IBIZA, ESPAÑA — Kemartiran mereka pernah menyisakan duka mendalam bagi keuskupan setempat. Peristiwa itu merenggut hampir separuh dari total jumlah imam yang ada pada masa itu. Kini, Gereja Katolik secara resmi mengakui pengorbanan mereka.
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Paus Leo menyetujui dekrit beatifikasi 20 imam projo (diosesan) dari kepulauan Ibiza dan Formentera, Spanyol. Mereka gugur dibunuh pada musim panas 1936 selama Perang Saudara Spanyol.
Upacara beatifikasi berlangsung dengan penuh khidmat di Katedral Perawan Maria dari Salju (Cathedral of the Virgin of the Snows) di Ibiza, dipimpin oleh Kardinal Marcello Semeraro, Prefek Dikasteri Penggelaran Kudus. Pesta liturgis bagi para beato baru ini ditetapkan setiap tanggal 6 November.
Ke-20 imam tersebut—yang terdiri dari pastor paroki, dosen seminari, dan pelayan pastoral, mewakili hampir setengah dari total klerus di keuskupan pada waktu peristiwa itu terjadi. Saat itu ada 53 imam bertugas di Keuskupan Ibiza, 20 di antaranya gugur hanya dalam rentang waktu beberapa minggu.
Kekerasan Revolusioner
Pada musim panas 1936, Ibiza dan Formentera jatuh ke tangan pasukan Republik. Setelah itu, teror kekerasan secara sistematis melanda selama 37 hari. Tujuan aksi kekerasan itu tak lain untuk menghapuskan seluruh kehidupan Katolik di kepulauan tersebut. Segala bentuk ibadat dan pelayanan sakramen dilarang keras. Gereja-gereja dijarah, serta benda-benda suci dibakar.
Para imam ditangkap satu per satu, sebagian besar antara tanggal 7 Agustus hingga 11 September. Mereka ditahan di penjara-penjara darurat sebelum akhirnya dipindahkan ke Benteng Ibiza.
Pada 13 September, menyusul aksi pengeboman yang menewaskan sekitar dua lusin warga kota, perintah eksekusi mati dikeluarkan bagi seluruh tahanan. Pembantaian massal pun terjadi di dalam benteng tersebut. Jenazah para korban sempat dibiarkan tanpa dimakamkan sebelum akhirnya dipindahkan ke pemakaman umum untuk diidentifikasi secara resmi.
Pada 29 Oktober 1940, kerangka para martir tersebut dipindahkan secara khidmat ke Katedral Ibiza, tempat mereka beristirahat hingga hari ini. Proses beatifikasi secara tegas mencatat bahwa satu-satunya alasan penangkapan dan pembunuhan 20 martir itu karena mereka sebagai imam Katolik. Seluruh kesaksian menyimpulkan hal yang sama: tidak ada motif politik lain di baliknya.
Gugur Dua Bulan Setelah Tahbisan
Sosok utama dalam berkas beatifikasi ini adalah Beato Juan Torres Torres, yang juga merupakan imam termuda dalam kelompok tersebut. Ditahbiskan menjadi imam pada 6 Juni 1936, ia ditangkap dan dibunuh pada 7 Agustus—hanya dua bulan setelah tahbisannya.
Saat itu, Pastor Juan baru saja ditugaskan di Pulau Formentera. Ia menghindari segala keterlibatan politik dan tidak memihak faksi mana pun. Ia wafat semata-mata karena identitasnya sebagai “pastor desa”, sebagaimana ia dikenal oleh warga setempat.
Ketika vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya, Juan berseru teguh: “Hiduplah Kristus Raja!” Seruan iman itu menjadi simbol perlawanan umat Kristen terhadap paham ateisme militan para algojonya. Setelah dieksekusi, jenazah Pastor Juan dibuang ke laut.
Kisah keteguhan iman serupa juga dialami oleh para imam lainnya. Pastor Antonio Tur Costa ditangkap dan dibunuh bersama ayah dan salah satu saudaranya. Ia sempat ditawari pengampunan nyawa jika bersedia meragukan imannya atau menghujat Tuhan, namun ia menolak tegas.
Pastor Antonio Roig Guasch disiksa di dalam penjara sebelum akhirnya ditembak mati karena para algojo khawatir ia akan dibebaskan oleh pengadilan revolusioner.
Pastor José Tur Bennassar yang berusia 77 tahun ketika ditangkap. Ia dipindahkan ke benteng pada malam 13 September. Sosok imam lain, Pastor Miguel Planells Tur juga gugur dalam peristiwa kemartiran ini pada usia 70 tahun.
Pengampunan dan Pengakuan
Keyakinan masyarakat lokal akan kemartiran 20 imam ini sudah tertanam sejak hari pertama mereka gugur, namun, proses formal menuju beatifikasi membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Ada penundaan selama puluhan tahun dengan alasan demi proses rekonsiliasi.
Di sebuah pulau kecil tempat semua orang saling mengenal—di mana keluarga korban dan pelaku hidup berdampingan—Gereja memilih jalan pengampunan dan keheningan daripada menuntut keadilan yang berpotensi membuka kembali luka lama.
Proses beatifikasi dimulai pada November 2008, ketika dekret pembukaan resmi proses beatifikasi ditandatangani. Penelitian sejarah selama bertahun-tahun dan pengumpulan puluhan kesaksian akhirnya membuahkan hasil pada Misa Beatifikasi 17 Oktober ini.
Nama-nama mereka kini resmi tercatat dalam Buku Para Beato: Juan Torres Torres, Antonio Tur Costa, Antonio Roig Guasch, José Tur Bennassar, Miguel Planells Tur, José Ramón Escandell, Joaquín Cirer Sala, José Riera Bonet, Antonio Cardona Vingut, José Torres Torres, Mariano Roig Marí, José Ferrer Guasch, Antonio Marí Torres, Ignacio Serra Riera, Antonio Ramón Orvay, Mariano Escandell Roig, Miguel Riera Bonet, Andrés Tur Tur, José Tur Ferrer, dan José Serra Ribas.
