PenaKatolik.Com | Sr. Yulita Imelda, SFIC, mengingatkan bahwa kaul hidup membiara bukan sekadar janji yang diucapkan, melainkan pengorbanan yang diperbarui setiap hari melalui pelayanan dan kesetiaan kepada Allah.
Menjadi biarawati berarti bersedia mempersembahkan hidup kepada Allah, bukan hanya pada saat mengikrarkan kaul, melainkan setiap hari melalui pengorbanan, ketaatan, dan pelayanan kepada sesama. Semangat inilah yang ditegaskan Sr. Yulita Imelda, SFIC, Pemimpin Provinsi Indonesia Kongregasi Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei, dalam sambutannya pada Perayaan Syukur Kaul Kekal dan Pesta Hidup Membiara Suster SFIC Provinsi Indonesia di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Mengangkat kembali pesan pendiri kongregasi, Sr. Teresia van Miert, Sr. Yulita mengajak para suster untuk memaknai hidup religius sebagai jalan pengorbanan yang terus diperbarui. Menurutnya, perjalanan hidup membiara selama 25, 40, 50, hingga 60 tahun merupakan bukti ketekunan dalam menjawab panggilan, meskipun perjalanan tersebut tidak selalu mudah.
Dia menegaskan bahwa para suster mampu bertahan bukan semata-mata karena kekuatan pribadi, melainkan karena penyertaan Allah yang terus meneguhkan mereka dalam berbagai tugas perutusan.
“God did not call us to be successful but to be faithful,” ungkapnya, menegaskan bahwa Allah tidak memanggil para suster untuk mengejar kesuksesan duniawi, tetapi untuk hidup dalam kesetiaan.
Bagi Sr. Yulita, kesetiaan tersebut terlihat dalam kesediaan menjalankan tugas yang dipercayakan, menerima tantangan dengan sabar, dan tetap mengabdi meskipun harus menghadapi keterbatasan maupun perubahan keadaan.

Pengorbanan yang Tidak Berhenti pada Kaul
Dalam sambutannya, Sr. Yulita membacakan pesan pendiri yang mengingatkan para suster agar terus memperbarui pengorbanan yang telah mereka pilih secara sukarela ketika memasuki kehidupan religius.
Pesan Sr. Teresia van Miert menekankan bahwa kaul suci menuntut penyerahan diri yang menyeluruh. Seorang religius tidak lagi hidup hanya untuk kepentingannya sendiri, tetapi belajar menempatkan kasih Allah dan pelayanan sebagai arah hidupnya.
“Dengan mengikrarkan kaul-kaul suci itu, olehnya kamu mengorbankan diri. Kamu bukan lagi milik diri. Kamu harus terus-menerus mengorbankan diri di atas altar kasih dan penyangkalan diri,” demikian kutipan surat pendiri yang disampaikan Sr. Yulita.
Pesan tersebut, menurutnya, tetap relevan bagi para suster yang merayakan yubileum maupun mereka yang baru mengikrarkan kaul kekal. Bertambahnya usia hidup membiara tidak dengan sendirinya membuat seseorang selesai dalam proses pembentukan diri. Sebaliknya, setiap pengalaman menjadi kesempatan untuk memperdalam penyerahan diri dan memperbarui kesetiaan.
Jalan menuju kesempurnaan dan kekudusan, sebagaimana tercermin dalam pesan pendiri, tidak ditempuh hanya melalui peristiwa besar. Jalan itu dijalani melalui pengorbanan kecil yang berulang setiap hari, kesediaan melayani, dan ketekunan menjalankan tanggung jawab.
Kaul Kekal
Perhatian khusus diberikan kepada Sr. Teresia Sumanti, SFIC, dan Sr. Margareta Yeni, SFIC, yang pada perayaan tersebut mengikrarkan kaul kekal. Sr. Yulita menyampaikan ucapan selamat sekaligus mengajak umat untuk terus mendukung keduanya dengan doa.
Dia mengingatkan bahwa janji seumur hidup menuntut pelayanan dan pengabdian total kepada Tuhan serta kongregasi. Komitmen tersebut memerlukan kesabaran, dedikasi, dan keteguhan untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Menurut Sr. Yulita, ketaatan diwujudkan melalui kesediaan mengikuti kehendak Tuhan dan pimpinan, menerima diri sebagai hamba Tuhan, serta menjalankan pelayanan dengan rendah hati. Karena itu, kaul kekal bukan sekadar upacara atau pernyataan di hadapan umat, tetapi komitmen yang harus terus dibuktikan melalui tindakan.
Dia juga menekankan bahwa hidup membiara merupakan pilihan bebas. Seseorang mengabdikan diri kepada Tuhan dan kongregasi secara sukarela, tanpa paksaan maupun tekanan. Kebebasan itu penting agar panggilan dapat dijalani dengan penuh makna, sukacita, dan kesungguhan.
Dengan demikian, kesetiaan tidak dapat dipisahkan dari kesadaran pribadi untuk terus menjawab panggilan. Doa dan dukungan komunitas menjadi penting agar kedua suster yang baru mengikrarkan kaul kekal tetap teguh dalam menjalani komitmen tersebut.
Puluhan Tahun Pelayanan, Beragam Bentuk Pengabdian
Dalam sambutannya, Sr. Yulita juga menguraikan perjalanan para suster yang merayakan yubileum. Kisah mereka memperlihatkan bahwa pengabdian dalam kongregasi hadir melalui beragam bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, dan misi, hingga kepemimpinan serta pelayanan komunitas.
Sr. Angelita Limas, SFIC, dan Sr. Saveria Arpina, SFIC, merayakan 60 tahun hidup membiara. Sr. Angelita pernah mengabdikan diri sebagai perawat dan bidan serta bertugas cukup lama di Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang. Saat ini, dia menjalani masa lanjut usia di Komunitas Santo Antonius Pontianak.
Sr. Saveria memiliki pengalaman panjang sebagai guru dan pernah menjalankan misi di Kenya. Kini, dia masih membantu mengelola kantin sekolah SD Suster Singkawang.
Sementara itu, Sr. Yulia Oyen, SFIC, merayakan 50 tahun hidup membiara. Setelah 28 tahun menjalankan misi sebagai bidan di Kenya, dia kembali ke Indonesia pada tahun sebelumnya dan kini membantu menangani bagian logistik Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang.
Pada kelompok yubilaris 40 tahun, Sr. Daria Tumin, SFIC, kini menjadi anggota Dewan Pimpinan Jenderal di Marikina, Filipina. Sr. Hilaria Yavini, SFIC, masih aktif melayani di SMP Suster Pontianak. Sr. Lucia Sariani, SFIC, setelah menjalani 26 tahun misi di Keuskupan Agung Makassar dan bertahun-tahun menjadi guru, kini dipercaya memimpin komunitas di Santo Yosef Pusat Damai.
Adapun Sr. Priska Seli S., SFIC, yang merayakan 25 tahun hidup membiara, menjadi anggota Dewan Pimpinan Provinsi Indonesia sekaligus bendahara Yayasan Pengabdi untuk Sesama Manusia. Sr. Prisila, SFIC, menjalankan tugas sebagai pembina suster junior dan juga melayani di Rumah Sakit Santo Vincensius Singkawang.
Bagi Sr. Yulita, beragam tugas tersebut menunjukkan bahwa panggilan yang sama dapat diwujudkan melalui bentuk pelayanan yang berbeda. Ada yang melayani orang sakit, mendidik anak-anak, menjalankan misi lintas negara, atau mendampingi kehidupan komunitas. Kesemuanya merupakan bagian dari usaha menapaki jalan kekudusan melalui kehidupan sehari-hari.
Diteguhkan oleh Doa dan Persaudaraan
Sebelum perayaan, para suster yubilaris menjalani masa keheningan dan penyegaran rohani selama kurang lebih satu minggu di Rumah Retret Kapusin Tirta Ria. Sr. Yulita menyampaikan terima kasih kepada Pater Stefanus Gatot yang mendampingi mereka dalam persiapan rohani tersebut.
Dia juga mengapresiasi seluruh panitia dan pihak yang membantu kelancaran perayaan, termasuk petugas liturgi, tim dekorasi dan akomodasi, pemandu umat, dokumentasi, paduan suara, para frater Seminari Tinggi Interdiosesan Antonino Ventimiglia beserta pendampingnya, serta para penari dan anak-anak dari sekolah suster.
Terima kasih turut disampaikan kepada para pimpinan tarekat dan lembaga, para imam, bruder, suster, frater, rekan kerja di bidang pendidikan dan kesehatan, para kepala sekolah, guru, karyawan, donatur, pemerhati kongregasi, sahabat, dan seluruh undangan.
Secara khusus, Sr. Yulita mengungkapkan rasa syukur atas dukungan orang tua dan keluarga para yubilaris. Dukungan keluarga, menurutnya, menjadi bagian penting yang memungkinkan para suster tetap menjalani panggilan selama puluhan tahun.
Dia juga berterima kasih kepada Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, yang memimpin Ekaristi, para imam konselebran, serta Pastor Kepala Paroki Katedral yang telah memberikan izin penggunaan gereja. Sr. Yulita turut menyampaikan penghargaan kepada para suster yang mendukung perayaan, termasuk seorang suster yang tidak dapat hadir secara langsung karena alasan kesehatan dan mengikuti perayaan melalui siaran langsung dari Biara Santo Antonius.
Atas nama persaudaraan SFIC, Dewan Pimpinan Jenderal di Marikina, Filipina, serta anggota kongregasi di berbagai provinsi dan misi Kenya, dia menyampaikan ucapan selamat kepada para yubilaris.
Menjadi Berkat bagi Mereka yang Dilayani
Sr. Yulita menegaskan bahwa kehadiran para suster merupakan berkat bagi kongregasi, Provinsi Indonesia, dan orang-orang yang selama ini menerima pelayanan mereka. Kesetiaan dalam panggilan tidak hanya memberi makna bagi kehidupan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi orang lain.
“Bukan karena kuat dan hebat kita bisa melangkah dengan mantap menelusuri lorong kehidupan, tetapi karena Tuhan selalu menopang sehingga kuat menjalani hidup ini,” katanya.
Dia mengingatkan bahwa dalam kelemahan manusia, kekuatan Allah dapat semakin terlihat. Karena itu, perjalanan hidup membiara perlu dijalani dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa setiap kemampuan untuk bertahan dan melayani merupakan bagian dari penyertaan Tuhan.
Sr. Yulita mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan para suster yubilaris agar tetap setia dan bahagia dalam menapaki jalan panggilan. Dia berharap berkat yang telah mereka bagikan melalui pelayanan terus berlanjut bagi orang-orang yang sedang maupun pernah mereka layani.
Menutup sambutannya, dia kembali mengarahkan perhatian pada semangat pendiri, “Demi cinta Allah.” Semangat ini menjadi dasar bagi para suster untuk terus mengabdikan diri, memperbarui komitmen, dan melayani dalam berbagai keadaan.
Perjalanan 25, 40, 50, hingga 60 tahun hidup membiara menjadi kesaksian bahwa panggilan tidak hanya dihidupi melalui janji yang diucapkan, tetapi juga melalui kesetiaan yang diwujudkan dalam tindakan. Di sanalah pelayanan menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi sesama.
Sr. Yulita merangkum harapannya dalam pesan yaitu “Setia indah menjadi saksi iman sejati.” Sebuah ajakan agar para suster terus berjalan dalam panggilan dengan hati yang teguh, rendah hati, dan penuh syukur. (Samuel)