PenaKatolik.Com | Ketika Mesin Makin Cerdas, untuk Apa Universitas Berdiri? Hari Studi APTIK 2026 mengajak perguruan tinggi Katolik Indonesia meninjau kembali identitas, cara mendidik manusia, dan keberlanjutan institusi di tengah perkembangan kecerdasan artifisial.
Mesin kini dapat membantu manusia berpikir, menganalisis, merangkum informasi, bahkan menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Pekerjaan intelektual yang dahulu membutuhkan waktu panjang dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Di tengah perubahan itu, perguruan tinggi menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana yakni jika mesin semakin mampu menjawab banyak hal, apa yang masih harus dipelajari manusia di universitas?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok refleksi dalam Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) 2026 yang berlangsung di Novotel Pontianak Convention Center, Kalimantan Barat, pada 22–24 Oktober 2026.
Mengusung tema “Transformasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia untuk Memperkuat Identitas, Tata Pamong, dan Keberlanjutan di Era Akal Imitasi”, pertemuan ini mempertemukan para pimpinan yayasan dan perguruan tinggi Katolik untuk membicarakan masa depan pendidikan tinggi di tengah perubahan teknologi, persaingan antarlembaga, dan tekanan pembiayaan.
Di balik pembahasan mengenai strategi kelembagaan, ada persoalan yang lebih mendasar yaitu bagaimana perguruan tinggi tetap menjadi tempat pembentukan manusia ketika teknologi semakin mampu mengambil alih pekerjaan yang selama ini dianggap sebagai keunggulan manusia?
Ketua APTIK, Johanes Eka Priyatma, Ph.D., menyebut perguruan tinggi sedang berada di persimpangan jalan. Menurut dia, dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir, kemajuan teknologi telah memasuki wilayah yang sebelumnya menjadi ranah utama kaum terdidik, yakni menggagas, berpikir, menganalisis, dan mengambil kesimpulan.
“Teknologi ini bisa melakukan itu, bahkan dalam arti tertentu, lebih komprehensif, lebih cepat, dan lebih bisa melibatkan data yang sangat banyak,” ujarnya dalam wawancara dengan awak media, 22 Oktober 2026.
Perubahan tersebut tidak hanya menyentuh metode pembelajaran. Ia menantang kembali pengertian tentang pengetahuan, kompetensi, dan tujuan pendidikan tinggi.

Pendidikan tidak berhenti pada jawaban
Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan, mempelajari teori, menganalisis persoalan, dan menyusun kesimpulan. Dosen membimbing proses itu melalui perkuliahan, penelitian, dan diskusi akademik.
Kehadiran kecerdasan artifisial mengubah sebagian proses tersebut. Mahasiswa kini dapat meminta mesin menjelaskan konsep, membandingkan teori, merangkum buku, atau membantu menganalisis data. Kemampuan teknologi akan terus berkembang, meskipun hasilnya tetap perlu diperiksa dan dinilai secara kritis.
Karena itu, menurut ketua APTIK, perguruan tinggi perlu menata ulang kurikulum, menyiapkan sumber daya manusia, dan merumuskan kembali kompetensi lulusan.
“Persoalannya bukan lagi membantu mahasiswa mengatasi atau mengetahui sesuatu, tapi sudah bergeser bagaimana lulusan itu harus mampu bekerja sama dengan mesin,” katanya.
Pergeseran ini membawa konsekuensi bagi dunia pendidikan. Jika mahasiswa hanya dilatih untuk menemukan jawaban, mereka mungkin akan bersaing dengan mesin dalam bidang yang semakin dikuasai teknologi. Sebaliknya, jika pendidikan membangun kemampuan merumuskan pertanyaan, menilai kebenaran, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil tanggung jawab, mahasiswa memiliki bekal yang lebih kuat untuk menggunakan teknologi secara bijaksana.
Johanes menyoroti pentingnya kemampuan berpikir, bertanya, bertanggung jawab, dan bekerja secara etis. Teknologi perlu digunakan untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan seluruh proses berpikir dan pengambilan keputusan.
“Jadi AI bukan lagi memperkuat kapasitas mahasiswa untuk menjawab persoalan, tetapi mengalihkan kemampuan itu kepada mesin,” ujarnya.
Peringatan tersebut menyentuh inti pendidikan yakni pengetahuan tidak identik dengan kebijaksanaan. Seseorang dapat memperoleh jawaban yang benar, tetapi tetap perlu memahami mengapa jawaban itu penting, bagaimana menggunakannya, dan siapa yang menanggung akibat dari keputusan yang diambil.
Di sinilah perguruan tinggi memiliki pekerjaan yang tidak dapat diserahkan begitu saja kepada teknologi. Universitas harus membentuk manusia yang tidak hanya mampu menggunakan perangkat, tetapi juga sanggup menilai tujuan penggunaannya.
Persaingan bukan satu-satunya ukuran
Tantangan perguruan tinggi Katolik tidak berhenti pada perubahan teknologi. Sebagai bagian dari perguruan tinggi swasta, institusi-institusi tersebut juga menghadapi persoalan persaingan, keterbatasan sumber daya, dan keberlanjutan keuangan.
Ketua APTIK, Johanes Eka Priyatma menjelaskan bahwa perguruan tinggi swasta menghadapi tekanan dalam memperoleh mahasiswa, sementara biaya pendidikan masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Di sisi lain, ketergantungan pada uang kuliah membuat banyak institusi rentan terhadap perubahan jumlah mahasiswa dan meningkatnya biaya operasional.
Dalam konteks tersebut, dia mengajak anggota APTIK untuk tidak semata-mata menempatkan perguruan tinggi negeri sebagai pesaing.
“Anggota APTIK harus bisa menjadi komplement, dan bukan kompetitor dari PTN,” tegasnya.
Dia menambahkan bahwa perguruan tinggi swasta perlu mengisi ruang pelayanan dan bidang pendidikan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi perguruan tinggi negeri, artinya setiap institusi harus mengenali kekhasan dan kontribusinya sendiri.
Bagi perguruan tinggi Katolik, kekhasan itu tidak cukup berupa sejarah pendirian atau simbol keagamaan. Identitas perlu hadir dalam kualitas pendidikan, budaya akademik, pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan keberanian menjawab kebutuhan masyarakat.
Keunggulan tidak harus berarti menjadi yang terbesar. Keunggulan juga dapat berarti menjadi institusi yang memahami persoalan lingkungan sekitarnya, mendidik mahasiswa secara bermutu, dan memberikan kontribusi yang jelas bagi kehidupan bersama.
Pandangan ini menjadi penting ketika perguruan tinggi dihadapkan pada tuntutan untuk terus meningkatkan jumlah mahasiswa, memperkuat reputasi, dan mencari sumber pendapatan baru. Keberlanjutan finansial memang diperlukan, tetapi pertanyaan mengenai tujuan institusi tidak boleh tersisih oleh kebutuhan untuk bertahan.
Identitas yang harus terasa dalam kehidupan akademik
Rangkaian pembukaan Hari Studi APTIK 2026 diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Minister Provinsial Kapusin Pontianak, Pater Faustus Bagara Darmawan, OFMCap.
Dalam homilinya, pendidikan direfleksikan sebagai proses yang membantu manusia bergerak dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari keterpecahan menuju keutuhan, dan dari kekacauan menuju keteraturan. Dalam perspektif iman Kristiani, pendidikan tidak hanya bertujuan memperluas kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang berakar pada Kristus dan kasih.
Refleksi tersebut memberi dasar spiritual bagi pembicaraan mengenai transformasi. Perguruan tinggi Katolik dapat memperbarui metode pengajaran, mengadopsi teknologi, dan mengembangkan sistem pengelolaan. Namun, pembaruan itu perlu tetap diarahkan pada pembentukan manusia yang utuh.
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Widya Dharma Pontianak, Polycarpus Widjaja Tandra, S.H., M.M., turut menekankan bahwa pendidikan Katolik perlu memadukan keunggulan intelektual dengan integritas, karakter moral, belas kasih, dan pelayanan.
Dalam sambutannya, dia mengangkat pemikiran Konfusius tentang belajar dan mempraktikkan pengetahuan. Gagasan itu mengingatkan bahwa pembelajaran tidak selesai ketika seseorang memahami suatu teori. Pengetahuan perlu diwujudkan dalam perilaku, relasi, dan tanggung jawab.
Sementara itu, Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak sekaligus Ketua Panitia Hari Studi APTIK 2026, Dr. M. Hadi Santoso, S.E., M.M., menyambut kehadiran para peserta dari berbagai daerah. UWDP memperoleh kepercayaan menjadi tuan rumah pertemuan nasional tersebut, yang diikuti sekitar 86 peserta dari 26 yayasan dan 27 perguruan tinggi Katolik, berdasarkan data panitia.
Dari rangkaian pembukaan itu, muncul satu benang merah yaitu transformasi tidak cukup dipahami sebagai perubahan sistem. Ia harus menyentuh manusia yang menjalankan sistem tersebut, nilai yang membimbing keputusan, dan tujuan yang hendak dicapai.
Jangan berubah dengan kehilangan jiwa
Sekretaris Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RP Antonius Vico Christiawan, S.J., yang hadir mewakili Ketua Komisi Pendidikan KWI, Mgr. Fransiskus Nipa, mengingatkan bahwa transformasi perlu berjalan seiring dengan kesetiaan pada identitas.
“Transformasi tentu diperlukan. Namun, jangan sampai kita berubah dengan kehilangan jiwa dan identitas kita sendiri,” tegasnya.
Pesan itu menjadi relevan ketika institusi pendidikan menghadapi tekanan untuk bergerak cepat. Perubahan teknologi, tuntutan mutu, persaingan mahasiswa, dan kebutuhan pembiayaan dapat mendorong perguruan tinggi mengambil berbagai keputusan strategis. Akan tetapi, tidak semua perubahan otomatis membawa kemajuan apabila tidak disertai penilaian terhadap tujuan dan dampaknya.
Bagi Romo Vico, identitas Katolik perlu tercermin dalam kepemimpinan, tata kelola, budaya akademik, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pelaksanaan misi pendidikan. Identitas bukan sekadar nama atau simbol, melainkan prinsip yang memengaruhi bagaimana institusi mengambil keputusan dan memperlakukan orang-orang di dalamnya.
Perguruan tinggi Katolik juga merupakan bagian dari ekosistem pendidikan Gereja yang lebih luas. Karena itu, hubungan dengan sekolah-sekolah Katolik dan lembaga pendidikan lainnya perlu diperkuat agar misi pendidikan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Perspektif ini menempatkan transformasi sebagai proses yang memiliki arah. Institusi tidak sekadar bertanya tentang apa yang harus diubah, tetapi juga apa yang perlu dipertahankan dan nilai apa yang harus menjadi dasar perubahan.
Tata pamong menentukan kemampuan berubah
Hari Studi APTIK 2026 juga memberi perhatian pada hubungan antara kepemimpinan, tata pamong, dan keberlanjutan kelembagaan. Transformasi membutuhkan pembagian kewenangan yang jelas, kepemimpinan yang terbuka terhadap evaluasi, serta tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Dalam perguruan tinggi swasta, hubungan antara yayasan sebagai badan penyelenggara dan pimpinan perguruan tinggi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Arah strategis, pengembangan akademik, pengelolaan sumber daya, dan pengambilan keputusan perlu berjalan dalam koordinasi yang sehat.
Pembahasan mengenai pengalaman perguruan tinggi lain memperkaya refleksi tersebut. Prof. Tri Basuki Joewono dari Universitas Katolik Parahyangan membahas perubahan lanskap pendidikan tinggi di era akal imitasi. Prof. Achmad Nurmandi, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, berbagi pengalaman mengenai hubungan antara nilai dasar pendirian universitas, budaya organisasi, dan keunggulan institusi. Sementara itu, Dr. Iskandar Itan dari Universitas Internasional Batam mengangkat kepemimpinan transformasional, inovasi, jejaring internasional, dan diversifikasi sumber pendapatan.
Pengalaman-pengalaman itu memberikan bahan pembelajaran bagi anggota APTIK untuk menilai strategi yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing institusi.
Di sisi lain, keberlanjutan finansial perlu dibangun tanpa menggeser misi pendidikan menjadi semata-mata kegiatan ekonomi. Penelitian, layanan keahlian, pelatihan profesional, kemitraan industri, filantropi, dan inovasi kelembagaan dapat menjadi sumber pengembangan institusi, selama dikelola secara bertanggung jawab dan mendukung kualitas pendidikan.
Dengan demikian, tata pamong bukan sekadar perangkat administratif. Tata pamong menentukan apakah nilai yang diyakini institusi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi keputusan, program, dan hasil yang dapat dirasakan.
Refleksi untuk tindakan
Hari Studi APTIK 2026 dirancang agar diskusi tidak berhenti pada gagasan. Para pimpinan yayasan dan perguruan tinggi diharapkan mengevaluasi kondisi institusi masing-masing dan menyusun rancangan awal Institutional Transformation Action Plan yang memuat tiga hingga lima prioritas strategis, program tindak lanjut, penanggung jawab, indikator keberhasilan, dan tahapan pelaksanaan.
Empat perhatian utama menjadi bahan refleksi, relevansi dan kekhasan perguruan tinggi Katolik, kesiapan kepemimpinan dan tata pamong, strategi pengembangan serta keberlanjutan, dan komitmen melaksanakan perubahan secara nyata.
Kolaborasi antarlembaga juga menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Perguruan tinggi dapat saling memperkuat dalam penelitian, pengembangan keunggulan akademik, pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan kemitraan nasional maupun internasional.
Bagi Johanes Eka Priyatma, perguruan tinggi tidak bisa menunggu sampai seluruh perubahan selesai terjadi untuk menentukan sikap. Mereka perlu mengenali tantangan, memahami kapasitas sendiri, dan mengambil keputusan sejak sekarang.
“Karena itu, kita harus mengambil sikap mulai dari sekarang, mengenali apa yang bisa kita lakukan, dan itu yang akan menjadi tujuan dari Hari Studi APTIK ini,” ujarnya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kecerdasan buatan membawa perguruan tinggi kembali kepada pertanyaan tentang manusia. Mesin mungkin semakin mampu mengolah data, menghasilkan jawaban, dan membantu menyelesaikan pekerjaan. Namun, pendidikan tetap perlu membentuk manusia yang dapat mempertimbangkan makna, mengambil tanggung jawab, dan menggunakan pengetahuan demi kehidupan bersama.
Bagi perguruan tinggi Katolik, tantangannya bukan memilih antara identitas dan inovasi. Tantangannya adalah menjadikan identitas sebagai dasar untuk berinovasi, sekaligus memastikan bahwa kemajuan teknologi, mutu akademik, dan keberlanjutan institusi tetap mengarah pada martabat manusia.
Sebab, ketika mesin semakin cerdas, universitas justru ditantang untuk semakin memahami apa artinya menjadi manusia.*(Samuel)