia kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal15 Agustus 1868 bertepatan dengan Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga. Stanislaus meninggal dunia sebagai novis Yesuit dalam usia 17 tahun. Segera setelah wafatnya, banyak orang cacat sembuh karena pengantaraannya. Mujizatnya yang terbesar ialah bahwa kakaknya Paul yang jahat dan kasar itu, mengubah cara hidupnya ketika ia mencari Stanislaus di Roma. Paul pun kelak menjadi orang kudus.

Santo Didakus, Pengaku Iman

Santo Didakus-yang disebut juga Diego/Santiago/Yakobus-lahir pada tahun 1400, dari sebuah keluarga Spanyol yang sederhana. Semasa mudanya ia tinggal di sebuah tempat sunyi sebagai pertapa. Rezeki hariannya diperoleh dengan menganyam tikar. Namun ia sadar bahwa tanpa bimbingan tidak mungkin ia dapat mencapai kesempurnaan hidup Kristiani. Karena itu ia masuk tarekat Saudara-saudara Dina Fransiskan sebagai bruder di biara Arrizafa.

Ia tidak mau menjadi imam meskipun terus-rnenerus ditawarkan jabatan klerus itu kepadanya, sehingga sampai saat kematiannya ia tetap seorang bruder. Bruder Didakus rajin dan saksama dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Di sela-sela kesibukannya ia tetap menyiapkan waktu untuk berdoa. Ia berharap bahwa pekerjaan-pekerjaannya itu berkenan di hati Tuhan. Pengetahuannya tentang soal-soal rohani yang didapatnya dengan berdoa dan bermeditasi sangat dalam sehingga para ahli teologi pun datang kepadanya untuk meminta pendapatnya mengenai soal-soal yang sulit. Perhatiannya terhadap para pengemis dan orang sakit mengagumkan.

Didakus pernah bekerja selama beberapa tahun di kepulauan Kanari. Ia meninggal dunia pada tahun 1463 di Alkala, Spanyol. Konon menjelang ajalnya, ia berulang-ulang mengucapkan ayat-ayat “Dulce lignum” dari perayaan hari Jumat Suci: “Kayu lezat, paku nikmat, sedap pula bebannya.”

Santa Fransiska Xaveria Cabrini, Pengaku Iman

Fransiska Xaveria Cabrini adalah orang pertama Amerika Serikat yang dinyatakan sebagai santa. Ia lahir di Sant Angelo di Lodi, dekat Milano, Italia pada tanggal 15 Juli 1850. Ayahnya petani kaya raya, kemenakan Agustins Defretis, orang penting kedua di Italia pada masa itu. Fransiska adalah puteri ke-13 dan anak bungsu. Sudah sejak kecil ia mendapat pendidikan yang baik dari para suster Hati Kudus. Sejak itu pula ia tertarik pada corak hidup membiara dan karya misi. Dua kali ia mengajukan permohonan menjadi biarawati, namun dua kali pula permohonannya ditolak karena kesehatannya kurang baik untuk menjalani hidup di biara.

Tetapi Uskup Dominikus Gelmini memberinya tugas sebagai perawat dan guru untuk anak-anak yatim-piatu di sebuah panti asuhan dekat kota Cordogno. Ia mengalami banyak kesukaran baik dalam tugas sebagai perawat dan guru, maupun dalam usahanya untuk menjadi seorang biarawati. Akhirnya baru pada tahun 1877, ia boleh mengucapkan kaul kebiaraannya.

Keinginannya menjadi misionaris ke daerah Timur mendapat dukungan kuat dari uskupnya. Segera ia mendirikan sebuah tarekat religius yang kemudian terkenal sebagai tarekat Suster-suster Misionaris Hati Kudus. Dengan tarekat ini ia sangat berjasa bagi para imigran Italia yang tinggal di Chicago.

Pakaiannya sangat sederhana seperti yang lama. Paus Leo XIII (1878-1903) mengesahkan tarekat yang didirikannya, dan juga memberinya tugas baru menjadi misionaris di wilayah-wilayah Kristen di Barat yang lebih membutuhkan. Ditemani 6 orang suster, ia pergi ke Barat.

Tidak sedikit kesukaran yang dialaminya. Namun dengan tekad dan kesungguhan hati yang membaja, ia berhasil berturut-turut mendirikan biara-biara, sekolah dan rumah sakit di seluruh Amerika Serikat, bahkan juga di Amerika Selatan dan Eropa. Oleh karena itu ia sering mengadakan perjalanan jauh walaupun kesehatannya sangat rapuh.

Pada tahun 1909, ia menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia wafat di Chicago pada tanggal 22 Desember 1917, sebagai seorang penjasa besar bagi Amerika. Pada tanggal 7 Juli 1946, ia dinyatakan sebagai santa oleh Paus Pius XII (1939-1958). Ia dikenal sebagai pendiri Tarekat Suster-suster Misionaris Hati Kudus dan menjadi kebanggaan hati umat Amerika karena dialah orang kudus pertama Amerika Serikat.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini