Memilih Menjadi Bruder Pasionis, Bruder Andre katakan “Saya Bahagia dengan Pilihan Saya”

PenaKatolik.Com | Apa artinya menyerahkan seluruh kebebasan hidup demi sebuah panggilan? Ketika banyak anak muda mendambakan kehidupan berkeluarga, kebebasan menentukan masa depan, dan kesempatan memiliki segala sesuatu untuk dirinya sendiri, seorang anak muda dari Empiyang, Kabupaten Sanggau, justru memilih jalan yang berbeda. Dia memilih hidup sebagai seorang Bruder, mengabdikan diri kepada Tuhan dan sesama melalui Kongregasi Pasionis. Pilihan itu kini diteguhkannya melalui pengikraran Kaul Kekal.

Dialah Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau, 19 Oktober 2026. Perayaan penuh syukur tersebut dihadiri sekitar 40 imam dan perwakilan dari 15 komunitas. Pater Sabinus Lohin, CP, Provinsial Kongregasi Pasionis Indonesia, hadir sebagai pemimpin utama perayaan. Turut hadir Bupati Sekadau, Aron, S.H., para biarawan-biarawati, keluarga, sahabat, serta umat.

Bagi Br. Andreas, Kaul Kekal bukan sekadar sebuah upacara pengikraran janji religius. Peristiwa tersebut merupakan peneguhan atas pilihan hidup yang telah dijalani melalui proses panjang, pergulatan batin, pendampingan, dan pengalaman iman.

Dalam wawancara pada 5 November 2026, dia mengungkapkan bahwa keputusan menjadi seorang Bruder bukanlah pilihan karena tidak berhasil menjadi imam ataupun karena tidak memiliki pilihan lain. Sebaliknya, sejak awal mengenal kehidupan membiara, dia memang memiliki ketertarikan untuk menjalani panggilan sebagai seorang Bruder.

DOKUMENTASI – Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

“Pertama-tama saya mau mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan. Dalam arti, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun yang meminta saya untuk menjadi seorang Bruder. Menjadi seorang Bruder bukanlah sebagai pelarian bagi saya,” ungkapnya.

Ketertarikan itu muncul ketika dia melihat peran seorang Bruder dalam kehidupan komunitas biara. Menurutnya, keberadaan Bruder sangat dibutuhkan karena memiliki kesempatan untuk melayani dalam berbagai bidang sesuai kebutuhan komunitas.

Dia menggambarkan bahwa pelayanan seorang Bruder tidak harus terpaku pada satu jenis pekerjaan. Seorang Bruder dapat dipercaya mengelola rumah tangga biara, memberikan pelayanan kesehatan, mengajar sebagai guru, maupun menjalankan berbagai tugas lainnya.

“Saya sangat tertarik untuk menjadi seorang Bruder karena melihat sosok seorang Bruder itu sangat dibutuhkan di dalam sebuah komunitas biara. Saya juga melihat seorang Bruder memiliki pelayanan yang lebih leluasa, dalam arti tidak terpaku hanya dalam satu tugas saja,” jelasnya.

Pilihan tersebut tentu membawa konsekuensi. Kehidupan sebagai seorang religius menuntut kesediaan untuk melepaskan sejumlah kebebasan pribadi. Tidak menikah, tidak memiliki harta benda sebagai milik pribadi, serta menjalani kehidupan berdasarkan aturan kongregasi merupakan bagian dari komitmen yang harus diterima.

Br. Andreas menyadari bahwa pilihan seperti ini mungkin dianggap tidak biasa bagi sebagian anak muda zaman sekarang. Namun, baginya, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kebebasan memiliki atau menjalani kehidupan sesuai keinginan pribadi.

“Bukankah pilihan ini bisa dikatakan konyol untuk anak muda zaman sekarang? Namun, saya tetap memilih untuk menjadi seorang Bruder sebagai religius. Sebab, saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya,” katanya.

Dia bahkan menjadikan kesetiaannya menjalani kehidupan membiara hingga saat ini sebagai salah satu bukti bahwa keputusan tersebut sungguh dijalani dengan penuh sukacita. Pengikraran Kaul Kekal menjadi bentuk keberanian untuk menyerahkan seluruh kehidupannya dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

DOKUMENTASI – Foto bersama Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

Devosi Sengsara Yesus Menuju Pasionis

Mengapa memilih Kongregasi Pasionis, bukan kongregasi religius lainnya? Bagi Br. Andreas, ketertarikan itu bermula dari sesuatu yang sederhana, yakni jubah yang dikenakan para religius Pasionis. Namun, di balik ketertarikan awal tersebut, tumbuh kecintaan yang lebih mendalam terhadap spiritualitas Kongregasi Pasionis.

Dia tertarik pada spiritualitas yang berpusat pada pewartaan sengsara Yesus Kristus. Spiritualitas tersebut dirasakannya memiliki hubungan erat dengan kehidupan rohani yang telah dijalaninya sebelum bergabung dengan kongregasi.

“Saya sangat tertarik dengan spiritualitas Kongregasi Pasionis yang mewartakan sengsara Yesus. Saya rasa sangat cocok dengan apa yang sudah saya hidupi pada masa-masa hidup saya sebelumnya, yaitu sering berdevosi kepada sengsara Yesus,” tuturnya.

Dalam pengalaman pribadinya, devosi kepada sengsara Yesus menjadi salah satu sumber kekuatan iman. Dia mengisahkan bahwa ada sejumlah pengalaman doa yang dirasakannya sebagai rahmat Tuhan. Salah satunya adalah ketika memohon rahmat untuk menjalani hidup panggilan.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan langkahnya untuk masuk Kongregasi Pasionis. Baginya, spiritualitas sengsara Yesus bukan sekadar bentuk devosi, melainkan jalan untuk semakin mengenal kasih Tuhan yang hadir melalui pengorbanan Kristus.

Pilihan menjadi Pasionis kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Melalui spiritualitas tersebut, dia menemukan tempat untuk mengembangkan panggilan sekaligus menghidupi semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.

DOKUMENTASI – Br. Andreas Asianus, CP, mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

Perjalanan Panggilan dari Empiyang

Br. Andreas Asianus, CP, lahir di Empiyang pada 20 Agustus 1998. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Yakobus Saten dan Anasthasia Helawati. Dia berasal dari Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jangkang, Balai Sebut, Keuskupan Sanggau. Sakramen Baptis diterimanya di Paroki Jangkang, sedangkan Sakramen Krisma diterimanya di Paroki Sekadau.

Pendidikan dasarnya dimulai di SD Negeri 03 Empiyang pada 2009–2014. Dia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 05 Jangkang pada 2014–2016 dan SMA Karya Sekadau pada 2016–2018.

Tahun 2018 menjadi awal proses pembinaan panggilannya melalui Tahun Orientasi Panggilan (TOPANG) di Sekadau. Setahun kemudian, dia melanjutkan masa postulat di Seminari Tinggi Pasionis, Malang, Jawa Timur, pada 2019–2020. Selanjutnya, dia menjalani masa novisiat di Biara Pasionis, Batu, Jawa Timur, pada 2020–2021.

Pada 7 Juli 2021, Br. Andreas mengikrarkan Kaul Perdana di Malang. Setelah itu, dia mendapat tugas perutusan di Rumah Retret PSP, Malang, selama lima tahun, yakni 2021–2026.

Sejak 2026, dia bertugas di Biara Santo Vinsensius Maria Strambi, Pontianak. Selain menjalankan tugas komunitas, dia juga menempuh pendidikan lanjutan di Kampus Agustinus Hippo, Pontianak, pada Program Studi Keuangan dan Perbankan.

Perjalanan dari Empiyang hingga menjadi seorang Bruder Pasionis yang mengikrarkan Kaul Kekal menunjukkan bahwa panggilan tidak hadir dalam satu peristiwa yang berdiri sendiri. Panggilan bertumbuh melalui proses, pengalaman, pendidikan, pembinaan, dan kesediaan untuk terus menjawab kehendak Tuhan.

DOKUMENTASI – Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

Keluarga, Komunitas, dan Dukungan yang Menguatkan

Dalam sambutannya setelah pengikraran Kaul Kekal, Br. Andreas tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dia menyebut Kongregasi Pasionis, para formator, pendidik, penderma, keluarga, sahabat, serta seluruh konfrater dan konsuster yang telah mendampingi dirinya.

Dia mengakui bahwa proses pembinaan tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Penerimaan, teguran, nasihat, kesabaran, dan persaudaraan dari mereka yang pernah hidup bersama dengannya telah membentuk dirinya, bukan hanya dalam pengetahuan dan kehidupan rohani, tetapi juga dalam kemanusiaan.

“Kepada Kongregasi Pasionis, para pembina, dan seluruh saudara sekomunitas di mana saya pernah berada, saya mengucapkan terima kasih atas penerimaan, pendampingan, teguran, nasihat, kesabaran, dan persaudaraan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilan saya,” ungkapnya.

Perhatian khusus diberikan kepada kedua orang tuanya. Sebagai anak pertama, keputusannya untuk menjalani hidup membiara tentu membawa perubahan dalam relasi dan kebersamaan keluarga. Jarak dan tugas perutusan membuat pertemuan tidak selalu dapat dilakukan sesering yang diharapkan.

Namun, Br. Andreas percaya bahwa jarak tidak menghilangkan kedekatan batin antara dirinya dan keluarga.

“Bapak dan Ibu, meski kita terpisah oleh jarak, namun akan selalu dekat di hati. Kasih dan doa keluarga selalu menjadi bagian berharga dalam perjalanan hidup panggilan saya,” ujarnya.

Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa di balik keputusan seorang anak untuk mengabdikan diri kepada Gereja, terdapat keluarga yang turut belajar menerima, mendukung, dan merelakan. Dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan panggilan seorang religius.

DOKUMENTASI – Foto bersama Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

Panggilan yang Menjadi Kesaksian bagi Kaum Muda

Dukungan terhadap perjalanan panggilan Br. Andreas juga disampaikan Bupati Sekadau, Aron, S.H. Dalam sambutannya, dia mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya perayaan Kaul Kekal tersebut. Dia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan acara.

Secara khusus, Aron menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua Br. Andreas yang telah merelakan putranya untuk mengabdikan diri bagi Gereja melalui Kongregasi Pasionis.

“Harapannya, semoga Bruder tetap setia dan semangat dengan panggilan serta perutusannya di mana saja Bruder ditugaskan. Sekali lagi, selamat untuk Bruder Andre,” ungkapnya.

Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Sekadau, Aron juga mengapresiasi kehadiran para Pasionis yang selama ini turut membantu mengembangkan iman umat di Kabupaten Sekadau.

Menurutnya, peristiwa Kaul Kekal Br. Andreas diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan bagi seorang anggota kongregasi, tetapi juga menjadi kesaksian yang menginspirasi generasi muda untuk berani menanggapi panggilan Tuhan.

“Semoga lewat peristiwa Kaul Kekal Bruder Andre pada hari ini semakin banyak anak muda yang berani menyerahkan diri bagi Gereja dalam menanggapi panggilan Tuhan,” katanya.

Sementara itu, Pater Adiantus, CP, selaku Wakil Provinsial Kongregasi Pasionis, menyampaikan proficiat kepada Br. Andreas yang kini menggabungkan diri secara penuh dalam Kongregasi Pasionis melalui pengikraran Kaul Kekal.

“Atas nama pribadi serta perwakilan dari Kongregasi Pasionis, saya mengucapkan proficiat kepada Br. Andreas Asianus, CP, dan selamat bergabung secara penuh di dalam Kongregasi Pasionis,” ujarnya.

Pater Adiantus juga menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, sahabat, para pendidik, formator, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan panggilan Br. Andreas. Dia berharap agar keputusan yang telah diambil senantiasa diberkati Tuhan dalam setiap tugas perutusan.

“Semoga tetap setia dengan panggilannya sampai akhir hayat. Tuhan memberkati. Amin,” pesannya.

Kaul Kekal, Awal Penyerahan Diri

Bagi Br. Andreas, mengikrarkan Kaul Kekal bukan berarti dirinya telah menjadi pribadi yang sempurna atau menyelesaikan seluruh perjalanan panggilan. Dia justru memandangnya sebagai awal dari komitmen yang semakin mendalam untuk mencintai Tuhan dan melayani sesama.

Dia menyadari bahwa masa depan tidak selalu dapat diketahui dengan pasti. Berbagai tantangan dan tugas perutusan mungkin akan datang silih berganti. Namun, dia percaya bahwa Tuhan yang telah memanggilnya akan terus menyertai perjalanan hidupnya.

“Akhirnya, saya menyerahkan seluruh masa depan panggilan saya ke dalam tangan Tuhan. Saya tidak mengetahui secara pasti apa yang akan saya hadapi esok hari, tetapi saya percaya bahwa Tuhan yang telah memanggil saya adalah Tuhan yang akan terus menyertai perjalanan saya,” katanya.

Keyakinan itu dirangkumnya dalam motto panggilan yang diambil dari Injil Yohanes 15:16: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”

Menariknya, di penghujung sambutannya, Br. Andreas menyampaikan sebuah pantun yang disambut dengan suasana penuh keakraban oleh para undangan:

Burung merpati terbang ke taman
Hinggap sebentar di pohon durian
Jubah hitam memang kelihatan tampan
Tapi maaf, sudah milik Tuhan.

Pantun sederhana tersebut menjadi penutup yang menggambarkan sukacita dan kerendahan hati seorang Bruder dalam menjalani panggilannya.

Peristiwa Br. Andreas mengingatkan bahwa panggilan hidup tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk yang sama. Ada yang dipanggil menjadi imam, ada yang menjadi Bruder, ada pula yang melayani Tuhan melalui berbagai bentuk kehidupan lainnya. Yang terpenting bukanlah besar atau kecilnya sebuah peran, melainkan kesediaan untuk menjalankannya dengan kesetiaan.

Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan, Br. Andreas telah menentukan jalan hidupnya.

Dia memilih menjadi Bruder, memilih spiritualitas sengsara Yesus, dan memilih menyerahkan masa depannya kepada Tuhan. Sebuah pilihan yang kini diteguhkan melalui Kaul Kekal, sekaligus menjadi awal perjalanan panjang untuk terus menghidupi panggilan dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.(Samuel)

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini